Monday, October 1, 2012

POTENSI DAN PELUANG UPAYA PELESTARIAN KELAUTAN DI KOTA DUMAI PROVINSI RIAU

PERHATIAN : diperbolehkan untuk meng-copy materi ini dengan syarat hanya untuk akademis dan mencantumkan Nama Penulis dan alamat web halaman ini pada daftar pustaka anda.




POTENSI DAN PELUANG UPAYA PELESTARIAN KELAUTAN DI KOTA DUMAI PROVINSI RIAU



Oleh
TEGUH HERIYANTO
0904121598
ILMU KELAUTAN









FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2012


Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara terdiri dari 17.508 pulau besar dan pulau kecil yang menyebar disekitar khatulistiwa, yang memberikan cuaca tropis dan memiliki garis pantai 81.000 km, serta luas laut terbesar di dunia yaitu 5,8 juta km2. Laut memiliki arti penting bagi bangsa Indonesia termasuk sebagai wilayah kedaulatan, sumberdaya alam dan ekosistem, dan media kontak sosial budaya. Perjuangan untuk memperoleh pengakuan terhadap wilayah laut bangsa Indonesia sebagai sebuah Negara kepulauan telah berhasil pada penetapan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS-United Convention on the Law of the Sea) III tahun 1982.
Laut atau bahari adalah kumpulan air asin yang luas dan berhubungan dengan samudra. Air di laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Sifat-sifat fisis utama air laut ditentukan oleh 96,5% air murni. Ekosistem laut merupakan suatu kumpulan integral dari berbagai komponen abiotik (fisika-kimia) dan biotik (organisme hidup) yang berkaitan satu sama lain dan saling berinteraksi membentuk suatu unit fungsional.
Komponen-komponen ini secara fungsional tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Apabila terjadi perubahan pada salah satu dari komponen-komponen tersebut maka akan menyebabkan perubahan pada komponen lainnya. Perubahan ini tentunya dapat mempengaruhi keseluruhan sistem yang ada, baik dalam kesatuan struktur fungsional maupun dalam keseimbangannya.
Salah satu kota di Indonesia yang memiliki kawasan pantai dan laut adalah kota Dumai. Dumai merupakan sebuah kota di Provinsi Riau, Indonesia, sekitar 188 km dari Kota Pekanbaru yang terletak di bagian timur pulau sumatera. Dulunya kota Dumai adalah sebuah dusun kecil di pesisir timur Propinsi Riau yang kini mulai menggeliat menjadi mutiara di pantai timur Sumatera.
Secara geografis, dumai memiliki jarak yang sangat dekat dengan selat malaka. Hal ini mengakibatkan Dumai menjadi salah satu kota pesisir yang memiliki aktivitas pelayaran dan pelabuhan yang sangat sibuk. Selain itu, pada awal perkembangan kota Dumai, dibangun bangunan-bangunan yang diperuntukan untuk kegiatan industri.
Ketika kegiatan seperti ini berlangsung, kawasan hutan mangrove banyak dibabat atau dibersihkan untuk pembangunan pabrik-pabrik atau bangunan untuk keperluan industri tersebut. Semakin maraknya kegiatan ini mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan laut khususnya wilayah pesisir yakni ekosistem mangrove dan juga kualitas perairan laut di Dumai sangat memprihatinkan.
Kerusakan ekosistem mangrove tidak hanya diakibatkan dari konversi hutan menjadi kawasan industeri, tetapi juga dari kegiatan masyarakat yang melakuakn penebangan hutan mangriove untuk keperluan pembatan arang, bahan bangunan rumah dan lain-lain, dimana dalam penebangan tersebut jarang memperhatikan prinsip tebang pilih.
Penururnan kualitas perairan laut di kota Dumai juga bukan sekedar isu belaka namun hal ini merupakan sebuah kenyataan. Informasi tersebut di dasari dari hasil penelitian dosen dalam bentuk jurnal atau penelitian mahasiswa dalam bentuk skripsi yang menggambarkan bahwasanya perairan laut di kota Dumai dalam keadaan tercemar yang dilihat dari kandungan logam berat, nitrat dan fosfar serta parameter pencemaran lainnya.
Banyak faktor yang mengakibatkan tercemarnya perairan tersebut, yaitu :
·         buangan limbah-limbah kimia dari industri perminyakan, tumpahan atau tercecernya miyak dari kapal-kapal yang beraktivitas atau yang berlabuh di sekitar perairan tersebut,
·         aktivitas pertambangan logam mulia,
·         pengerukan pasir laut,
·         limbah organik,
·          limbah pertanian,
·         limbah domestik dan lain sebagainya.
