Friday, August 19, 2016

ARTEMIA

ARTEMIA





I.                   PENDAHULUAN

1.1.            Latar belakang

Artemia merupakan pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias air tawar karena ukurannya yang sangat kecil. Disamping ukurannya yang kecil, nilai gizi Artemia juga sangat tinggi dan sesuai dengan kebutuhan gizi untuk larva ikan dan krustacea yang tumbuh dengan sangat cepat. Sampai saat ini Artemia sebagai pakan alami belum dapat digantikan oleh pakan lainnya.
Artemia biasanya diperjual belikan dalam bentuk kista/cyste, sehingga sebagai pakan alami Artemia merupakan pakan yang paling mudah dan praktis, karena hanya tinggal menetaskan kista saja. Akan tetapi, menetaskan kista Artemia bukan suatu hal yang dengan begitu saja dapat dilakukan oleh setiap orang. Sebab membutuhkan suatu keterampilan dan pengetahuan tentang penetasan itu sendiri. Kegagalan dalam menetaskan kista Artemia barakibat fatal terhadap larva ikan yang sedang dipelihara.

1.2.            Tujuan dan manfaat

Tujuan dari pembuatan  makalah ini adalah untuk menjelaskan peran Artemia sebagai pakan alami dalam aspek bioteknologi. Mendeskripsikan secara umum mengenai Artemia, serta teknik penetasan Artemia. Selain itu, pembuatan makalah ini juga bertujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan kepada Mahasiswa  sebagai syarat UAS.
Sedangkan manfaat dari penulisan makalah ini adalah agar dapat menjadi salah satu bahan bacaan yang dapat memperluas cakrawala bagi pembaca.
















II.                ISI

2.1.            Pakan alami

Pakan Alami adalah segala bahan makanan yang tersaji dan berasal langsung dari alam. Contoh: Silase atau daun-daunan adalah makanan alaminya ternak (di darat). Fitoplankton dan zooplankton adalah makanan alaminya ikan (di air). Pakan alami, terdiri atas :

 Pakan Segar (fresh feed atau frozen feed). Adalah pakan segar dan beku dari freezer dimana bentuknya tidak berubah seperti keadaan hidup. Misalnya fito maupun zooplankton beku serta ikan atau udang-udangan beku dll.

 Pakan Hidup (live food). Adalah pakan yang diberika dalam keadaan masih hidup ketika diberikan kepada hewan kultivan. Pakan ini bisa dibiakkan bersama-sama dengan kultur kultivan tapi juga bisa dibiakkan terpisah. Misal: fitoplankton Chlorella sp atau zooplankton Brachionus sp atau Artemia sp sebagai pakan yang dibiakkan bersama-sama dengan larva ikan laut dan udang.

