Thursday, August 18, 2016

Sail Morotai Ya! Indonesia-ku memang kaya



Sail Morotai
Ya! Indonesia-ku memang kaya



Oleh
TEGUH HERIYANTO
0904121598
ILMU KELAUTAN








FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2012



Tidak banyak pemuda Indonesia yang tahu bahwa Indonesia merupakan negara dengan hamparan laut yang luas dan ditaburi pulau-pulau. Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara terdiri dari 17.508 pulau besar dan pulau kecil yang menyebar disekitar khatulistiwa, yang memberikan cuaca tropis dan memiliki garis pantai 81.000 km, serta luas laut terbesar di dunia yaitu 5,8 juta km2. Belum lagi sumber daya alam yang terkandung di dalamnya, seperti tidak pernah habis untuk menghidupi kita semua.
Namun bagi para pemuda, informasi tadi hanyalah sekedar literatur belaka yang sering kami baca. Karena kami hanya dapat melihatnya dari televisi, video, gambar-gambar dan berita dari internet. Hal ini dikarenakan mayoritas penduduk Indonesia hidup dalam keadaan ekonomi menengah ke bawah, sehingga banyak yang berpikir untuk mengenal Indonesia lebih luas, seperti liburan atau berpergian keluar kota agak mustahil dilakukan. Dengan asumsi bahwa untuk kehidupan sehari-hari saja sulit apalagi berpergian, sehingga kebanyakan masyarakat Indonesia termasuk para pemuda, jarang keluar dari lingkungan tempat tinggalnya alias “tidak pernah kemana-mana”.
Hal ini mengakibatkan demografi beberapa daerah di Indonesia cendrung homogen, sehingga lebih menumbuhkan rasa cinta terhadap daerahnya yang berakhir pada munculnya rasa sukuisme yang kuat dari pada rasa nasionalisme yang membara-bara. Laut Indonesia luas? Pertanyaan ini mungkin saja terlontar dari beberapa pemuda karena faktanya masih ada pemuda yang belum pernah melihat laut negerinya. Mungkin karena letak geografi tempat tinggal yang sangat-sangat jauh dari laut, daratan rendah yang dikelilingi bukit-bukit dan lain-lain.
Tidak hanya itu, banyak juga pemuda yang berorientasi kepada kehidupan di daratan, salah satu bukti terdekatnya adalah mayoritas pemuda yang masuk menjadi mahasiswa di Universitas dimanapun, lebih memilih berkuliah di jurusan-jurusan yang prospek kerjanya berada di darat dari pada di laut. Sedangkan sangat sedikit sekali pemuda yang menjadi mahasiswa yang memilih jurusan kelautan atau peerikanan. Oleh karena itu, terkadang kita pun tak heran mengapa laut kita yang luas tidak banyak yang tahu, bahkan yang paling menyedihkan laut kita terabaikan.
Sail Morotai. Ya, ini mungkin merupakan salah satu jawaban dari pemerintahku untuk membuka mata para pemuda untuk melihat Indonesia dari dekat dan lebih nyata. Pemerintah telah menyelenggarakan Sail sejak tahun 2009, dimulai dengan Sail  Bunaken 2009, Sail Banda 2010, dan Sail Wakatobi - Belitong 2011. Selama penyelenggaraan sail tersebut, semua berjalan dengan baik dan sukses serta memberikan dampak positif yang cukup signifikan bagi daerah. Oleh karena itu penyelenggaraan Sail terus dilanjutkan.
Berdasarkan Keppres No. 4 Tahun 2012, Pulau Morotai yang terletak di Provinsi Maluku Utara ditetapkan Pemerintah sebagai lokasi pelaksanaan Sail pada tahun 2012. Pulau Morotai yang seringkali disebut sebagai “East Indonesia Paradise”, merupakan pesona kecantikan timur Indonesia dengan daya tarik wisata alam bahari yang sangat mempesona serta keragaman dan keunikan biota laut.
Selain itu Morotai sering juga disebut sebagai Morotai The Memory Island (Morotai Pulau Kenangan), karena pada saat Perang Pasifik (Perang Dunia II), Morotai dua kali mengalami pendudukan tentara asing. Jepang pada 1942 di bawah pimpinan Jenderal Kawashima, serta tentara Sekutu pada 1944 di bawah komando Jenderal Douglas McArthur. Lokasi Pulau Morotai yang strategis di Samudera Pasifik dapat dijadikan sebagai pintu masuk negara-negara Asia Pasifik, dan diharapkan akan menjadi salah satu tujuan wisata bahari sekaligus wisata sejarah Perang Dunia II yang menjanjikan.