Resah akan dampak negatif yang muncul dari kerusakan lingkungan tersebut yang tidak pernah dirasakan sebelumnya dan timbulnya kesadaran akan kepedulian terhadap lingkungan. Beberapa kelompok masyarakat sekitar mulai melakukan usaha-usaha pelestarian lingkungan laut. Kelompik masyarakat tersebut membuat suatu wadah yang bernama Pecinta Alam Bahari yang berkosentrasi untuk memulihkan keadaan lingkungan kelautan dan pesisir yang sudah terlanjur rusak.
Pelestarian merupakan pengelolaan sumber daya alam yang menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya. Pelestarian tersebut tertuang dalam bentuk kegiatan konservasi. Konservasi adalah upaya yang dilakukan manusia untuk melestarikan atau melindungi alam Konservasi adalah pelestarian atau perlindungan. Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, (Inggris) Conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan.
Sedangkan menurut ilmu lingkungan, Konservasi adalah
  • Upaya efisiensi dari penggunaan energi, produksi, transmisi, atau distribusi yang berakibat pada pengurangan konsumsi energi di lain pihak menyediakan jasa yang sama tingkatannya.
  • Upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam
  • (fisik) Pengelolaan terhadap kuantitas tertentu yang stabil sepanjang reaksi kiamia atau transformasi fisik.
  • Upaya suaka dan perlindungan jangka panjang terhadap lingkungan
  • Suatu keyakinan bahwa habitat alami dari suatu wilayah dapat dikelola, sementara keaneka-ragaman genetik dari spesies dapat berlangsung dengan mempertahankan lingkungan alaminya.
Untuk memulai tindakan konservasi tidaklah mudah, yang menjadi permasalahan adalah mereka tidak memiliki lahan yang hendak mereka konservasi. Dengan usaha yang sungguh-sungguh para aktivis Pecinta Alam Bahari (PAB) melakuakn dialog-dialog dengan orang-orang yang memiliki kebijakan dan tokoh masyarakat untuk membuka pikiran dan menyadarkan bahwa lingkungan pesisir ini perlu dilestarikan melihat begitu buruknya dampakyang ditimbuulkan akibat rusaknya lingkungan pesisir dan laut.
Akhirnya dengan berbagai usaha yang ditempuh, mereka berhasil meyakinkan pemerintah untuk menyelamatkan lingkungan dari kerusakan. Lahan yang sedianya akan dibuat pelabuhan tambahan yang baru, kini dijadikan sebagai milayah konservasi dan pelestarian lingkungan bahari bagi flora maupun fauna endemik yang berada di ekosistem tersebut yang sekiranya terancam punah kini mulai berangsur-angsur membaik.
Disisi lain, sejak tahun 2009 terbentuk suatu organisasi kegiatan mahasiswa atau study club yaitu Belukap Mangrove Club (BMC) yang merupakan sekumpulan mahasiswa jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Kegiatan organisasi salah satunya adalah terkosentrasi pada pelestarian dan konservasi wilayah pesisir dengan melakukan aksi pembibitan dan penanaman mangrove serta melakukan research tentang mangrove.
Dengan usaha yang tidak kalah gigih pula, kelompok mahasiswa ini mampu membentuk kegiatan yang menggerakkan mahasiswa lain untuk melakukan penghijauan daerah pesisir di Dumai. Selain itu, organisasi ini juga mampu mengajak dan merangkul pemerintah untuk turut serta dalam konservasi wilayah pesisir dengan menanam mangrove. Organisasi ini memiliki salah satu titik fokus dalam kegiatannya pada area hutan mangrove milik Universitas Riau di wilayah Purnama, Dumai.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa organisasi-organisasi ini berkosentrasi pada pelestarian kelautan khususnya pelestarian wilayah pesisir dengan menanam tanaman mangrove? Hal ini dikarenakan mangrove merupakan salah satu produsen tingkat dasar pada wilayah pesisir yang menjadi salah satu sumber makanan bagi organisme konsumen tingkat 1 atau dengan kata lain mangrove merupakan komponen paling dasar dari jaring-jaring makanan. Namun tidak hanya itu namun mangrove memiliki makna yang lebih kompleks bagi lingkungan.
Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang kompleks dan khas, yang memiliki daya dukung yang cukup besar terhadap lingkungan perairan yang ada di sekitarnya (Tupan, 2002). Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau (Santoso, 2000).