2.1.1.       Syarat-syarat pakan alami

Ada beberapa persyaratan sebuah bahan pakan bisa dipakai dalam
budidaya. Syarat-syarat tersebut adalah:
o Bergizi (nutritious)
o Tidak beracun (non-toxics)
o Mudah ditelan (ingestible)
o Mudah dicerna (digestible)
o Tekstur partikel kompak (intact dan water stability tinggi)
o Ukurannya (diameter) sesuai usofagus kultivan
o Bentuknya sesuai target kultivan
o Mudah dilihat, menarik dan disukai (visible. attractive dan Palatable)
o Murah harga dan proses membuatnya (affordable)
o Mudah didapat (available)
Sementara itu pakan harus memenuhi syarat sesuai kebutuhan kultivan dalam masa-masa perkembangannya. Syarat-syarat tersebut menyangkut tentang:
1.    Amount or density of food (jumlah atau densitas pakan)
Adalah jumlahnya atau kuantitas pakan yang dibutuhkan oleh kultivan sesuai dengan perkembangannya. Pakan yang diberikan tidak sekedar mengenyangkan tetapi juga harus memenuhi syarat nutrisi. Contoh: densitas makanan untuk kultur larvae ikan laut berkisar antara 0.05 kopepoda per mL sampai 200 dinoflagellata per mL.
Secara nutrisi stadia awal pertumbuhan memerlukan kandungan protein relative lebih tinggi dibandingkan dengan stadia lanjut dimana nutrisi banyak difungsikan untuk pertahanan hidup. Ikan Nila (Tilapia nilotica) misalnya, jumlah pakan buatan yang diberikan berkisar 3% dari berat badannya (atau dari total berat ikan yang dipelihara) per hari. Frekuensi pemberian pakannya (feeding frequency) bisa diberikan 3 kali waktu feeding misalnya pagi, siang, dan sore.
Sementara itu, Lele (Clarias batrachus) jumlah pakan yang diberikan sebanyak 5-10% dari berat totalnya dengan frekuensi 3 kali sehari yakni pagi, siang, dan sore. Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) yang hidupnya omnifora dimana di stadia awal berukuran 1-10 cm makannya plankton, udang kecil, dan ikan kecil, maka setelah berukuran 20 cm hampir 70% perutnya diisi oleh udang-udangan dan 30%-nya ikan-ikan kecil. Pemberian pakan ikan ini tergantung pada ukurannya.
Untuk ikan dengan berat kurang dari 100 g diberi sebanyal 8-10% dari berat ikan yang dipelihari per hari, sedangkan untuk ikan dengan berat lebih dari 100 g sebanyak 3-4% dari berat total ikan yang dipelihara. Sedangkan frekuensi pemberian pakannya adalah 3-4 kali per hari sedangkan ikan besar bisa 2 kali per hari dilakukanpada saat setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.
Pada densitas pakan yang tinggi menyebabkan masalah pada kondisi suhu tinggi. Baik reproduksi pakan hidup, misal kopepoda atau mikroalgae, dan metabolisme, misalnya terjadi kenaikkan konsumsi oksigen dan produksi ammonia, semua biota hidup dalam tanki pemeliharaan akan naik.

2. Particle texture, Size and Shape (Tekstur butiran, ukuran dan bentuk)
Tekstur butiran pakan merupakan faktor penting sehingga pakan tetap terkontrol dalam keadaan stabil densitasnya (intact) dan terkontrol kandungan airnya. Stabilitas pakan dalam air (water stability of feed) menjadi hal penting sehingga pakan sampai pada sasarannya tanpa mengalami kerusakan yang mengurangi nilai nutrisinya. Ukuran rata-rata pakan buatan disesuaikan dengan diameter usofagus larva kultivan.
Kelemahan penggunaan pakan buatan biasanya terletak pada ketidak elastiknya pakan dibanding pakan hidup dan tidak kompatibelnya pakan setelah ditelan oleh kultivan. Padahal pakan harus bisa ditelan (ingestible), kemudian masuk dalam system pencernaan kultivan untuk dicerna (digestible). Ukuran dan bentuk pakan merupakan hal yang penting yang disesuaikan dengan jenis kultivan (menyangkut kebiasaan makan dan kebiasaan memakannya) dalam stadia hidupnya.
Kultivan yang secara alami hidupnya di dasar seperti udang atau lele, maka pakan yang disediakan harus pakan dengan bentuk yang sedemikian rupa sehingga mudah tenggelam dan bisa sampai di dasar. Untuk bisa sampai di dasar ini berarti pakan harus dibuat sedemikian rupa sehingga pakan tidak larut dan tidak hancur sampai di dasar dimana kultivan berada. Untuk itu diperlukan teknik formulasi pakan bila praktisi dihadapkan pada pilihan bahan pakan yang tidak banyak tersedia.
Sebaliknya, bagi kultivan yang hidupnya di permukaan air, maka pakan harus dibikin untuk tidak bisa tenggelam. Dilihat dari bentuknya, pakan bagi usia dini biasanya berbentuk tepung (powder atau dust), juvenile berbentuk remah (crumble), sedangkan dalam usia lanjut pakan berbentuk pellet (tubular) atau butiran (granule) tergantung dengan cara makan kultivan. Udang cara makannya dengan cara menggerogoti makanan di dasar perairan yang berbeda dengan ikan-ikan kecil yang makannya dengan cara langsung telan atau ikan karnivor besar yang cara makannya dengan mengoyak daging.
Beberapa metode yang dipakai untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan tekstur partikel adalah dengan memberikan komponen perekat (binder) sehingga pakan tetap dalam keadaan kompak. Bahan-bahan pakan yang bisa dipakai sebagai binder diantaranya adalah tepung kanji, terigu, sagu, dan agar-agar. Sementara itu, masalah yang dihadapi pada ukuran biasanya dilakukan dengan metode seizing dan homogenizing sehingga ukuran pakan dalam keadaan seragam.