Beberapa kegiatan inti penyelenggaraan Sail Morotai 2012 antara lain : Yacht Rally; Bakti Sosial dan Pelayanan Kesehatan yang terdiri dari Operasi Surya Bhaskara Jaya, Operasi Bhakti Kartika Jaya, dan Operasi Bhakti Pelangi Nusantara; Lintas Nusantara Remaja dan Pemuda Bahari (LNRPB); Acara Puncak, Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan di dalam air dan di pulau terdepan.
Dan kami para pemuda berpartisipasi dalam kegiatan LNRPB/KPBN. Kegiatan Kapal Pemuda Nusantara (KPN) serta pelayaran Lintas Nusantara Remaja dan Pemuda Bahari (LNRPB) III Sail Morotai Tahun 2012 dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kecintaan pemuda terhadap Tanah Air, meningkatkan wawasan kebangsaan dan nasionalisme, mengubah mind-set bangsa yang bercorak kontinental-agraris menjadi maritim, mengembangkan jiwa wirausaha dan industri kebaharian di kalangan pemuda, meningkatkan persaudaraan dan kerja sama di kalangan pemuda.
Pada kegiatan ini juga diselenggarakan upaya mempersiapkan generasi muda menjadi garda terdepan membangun negara maritim. Jika bangsa Indonesia ingin maju, maka harus mengubah mind-set bangsa yang bercorak kontinental-agraris menjadi maritim. Sehubungan hal tersebut perlu diperkenalkan kembali tentang konstelasi geografi dan geostrategi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.
Beberapa aspek yang  diangkat untuk diperkenalkan kepada para pemuda peserta pelayaran Kapal Pemuda Nusantara (KPN) dan Lintas Nusantara Remaja dan Pemuda (LNRPB) Sail Morotai 2012 antara lain potensi kekayaan laut, matra Laut sebagai media penghubung dan komunikasi (Sea Line of Communication/SLoC), Industri dan Jasa Maritim.
Dalam rangka Sail Morotai 2012, TNI Angkatan Laut mengerahkan KRI Surabaya-591 untuk mendukung kegiatan Lintas Nusantara Remaja dan Pemuda Bahari (LNRPB) serta pelayaran Kapal Pemuda Nusantara (KPN),  yang telah berlayar dari Jakarta melalui rute  Ambon  –  Sorong   –  Raja Ampat  – Ternate – Morotai – Makassar – Jakarta, mulai tanggal 28 Agustus s.d. 23 September 2012. Kegiatan diakhiri dengan Upacara Penutupan yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 September 2012.
Lintas Nusantara Remaja dan Pemuda Bahari (LNRPB)  serta pelayaran Kapal Pemuda Nusantara diikuti 423  peserta perwakilan dari daerah atau provinsi seluruh Indonesia yang terdiri dari Pelajar, Mahasiswa, Organisasi Kepemudaan, Pramuka, Pondok Pesantren, Karang Taruna, Pemuda perwakilan Kementerian dan perwakilan negara-negara sahabat di wilayah Asia Tenggara.
Selama  pelayaran telah diselenggarakan ceramah, diskusi, games, workshop dan praktek lapangan dengan materi  pembentukan karakter pemuda, wawasan kebangsaan, cinta tanah air, kemaritiman, kepemimpinan serta kewirausahaan.
 Materi-materi yang diberikan di atas kapal memberikan kami ilmu yang membangkitkan semangat jiwa kebaharian kami dan rasa nasionalisme yang mampu menggerus rasa sukuisme yang mungkin ada di diri peserta-peserta lain dan yang mungkin baru saja merasakan Indonesia. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena kapal KRI Surabaya – 591 ini seperti miniatur Indonesia, dimana semua peserta “dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote” berkumpul menjadi satu kesatuan dan memang suasananya menggambarkan ini lah Indonesia.
Tidak hanya itu, setiap setelah selesai menerima materi di malam hari. Aku dan peserta lainnya disuguhkan penampilan-penampilan yang memukau kami semua, yakni tarian-tarian daerah, lagu-lagu daerah dan segala kesenian daerah yang dibawakan oleh teman-teman dari provinsi yang berbeda. Yang terpikir oleh ku adalah betapa luar biasanya Indonesia. Bagaimana bisa bangsa yang begitu majemuk bisa menjadi satu?.
Dari materi yang ku dapat bahwa rasa senasip sepenanggungan dalam melawan penjajah lah yang akhirnya mampu mengalahkan ego apapun yang ada. Walaupun beragam kita, tumpah darah Indonesia. Bermacam-macam suku bangsa kita, tapi semua itu telah menjadi satu, bangsa Indonesia. Walaupun berbeda bahasa kita, tapi itu semua menjadi satu, bahasa Indonesia. Itu lah akhirnya yang disebut Sumpah Pemuda.