Hutan mangrove adalah hutan yang letaknya berada di antara daratan dan laut, serta dipengaruhi oleh pasang surut. Oleh sebab itu ada yang menyebutnya hutan mangrove sebagai hutan pasang surut. (Sudarmadji, 2003). Pertumbuhan hutan mangrove adalah sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pasang surut, tanah, iklim, pH dan salinitas (Chapman, 1976 dalam Sudarmadji, 2003).
Hutan mangrove memiliki beberapa fungsi, yakni :
1.        Fungsi Ekologis :
·         Pelindung garis pantai.
Tanaman mangrove khususnya dari genus Rhizopora memiliki perakaran yang sangan kuat. Akar-akar ini mencuat dari badan tanaman tersebut dan tertanam ke dalam tanah dengan kuat. Populasi jenis tanaman ini yang berada di wilayah pesisir dapat memecah gelombang sehingga energi gelombang dapat berkurang dan kekuatan  gelombang yang awalnya mampu mengabrasi garis pantai menjadi berkurang.
·         Mencegah intrusi air laut.
Tumbuhan mangrove mampu hidup dengan menyerap air laut yang memiliki tingkat salinitas yang tinggi. Sehingga air laut yang melewati komunitas tanaman mangrove semakin ke darat semakin berkurang tingkat salinitasnya bahkan jika kerapatan komunitas mangrovenya baik maka airnya dapat menjadi tawar. Sehingga tidak terjadi lagi instrusi air laut.
·         Habitat organisme lain.
Mangrove merupakan ekosistem yang sangat khas dan dimana tempat organisme estuari hidup seperti ikan tembakul, nerita, dll.
·         Tempat mencari makan (feeding ground).
Mangrove mampu memberikan nutrien bagi organisme autotroflain seperti fitoplankton untukmembantu proses fotosintesis.selain itudaun mangrove yang terjatus dapat menjadi sumber makanan bagi kepiting-kepiting. Halini membuat rantai makanan dapat selalu eksis.
·         Tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground)
Akar-akar mangrove memberikan tempat bagi larva-larva organisme akuatik untuk dapat bersembunyi dari kejaran-kejaran predatornya.
·         Tempat pemijahan (spawning ground)
Akar-akar mangrove juga memberikan tempat perlindungan bagi telur-telur organisme akuatik agar tidak dimangsa sehingga memberikan kesempatan untuk menetas dan berkembang.
·         Sebagai pengatur iklim mikro
·         Dapat mengurangi dampak global warming. Ekosistem mangrove yang biasa juga disebut dengan hutan mangrove memiliki kemampuan seperti halnya tumbuhan lain dalam menyerap karbon dioksida. Karbon dioksida diserap untuk kebutuhan proses fotosintesis. Menurut data dari UNEP (2009) dalam Kawaroe (2009) mengatakan bahwa vegetasi mangrove dengan luas area 0,17 juta km2 mampu menyerap atau mengendapkan karbon  organik sebesar 1,39 Ton C/ Ha/ Tahun.
2.        Fungsi Ekonomis :
·         Penghasil keperluan rumah tangga
·         Penghasil keperluan industri
·         Penghasil bibit
Dari usaha pelestarian khususnya oleh Pecinta Alam Bahari (PAB) terdapat data sebagai berikut :
Keanekaragaman Mangrove Muara Sungai Dumai
Keberadaan hutan mangrove di Muara Sungai Dumai, terdapat pada area seluas lebih kurang 11,5 hektar. Berdasarkan hasil pendataan setidaknya terdapat 16 Jenis yang dikatergorikan sebagai mangrove sejati dari 8 family/ keluarga. Serta sejumlah 22 jenis mangrove ikutan/ asosiasi. Sedangkan berdasarkan total keberadaan hutan mangrove yang berada di pesisir Kota Dumai, terdapat 23 jenis mangrove sejati dan 22 jenis mangrove ikutan/ asosiasi. Jumlah ini merupakan setengah dari jenis mangrove sejati di Indonesia (47 jenis).
Jenis-Jenis Mangrove Sejati di Sekitar Muara Sungai Dumai
No.
Jenis
Famili
Nama Lokal
1.
Avicenia alba
Avicenniaceae
Api-api putih
2.
Avicenia marina
Avicenniaceae
Api-api jambu
3.
Bruguiera gymnorrhiza
Rhizophoraceae
Tumu
4.
Bruguiera parviflora
Rhizophoraceae
Lenggadai
5.
Ceriop tagal
Rhizophoraceae
Tengar
6.
Gymnanthera paludosa
Asclepiadaceae
Kacang-kacang,
kacang laut
7.
Heritiera littoralis
Sterculiaceae
Dungun
8.
Lumnitzera littorea
Combretaceae
Teruntum, sesop merah
9.
Lumnitzera racemosa
Combretaceae
Susup, teruntum bunga putih
10.
Rhizophora apiculata
Rhizophoraceae
Bakau kecil, minyak,
bakau putih
11.
Rhizophora stylosa
Rhizophoraceae
Bakau, bakau merah
12.
Rhizophora mucronata
Rhizophoraceae
Bakau, belukap, bakau kurap
13.
Scyphiphora hydrophyllacea
Rubiaceae
Cingam
14.
Sonneratia alba
Sonneratiaceae
Perepat
15.
Sonneratia ovata
Sonneratiaceae
Kedabu
16.
Xylocarpus granatum 
Meliaceae
Nyireh bunga