3. Feeding Frequency
Kuantitas maupun kualitas bahan pakan yang dikonsumsi kultivan ditargetkan untuk memenuhi syarat gizi bagi pertumbuhannya. Frekuensi pemberian makanan tergantung kepada Gut Evacuation Time atau masa pengosongan lambung kultivan, kebiasaan  makan hewan kultivan.

4. Feeding Periodicity
Periode makan suatu kultivan berbeda satu sama lain. Ada yang makan pada periode gelap, ada yang  makan pada periode terang.

5. Feeding Habits
Cara makan biota berbeda-beda satu sama lain. Kebiasaan tersebut berkaitan dengan kebiasaan hidupnya. Udang yang hidupnya di dasar (demersal) akan makan di dasar dengan cara mengerat. Sementara itu ikan hiu memakan ikan lain dengan mengoyak dagingnya. Banyak ikan memakan dengan cara menelan langsung korbannya.

6. Food Habits
Kebiasaan makanan yang dikonsumsi oleh biota. Hal ini sesuai dengan kesukaannya terhadap jenis makanan tertentu (food preferences) seperti: particulate feeders, filter feeders, suspension feeder dan prey strikers. Berdasarkan variasi makanannya dibedakan sebagai makro atau mikro phytopahagous, zoo-planktivorous, detrivorous, molluscivorous, piscivorous dan sebagainya.

7. Feeding Rate
Kecepatan makan biota per satuan waktu tertentu.

8. Feeding Time
Waktu yang dibutuhkan biota untuk memakan jumlah tertentu makanan yang diberikan.

9. Feeding Schedule
Jadwal pemberian makanan kepada biota sesuai dengan kebutuhannya. Ada biota yang makan malam hari maka jadwal makannya harus dibuat malam hari. Demikian sebaliknya bila biota makannya pagi, siang atau sore hari. Pakan tersebut bisa diberikan secara manual tetapi juga bisa diberikan secara otomatis dengan alat automatic feeders.

10. Food atau  Feed Conversion Ratio (FCR)
Secara praktis diartikan sebagai jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg berat hewan kultivan. Secara biologis FCR merupakan kemampuan biota (kultivan) untuk merubah pakan menjadi daging. Semakin rendah nilai FCR maka semakin rendah jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging kultivan. Artinya, pakan tersebut semakin efisien untuk diubah menjadi daging oleh kultivan.
Secara ekonomis ini menguntungkan karena menekan beaya produksi karena murahnya beaya pakan. Artinya, bila kultivan herbivora diberi pakan nabati yang relatif murah, kemudian kultivan bisa merubah menjadi protein hewani yang mahal harganya, maka ini akan menguntungkan bagi akuakulturis.
Disamping faktor-faktor diatas, maka faktor lingkungan menjadi hal yang perlu diperhatikan. Pergerakan air (water movement) adalah sangat penting untuk oksigenasi, untuk mencegah adanya stratifikasi suhu, dan untuk menyebarkan makanan dalam kolom air.
Namun demikian, air yang terlalu deras atau berarus kencang justru akan menyulitkan larvae kultifan untuk memakan, membuat larvae harus berjuang untuk makan sehingga membuang-buang energi yang mestinya bisa untuk pertumbuhan daging. Derasnya arus ini juga berakibat timbulnya gelembung-gelembung udara berlebihan yang menyebabkan larvae bergerak cepat ke permukaan. Sirkulasi udara pada saatnya nanti bisa dinaikkan secara pelanpelan (gradual) bilamana larvae semakin besar dan menjadi perenang yang lebih kuat.
Aerasi yang optimal akan tergantung kepada faktor-faktor seperti spesies, umur, dan ukuran larvae serta bentuk tanki, suhu media, dan kualitas air. Wadah atau tanki pemeliharaan juga merupakan faktor penting. Pertumbuhan dan kelangsunganhidup larvae ikan biasanya akan lebih baik pada kondisi tanki dengan warna gelap dibanding warna putih atau warna terang. Tanki dengan dinding gelap dan dasar terang akan menaikkan tingkat penampakan pakan (food appearance) baik bagi larvae maupun bagi akuakulturis.