Ketika kapal bersandar di pelabuhan, kami semua disambut oleh pemerintah daerah dimana kapal kami bersandar. Daerah tempat kapal bersandar pertama kali dalam pelayaran adalah Ambon. Disana kami disambut oleh Gubernur Maluku dan Kepala LANTAMAL IX beserta unsur muspida lainnya. Sempat kami melakukan diskusi dan tanya jawab disana. Dan ada sebuah statement dari salah satu narasumber adalahAmbon adalah negeri yang aman, orang Ambon diibaratkan seperti pohon sagu, yakni pohon sagu itu jika dilihat dariluar sangat keras namun ketika dibuka isi di dalamnya sangat lembut seperti tepung. Agenda kami selama di Ambon diisi dengan kegiatan mengunjungi beberapa tempat yang ada di Ambon, seperti Museum Kelautan, Pantai Natsepa dan Gong Perdamaian sekaligus “Pesiar”.
Selanjutnya bersandar di Kota Sorong, agenda diisi dengan gerak jalan santai, menanam pohon. Yang aku temukan ketika berada disana, sungguh betapa ramah dan bersahabatnya warga di Papua, bahkan belum pernah aku menemukan orang yang polos dan ramah seperti mereka. Tidak hanya orangnya yang ramah, alam yang membentang di tanah Papua seperti dilukisan pemandangan alam. Hanya dua kata yang ku ucapkan, biru dan hijau. Biru untuk lautnya dan hijau untuk hamparann bukit dan hutannya. Di atas bukit-bukit yang aku lalui, di dalam hati hanya ingin mengatakan sungguh ini adalah ciptaan terindah dari maestro yang Maha Daya.
Setelah kegiatan jalan santai, menanam pohon dan kemudian dilanjutkan dengan Shalat Jum’at. Perjalanan di Sorong dilanjutkan ke tempat perlombaan tarian daerah, dimana banyak sekali saudara-saudara kami dari Papua yang menggunakan pakaian daerahnya. Kedatangan kami disana disambut dengan hangat, seperti mereka menyambut saudaranya yang dari jauh pulang.
Perjalanan berikutnya adalah tujuan yang ditunggu-tunggu semua orang. Ya, itu adalah Kepulauan Raja Ampat. Disana kami bersandar dengan kapal yang lebih kecil. Ketika bersandar, tidak membutuhkan waktu yang lama, sepertinya tubuh ini berkata pertemukan diriku dengan air laut di Kepualauan Rajaa Ampat ini. Dan ya, sebentar saja kami langsung berenang menikmati alam yang ada disana, dimana tempat itu merupakan tempat impian setiap orang untuk bisa mengunjunginya. Terumbu karangnya yang indah, itu lah alasan mengapa orang dari seluruh dunia pun berharap dapat kesana.
Tujuan selanjutnya adalah Kota Ternate. Disana kami sempat berkunjung ke Benteng Kalamata, Istana Kesultanan Ternate dan Homestay di rumah warga. Aku mendapatkan lokasi homstay di Kelurahan Tabam. Ibu angkat ku bernama Ibu Ida. Di rumah itu aku bersama temanku Bram dari Papua dianggap seperti anaknya sendiri. Sifat keibuan Ibu Ida membuat rasa rindu kami kepada orang tua kami di rumah sedikit terobati.