Jenis-Jenis Mangrove Asosiasi di sekitar muara Sungai Dumai
No.
Jenis
Famili
Nama Lokal
1.
Akasia mangium  
Mimosaceae
Akasia
2.
Calophylum inophyllum  
Guttiferae
Gurah
3.
Cerbera manghas
Apocynaceae
Bintan, buta-buta
4.
Clerodendrum inerme
Verbenaceae
Kayu tulang, keranji
5.
Derris trifoliata
Leguminosae
Tuba laut
6.
Ficus microcarpa
Moraceae
Beringin, kayu ara
7.
Flacourtia rukam
Flacourtiaceae
Rukam
8.
Flagellaria indica
Flagellariaceae
Rotandini, rotan tikus
9.
Hibiscus tiliaceus
Malvaceae
Waru, baru-baru
10.
Ipomoea pes-caprae
Convolvulaceae
Katang-katang,
daun barah
11.
Melastoma cadidum
Melastomataceae
Senduduk
12.
Morinda citrifolia
Rubiaceae
Mengkudu
13.
Pandanus tectorius 
Pandanaceae
Pandan laut
14.
Pandanus odoratissima
Pandanaceae
Pandan tikar
15.
Passiflora foetida
Passifloraceae
Seletup bulu, rambut-rambut
16.
Sesuvium portulacastrum
Aizoaceae
Rumput gelang
17.
Spinifex littoreus
Gramineae
Gulung-gulung
18.
Stachytarpheta jamaicensis
Verbenaceae
Ekor kuda
19.
Terminalia cattapa
Combretaceae
Ketapang
20.
Thespesia populnea
Malvaceae
Waru laut
21.
Vitex pubescens
Verbenaceae
Leban kampong
22.
Wedelia biflora
Asteraceae
Serunai laut