2.1.2.       Artemia sebagai pakan alami

Beberapa pertimbangan mengapa praktisi budidaya mempergunakan Artemia sebagai sumber pakan alami. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa:

1. Artemia telah secara intensif dimanfaatkan sebagai pakan di industri
aquakultur secara luas, dan kistanya telah tersedia di pasaran di berbagai
sumber yang biasa dipercaya kualitasnya.

2. Teknologi untuk memproduksi larvae nauplii dari materi kista Artemia telah diketahui secara baik.

3. Artemia telah dikenal sebagai sumber pakan alami dengan kandungan nutrisi lengkah bagi pelbagai kelompok kultifan krustasea dan ikan baik yang hidup pada media air laut maupun air  tawar.

4. Artemia ditemukan di lebih dari 300 danau air asin dan di tambak-tambak garam di seluruh dunia. Pemanfaatan terbesar Artemia berda di Asia Tenggara yang berasal dari the Great Salt Lake di Utah, U.S.A dimana pemanenan (harvesting), pengeringan (drying), dan pengalengan (canning) dilakukan dibawah lisensi Pemerintah Amerika.

5. Di hampir semua system akuakultur, Artemia disajikan dalam bentuk naupli segar yang baru menetas. Namun beberapa praktisi lebih memilih Artemia dewasa yang nilai nutrisi dipercaya lebih baik.

2.2.            Artemia

Artemia merupakan kelompok udang-udangan dari phylum Arthopoda. Mereka berkerabat dekat dengan zooplankton lain seperti copepode dan daphnia (kutu air). Artemia hidup di danau-danau garam (berair asin) yang ada di seluruh dunia. Udang ini toleran terhadap selang salinitas yang sangat luas, mulai dari nyaris tawar hingga jenuh garam.
Secara alamiah salinitas danau dimana mereka hidup sangat bervariasi, tergantung pada jumlah hujan dan penguapan yang terjadi. Apabila kadar garam kurang dari 6 % telur artemia akan tenggelam sehingga telur tidak bisa menetas, hal ini biasanya terjadi apabila air tawar banyak masuk kedalam danau dimusim penghujan. Sedangkan apabila kadar garam lebih dari 25% telur akan tetap berada dalam kondisi tersuspensi, sehingga dapat menetas dengan normal.

2.2.1.       Klasifikasi

Secara taksonomis, klasifikasi sistematika Artemia adalah sebagai berikut:
Phyllum : Arthropoda
Class : Crustacea
Subclass : Branchiopoda
Order : Anostraca
Family : Artemiidae
Genus : Artemia, Leach 1819
Nama Artemia salina Linnaeus 1758 secara taksonomis sudah tidak dipakai lagi (Bowen dan Sterling, 1978). Eksperimen persilangan antar Artemia dari pelbagai populasi menunjukkan adanya isolasi reproduksi dari beberapa kelompok dalam populasi (Clark dan Bowen, 1976) dan menyebabkan adanya pengakuan terhadap spesies sibling sehingga penamaan secara taksonomi harus diberikan. Diantara strain biseksual atau zygogenetik Artemia (populasi yang terdiri dari jantan dan betina) ada 6 jenis sibling yang diketahui sejauh ini, yakni:
Artemia salina             : Lymington England
Artemia tunisiana        : Eropa
Artemia fransiscana    : Amerika (Utara, Tengah dan Selatan)
Artemia urmiana         : Iran
Artemia monica           : Mono-Lake, CA-USA
Beberapa jenis parthenogenesis (populasi terdiri dari Artemia betina saja, tidak ada fertilisasi telur yang dibutuhkan untuk reproduksi) ditemukan di Asia dan Eropa. Jenis ini mempunyai perbedaan genetic dalam hal pola jumlah kromosom dan isoenzym yang menyebabkan jenis Artemia ini diklasifikasikan secara taksonomis kedalam spesies Artemia parthenogenetica yang sangat membingungkan.
Sehingga dalam kesempatan Simposium Internasional Pertama tentang Artemia di Amerika pada th. 1979, disarankan bahwa bilamana jenis sibling dari strain zygogenetik belum teridentifikasi (melalui uji perkawinan silang dengan jenis sibling yang sudah dikenal), dan hingga spesifikasi Artemia betul-betul diketahui (terutama pada jenis parthenogenesis), maka hanya nama genus Artemia saja yang dipakai.