Pagi harinya, agenda dilanjutkan dengan jalan santai sampai ke Batu Hangus (nama sebuah tempat). Wow!!! Sungguh luar biasa apa yang kami lihat, tidak hanya Gunung Gamalama yang berdiri dengan kokohnya tetapi juga pemandangan yang dibentuk oleh Batu Hangus seperti sebuah karya ukiran sang maestro ternama. Setelah dari Batu Hangus, agenda selanjutnya adalah menanam bibit pohon di pinggir jalan bersama-sama dengan teman-teman peserta dan masyarakat sekitar yang juga turut antusias dengan kegiatan menanam pohon.
2 hari 1 malam adalah waktu yang sangat singkat yang harus kami lalui di Kota Ternate. Saat berpisah dengan orang tua angkat ku, kami sempat diberi bekal yang harus kami bawa pulang. Pemberian ini adalah pemberian yang mustahil kami tolak. Karena bekal yang disiapkan untuk kami merupakan bbekal yang mereka buat dengan penuh rasa cinta dan keikhlasan dari seorang Ibu kepada anakanya. Perpisahan itu sempat membuat ku sedih, karena di rumah itu aku dianggap seperti anaknya sendiri, bukan orang lain.
Perjalanan selanjutnya adalah Morotai. Tempat dimana acara puncak akan segera dilaksanakan. Banyak agenda yang aku lakukan beserta teman-teman adalah mengeksplorasi Morotai dengan berjalan kaki. Morotai kelihatan begitu ramai dimana hampir di setiap sudut kota ada saja aktivitas yang dilakukan. Pada acara puncak yang dihadiri oleh Bapak Presiden kita yakni Bapak Susilo Bambang Yudoyono, kami berada di Ring 3. Walaupun demikian hal tersebut tidak menyurutkan semangat kami untuk mensukseskan Sail Morotai. Memang tidak salah penempatan puncak acara di Morotai. Karena di Morotai terdapat banyak sekali tempat objek wisata, seperti Air terjun, pantai, Pulau Dodola, dan lain-lain, sehingga tak jarang kami berjumpa dengan wisatawan asing.
Perjalanan terakhir kami mengunjungi Kota Makassar. Disana seperti biasa sama di tempat-tempat lainnya kami disambut ketika bersandar di pelabuhan. Disana kami sempat ke Maros yang merupakan salah sautempat tujuan wisata yang digemari oleh wisatawan, karena ditempat itu terdapat museum kupu-kupu, air terjundan goa alam. Area perbukitan membuat udara disana terasa sangat sejuk dan nyaman. Hari esoknya, tujuan ku adalah mencicipi Coto Makassar dan berkunjung ke Pantai Losari. Dan hasilnya Wow!!! Seandainya semua kota di Indonesia berorientasi ke Luat, pasti kota-kota itu bisa sesejahtera Makassar.
Perjalanan pulang kemudian kami kembali ke Tanjung Priok, Jakarta. Setelah upacara penutupan dipimpin Bapak Menteri Pemuda dan Olahraga yakni Bapak Andi Malarangeng. Kami semua berpisah untuk kembali ke daerah kami masing-masing di liputi rasa sedih bercampur bahagia. Sedih karena harus berpisah dengan sahabat baru seperjalanan. Bahagia karena aku menyaksikan bahwa Ya, Indonesia ku memang kaya. Kaya alamnya, kaya Lautnya, kaya budayanya, kaya Istiadatnya, Kaya nilai sejarahnya, Kaya kermahannya dan Kaya Kasih Sayang dari Yang Kuasa. Allah SWT.




No comments:

Post a Comment