Keanekaragaman mangrove di sekitar muara Sungai Dumai merupakan jumlah yang paling tinggi pada satu kawasan mangrove dibandingkan dengan kawasan lain di wilayah pesisir Kota Dumai. Dahulu, pemanfaatan oleh masyarakat setempat di sekitar kawasan mangrove ini adalah melalui aktivitas penebangan untuk keperluan kayu bakar, terutama dari jenis Xylocarpus sp (nyirih) dan Rhyzophora sp (bakau). Namun aktivitas penebangan mangrove saat ini cenderung tidak ada lagi.
Zonasi mangrove di kawasan sekitar muara Sungai Dumai pada sempadan pantai bagian depan mengarah ke laut didominasi jenis bakau (Rhizopora sp), selanjutnya jenis api-api (Avicenia sp), mengarah ke daratan terdapat jenis perepat (Sonneratia sp), lalu nyirih (Xylocarpus sp) dan lenggadai (Bruguiera sp), sedangkan pada sempadan sungai di bagian depan didominasi oleh mangrove jenis api-api (Avicenia sp), selanjutnya mengarah ke daratan adalah jenis nipah (Nypa fruticans) dan piai atau paku-pakuan (Acrostichum sp).
Selain komunitas mangrove, wilayah ini juga didiami oleh fauna yang hidup berasosiasi di ekosistem ini, baik yang berada di bagian atas, batang maupun akar mangrove, antara lain dari golongan crustacea yaitu udang galah (Macrobrancium rosenbergii), rama-rama (Thalassina anomala), kepiting bakau (Scylla serrata), ketam batu (Scylla sp), senepak (Chiromantes sp) dan udang (Penaeus sp). Terdapat pula fauna dari golongan molusca yaitu siput mata merah (Cerithidea obtuse), siput babi (Ellobium sp), siput timba (Nerita lineate), siput hitam, siput api-api, siput blongan, teritip (Barnacles sp), lokan (Polymesoda expansa), sepetang (Pharus sp), umang-umang (Caenobita cavipes), lintah laut (Onchidium sp) dan buah tanah.
Selanjutnya terdapat golongan ikan yaitu sembilang (Plotosus sp), penyumpit (Toxotes sp), kitang, glodok (Periopthalmus sp), buntal (Tetraodon sp), belanak (Mugil sp), lundu dan betutu (Oxyeleotris marmorata). Dari golongan reptil terdapat ular bakau (Trimeresurus pupuremaculatus), ular air (Enhydris enhydris), ular tanah (Cerberus rhynchops), ular daun (Bungarus laticep), ular cincin (Boiga dendrophila), biawak (Varanus salvator) dan bengkarung (Mabouya sp). Sedangkan golongan amphibi adalah katak bakau (Rana cancrivora).
Selanjutnya golongan serangga yaitu laba-laba (Cyptophora beccani), capung (Aeshinidae sp), kupu-kupu (Lycanidae sp), tawon (Vespidae sp), lalat (Drosophila sp), jangkrik tanah (Apterone mobius), nyamuk (Culicidae sp) dan agas. Terdapat pula dari golongan cacing yaitu cacing nipah dan umpun-umpun (Polycaeta sp). Golongan aves (unggas) terdiri dari bangau putih (Ibis cinerius), gagak (Corvus enca), raja udang (Alcedo atthis), burung merba (Pycnonotus sp), camar (Sterna albifrons) dan elang (Ictinateus malayensis). Sedangkan mamalia yang terdapat di wilayah ini adalah monyet (Macaca fascicularis), lutung (Presbytis cristata), musang (Cynogale bennetti), berang-berang (Lutra lutra) dan kelelawar (Rhinolophus affinis).
Hal ini merupakan bukti bahwa, walaupun daerah Dumai sempat mengalami kerusakan lingkungan yang dapat mengancam kehidupan biota di dalamnya, namun di balik itu semua tersimpan peluang yang cukup besar dalam upaya pelestarian kelautan.





Referensi :
Santoso, N., 2000. Pola Pengawasan Ekosistem Mangrove. Makalah disampaikan pada Lokakarya Nasional Pengembangan Sistem Pengawasan Ekosistem Laut Tahun 2000. Jakarta, Indonesia.Supriharyono. 2000. Pelestarian.
Sudarmadji, 2003. Profil hutan mangrove Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Berkala penelitian hayati. 9 (45-48).
Tupan, I Charlotha, 2003. Struktur komunitas mangrove dan interaksinya denagan beberapa faktor lingkungan di Teluk Pelita Jaya, Seram Barat. Ichthyos : jurnal penelitian ilmu-ilmu perikanan dan kelautan, 2 (1-6).
www. wikipedia.com