2.2.2.       Morfologi

Artemiaffff.jpg
Gambar 1. Morfologi dan bagian-bagian tubuh Artemia

2.2.3.       Lingkungan hidup

Dalam tingkat salinitas rendah dan dengan pakan yang optimal, betina Artemia bisa mengahasilkan naupli sebanyak 75 ekor perhari. Selama masa hidupnya (sekitar 50 hari) mereka bisa memproduksi naupli rata-rata sebanyak 10 -11 kali. Dalam kondisi super ideal, Artemia dewasa bisa hidup selama 3 bulan dan memproduksi nauplii atau kista sebanyak 300 ekor(butir) per 4 hari. Kista akan terbentuk apabila lingkungannya berubah menjadi sangat salin dan bahan pakana sangat kurang dengan fluktuasi oksigen sangat tinggi antara siang dan malam hari.
 Artemia dewasa toleran terhadap selang suhu -18 hingga 40 ° C. Sedangkan tempertur optimal untuk penetasan kista dan pertubuhan adalah 25 - 30 ° C. Meskipun demikian hal ini akan ditentukan oleh strain masing-masing. Artemia menghendaki kadar salinitas antara 30 - 35 ppt, dan mereka dapat hidup dalam air tawar salama 5 jam sebelum akhirnya mati. Variable lain yang penting adalah pH, cahaya dan oksigen. pH dengan selang 8-9 merupakan selang yang paling baik, sedangkan pH di bawah 5 atau lebih tinggi dari 10 dapat membunuh Artemia.
Cahaya minimal diperlukan dalam proses penetasan dan akan sangat menguntungkan bagi pertumbuhan mereka. Lampu standar grow-lite sudah cukup untuk keperluan hidup Artemia. Kadar oksigen harus dijaga dengan baik untuk pertumbuhan Artemia. Dengan suplai oksigen yang baik, Artemia akan berwarna kuning atau merah jambu. Warna ini bisa berubah menjadi kehijauan apabila mereka banyak mengkonsumsi mikro algae.
Pada kondisi yang ideal seperti ini, Artemia akan tumbuh dan beranak-pinak dengan cepat. Sehingga suplai Artemia untuk ikan yang kita pelihara bisa terus berlanjut secara kontinyu. Apabila kadar oksigen dalam air rendah, dan air banyak mengandung bahan organik, atau apabila salintas meningkat, artemia akan memakan bakteria, detritus, dan sel-sel kamir (yeast). Pada kondisi demikian mereka akan memproduksi hemoglobin sehingga tampak berwarna merah atau orange. Apabila keadaan ini terus berlanjut mereka akan mulai memproduksi kista.

2.2.4.       Siklus hidup

Populasi Artemia dijumpai hidup banyak di danau-danau garam dan tambak-tambak garam di seluruh dunia. Pada suatu saat tertentu di setiap tahun, banyak partikel (butiran) berwarna coklat berdiameter antara 200-300 mikron mengapung di permukaan danau. Partikel coklat ini dalam jumlah banyak terlihat seperti tepung yang sebenarnya terdiri dari kista kering yang tidak aktif dalam kondisi tetap “tidur” (crystobiosis) sepanjang kondisi tetap kering.
 Selama kondisi terendam air laut, kista yang bentuknya bundar (biconcave) akan terhidrasi, berubah bentuk menjadi lonjong (spherical), dan di dalam cangkang embrio terus mengalami proses metabolism. Selama 24 jam masa inkubasi embrane luarnya pecah dan embrionya keluar. Beberapa jam kemudian embrio betul-betul meninggalkan cangkangnya. Namun masih melekat di bawah cangkangnya (fase payung).
Di dalam fase membrane penetasan perkembangan nauplii telah selesai, kaki-kakinya mulai bergerak dan dalam jangka pendek membrane penetasan pecah dan terpisah (disini istilah penetasan dimulai) dan nauplii yang bebas berenang lahir. Fase larva yang pertama berukuran 400-500 mikron panjangnya, berwarna coklat-oranye (sebagai akumulasi cadangan telurnya) dan mempunyai 3 pasang kaki.
Kaki pertama atau antenna pertama disebut antennulae yang berfungsi sebagai alat gerak dan menyaring makanan, dan mandible yang berfungsi untuk meraup makanan. Mata tunggal (ocellus) berwarna merah terletak diantara antenna pertama. Bagian ventral hewan ini tertutup oleh labrum besar yang berperan dalam proses pengambilan makanan (mentransfer partikel makanan dari setae penyaring ke dalam mulutnya).
Instar 1 belum bisa makan karena system pencernaannya belum berfungsi, apalagi mulut dan anusnya masih tertutup. Setelah kira-kira 12 jam hewan berganti kulit kedalam fase larva yang ke 2 (dikenal juga sebagai instar II). Partikel makanan berukuran kecil (misal sel algae, bacteria, detritus) antara 1-40 mikron disaring oleh antenna ke-2 dan kemudian dimasukkan kedalam saluran pencernaannya (ingestion).
 Larva berkembang dan berubah bentuk melalui 15 kali ganti kulit (moulting). Sepasang kaki lobular muncul di bagian dada dan berganti menjadi thoracopod, pada kedua sisi sepasang mata lateral terbentuk. Dari instar 10 keatas, terjadi perubahan fungsi dan morfologis, misalnya antennae kehilangan fungsi lokomotionnya dan mengalami perubahan seksual.
AC420E17.gif
Gambar 2. Siklus hidup Artemia

 Pada hewan jantan, antennae ini berkembang menjadi pengait/penjepit, sementara pada hewan betina entennae berubah menjadi kaki-kaki sensor. Thorakopod sekarang berubah kedalam 3 fungsi, yakni: telopodit dan endopodit yang mempunyai fungsi pergerakan (locomotion) dan penyaringan makanan (filter-feeding), serta ekspodit membrane berfungsi sebagai insang (alat pernafasan).
Artemia dewasa berukuran panjang kira-kira 10mm pada jenis biseksual, dan berukuran sampai 20 mm pada jenis parthenogenesis polyploidy. Fase dewasa ditandai dengan tubuh yang tumbuh memanjang dengan 2 pasang mata, saluran pencernaan linier, antenna sensor dan 11 pasang thoracopod yang telah  berfungsi. Hewan jantan mempunyai sepasang supit besar (antenna ke-2) pada daerah kepala, sementara bagian bawah (posterior) di daerah dada terdapat sepasang penis yang bisa dilihat.
Hewan betina tidak terdapat kaki-kaki yang berbeda di daerah kepala tetapi terletak tepat di belakang thoracopod yang ke-11. Telur berkembang ke dalam 2 ovari yang berbentuk tabung yang terletak dalam perut (abdomen). Begitu telah matang telur berubah bentuk menjadi lonjong (spherical) dan berpindah melewati 2 oviduct (lateral sack) kedalam uterus (kantong telur).
Menjelang proses kawin (precopulation) pada Artemia dewasa diawali oleh pejantan yang menjepit si betina dengan antennae-nya diantara uterus dan thoracopod paling belakang/terakhir. Pasangan jantan-betina ini dapat berenang-renang dalam waktu yang lama dalam “posisi membonceng”, memukul thoracopod-nya pada laju yang sinkron.
Proses kopulasi yang sebenarnya terjadi secara cepat dan reflek, yaitu dimana perut Artemia jantan ditekuk kedepan, begitu penis dimasukkan kedalam uterus, telur dibuahi. Pada Artemia jenis parthenogenesis pembuahan tidak terjadi dan perkembangan embrio bermula begitu telur sampai di uterus. Telur yang telah dibuahi normalnya berkembang menjadi nauplii yang langsung mampu berenang bebas (free-swimming nauplii) (ovoviparous reproduction) yang dikeluarkan induknya.
Pada kondisi ektrim, misal kadar garam tinggi atau kadar oksigen rendah, kelenjar cangkangnya, yakni organ berbentuk seperti anggur yang terletak di uterus, menjadi aktif dan mengakumulasi produk sekresi berwarna coklat (haematine). Embryo hanya akan berkembang sampai pada tahap gastrula dimana tahap ini embrio akan dikelilingi oleh kerangka keras dan tebal yang diproduksi oleh kelenjar cangkang coklat, memasuki tahap istirahat (dormancy) atau diapauze (berhentinya proses metabolism embrio) dan dilepaskan oleh betina (oviparous reproduction).
Telur biasanya akan terapung-apung di permukaan perairan pada kadar garam yang tinggi dan akan terseret kepinggiran oleh angin dimana telur kemudian mengumpul dan mengering. Karena proses dehidrasi ini, mekanisme diapauze terhenti sehingga telur kembali mengalami proses perkembangan embrionik berikutnya ketika terhidrasi pada kondisi optimal untuk menetas. Pada kondisi optimal, Artemia bisa hidup untuk beberapa bulan, tumbuh dari nauplius samapi dewasa hanya 8 hari dan bereproduksi pada laju lebih dari 300 nauplii atau kista tiap 4 hari.

2.3.            Teknik penetasan Artemia

2.3.1.       Secara aerasi

Dimulai dari perendaman sebanyak 1-5 g kista Artemia dalam media air laut + 1-5 g natrium bikarbonat atau baking soda kemudian diaduk. Setelah 1 jam kista aka nada yang tenggelam berarti proses hidrasi berjalan baik, sementara itu juga ada yang terapung. Yang terapung ini biasanya kista yang sudah rusak. Dalam tujuan untuk feeding yang diperlukan adalah kista yang terhidrasi baik. Kista inilah yang diambil yang selanjutnya akan ditetaskan atau didekapsulasi.
 Bila kista tadi mau ditetaskan langsung, maka kista yang terkumpul kemudian dimasukkan kedalam wadah konikal untuk diaerasi dengan laju 2L per menit selama 24-72 jam, dengan penyinaran lampu TL 40 watt yang diposisikan horizontal tepat diatas wadah inkubasi, misal 20 cm, dan aerasi diberikan dari bawah agar terjadi pengadukan kista namun perlu diperhatikan agar dalam media tidak terjadi foaming (atau timbulnya busa akibat aerasi yang ekstra kuat). Terlalu kuatnya aerasi yang dilakukan terhadap wadah yang kecil juga mengakibatkan tumpahnya media dengan kistanya dari wadah inkubasi.
 Setelah menetas, secara serempak, nauplii yang menetas kemudia dikumpulkan, dan dipisahkan dari cangkang kista yang telah pecah akibat penetasan. Cara yang dilakukan untuk pemisahan ini, biasanya dengan cara menyaring memakai alat separator atau dengan saringan nylon sehingga nauplii tertahan sementara pecahan kista lolos. Cara lain yang dilakukan praktisi adalah dengan menempatkan lampu disamping wadah inkubasi.
Setelah aerasi dimatikan, maka akan terlihat kelompok nauplii yang berenang-renang bebas dalam suspense, sementara pecahan cangkang akan mengapung di permukaan. Bilamana lampu TL diposisikan disamping wadah transparan sebagai wadah inkubasi, maka nauplii akan mengumpul kearah sumber cahaya (positive phototaxis). Nauplii yang mengumpul ini kemudian diambil. Lama waktu aerasi sehingga kista menetas tergantung pada jenis kista yang dipakai.
Gambar 3. Penetasan telur Artemia secara aerasi

2.3.2.       Secara Dekapsulisasi

Dekapsulisasi merupakan suatu proses untuk menghilangkan lapisan terluar dari kista artemia yang "keras" (korion). Proses ini setidaknya akan mempermudah "bayi" artemia untuk keluar dari "sarang"nya. Dan kalaupun tidak berhasil "menetas", kista yang telah didekapsulisasi masih bisa diberikan kepada ikan/burayak dengan aman, karena korionnya sudah hilang, sehingga akan dapat dicerna dengan mudah. Disamping itu proses ini juga sekaligus merupakan proses disinfeksi terhadap kontaminan seperti bakteri, jamur dll.
Bahan yang diperlukan adalah larutan pemutih/bleaching agent (natrium hipoklorit) 12.5%. Kalau anda menggunakan produk komersial, pastikan konsentrasi dan kemungkinan adanya kandungan bahan lain. Untuk ilustrasi berikut saya berikan contoh cara untuk melakukan dekapsulisasi kista artemia sebanyak 5 gram. Rendam 5 g kista artemia (kurang lebih 1.5 sendok teh) dalam 400 ml air tawar, beri aerasi, dan biarkan selama 1-2 jam, hingga kista tersebut mengalami hidrasi dengan baik.
Hal ini ditandai dengan bentuk kista yang sudah membentuk bulatan sempurna. Kemudian tambahkan larutan pemutih sebanyak 27 ml. Penambahan pemutih akan menyebabkan kista berubah warna menjadi coklat kemudian manjadi putih dalam waktu kurang lebih 2 menit. Selanjutnya dalam 5-7 menit kista akan berubah warna menjadi orange. Apabila 95% kista telah berwarna orange hentikan reaksi; kemudian segera cuci dengan air bersih sampai bau klorin hilang. Kista sekarang siap ditetaskan atau bisa disimpan dalam kulkas untuk selama 1 minggu.
Apabila akan disimpan lebih lama, kista perlu didehidarsi kembali dengan menggunakan larutan garam 30%. Setelah didehidrasi, kista dapat disimpan dalam kulkas untuk selama 2-3 bulan.
Gambar 4. Penetasan telur Artemia sevara dekapsulisasi


III.             KESIMPULAN DAN SARAN


3.1.            Kesimpulan

Dari uraian tulisan di atas dapat disimpulkan bahwa Artemia merupakan salah satu pakan alami yang memilki kelebihan yang tinggi dibandingkan dengan pakan alami lainnya yakni dalam bidang nilai gizi, ukurannya yang sesuai dengan bukaan mulut bagi mangsanya dan siklus hidup Artemia yang juga bisa dikatakan cukup singkat sehingga dalam memproduksinya tidak membutuhkan waktu yang lama.
Selain itu, setidaknya terdapat dua cara yang sering dipakai untuk menetaskan telur Artemia yakni secara aerasi dan dekapsulisasi. Bersadarkan beberapa jurnal penelitian, cara dekapsulisasi memiliki keunggulan dibandingkan dengan cara lain yakni jumlah telur yang menetas lebih optimal.

3.2.            Saran

Adapun pada saran, penulis berharap ketika pelajaran tentang Artemia ini tidak hanya disajikan teori saja namun juga diikuti dengan praktek karena diketahui bahwa penetasan telur Artemia bukanlah merupakan kegiatan yang sulit.


DAFTAR PUSTAKA

Jusadi, D. 2003. Budidaya Pakan Alami “Modul Penetasan Artemia”. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

Teamean. 2009. Pakan Alami : Artemia. http://teamean.wordpress.com/tag/artemia/. Diakses pada 02 juni 2012 pukul 11.30 wib

No comments:

Post a Comment