Saturday, August 20, 2016

PENGINDERAAN JARAK JAUH (REMOTE SENSING)



Penginderaan jarak jauh (remote sensing) merupakan teknik foto satelit yang digunakan untuk mengetahui dan menganalisa situasi permukaan bumi tanpa kontak langsung dengan obyek (Lillesand and Keifer, 1994 dalam Suwito, 2007). Penginderaan jauh dapat diartik sebagai teknologi untuk mengidentifikasi suatu obyek di permukaan bumi tanpa melalui kontak langsung dengan obyek tersebut. Teknnologi penginderaan jauh berbasis satelit menjadi sangat popular dan digunakan untuk berbagai tujuan kegiatan, salah satunya untuk mengidentifikasi potensi sumber daya wilayah pesisir dan lautan.
 Hal ini disebabkan teknologi ini memiliki beberapa kelebihan, seperti harganya yang relative murah dan mudah di dapat, adanya resolusi temporal (perulangan) sehingga dapat digunakan untuk keperluan monitoring, cakupannya yang luas dan mampu menjangkau daerah yang terpencil, bentuk datanya digital sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan dan ditampilkan sesuai keinginan (Suwargana, 2008).
 Terdapat keunggulan  inderaja sebagai sumber data data SIG (Johnson, 1998 dalam Radiarta, 2008) di antaranya :
1.      Data yang dihasilkan sudah dalam format digital
2.      Dapat memantau suatu daerah kajian secara berulang-ulang
3.      Dapat mencakup lokasi kajian yang luas
4.      Analisis inderaja biasa menghasilkan berbagai jenis data bermanfaat yang sulit diperoleh dengan menggunakan data lapangan




Interpretasi secara visual adalah interpretasi data penginderaan jauh yang mendasarkan pada pengenalan ciri/karakteristik objek secara keruangan. Karakteristik objek dapat dikenali berdasarkan 9 unsur interpretasi yaitu bentuk, ukuran, pola, bayangan, rona/warna, tekstur, situs, asosiasi dan konvergensi bukti. Menurut Wahyunto et al. dalam Daruati (2008), dalam identifikasi penggunaan lahan dengan citra landsat, selain unsur interpretasi sebagai dasar analisis, perlu diperhatikan juga beberapa faktor penutup lahan, misalnya jenis vegetasi, keadaan air genangan, dan tanah terbuka. Setiap faktor akan memberikan reflektansi yang berbeda dan dapat berpengaruh terhadap kenampakan objek tersebut.
 



Referensi :



Daruati, D., 2008. Penggunaan Citra Landsat 7 ETM+ Untuk Kajian Penggunaan Lahan DAS Cimanuk. Jurnal LIMNOTEK. Vol. XV, No. 1 (40-50).



Radiarta, I. N. 2008. Pemanfaatan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Manajemen Sumberdaya Perikanan Budidaya di Indonesia. Media Akuakultur. 3 (1).



Suwargana, N. 2008. Analisis Perubahan Hutan Mangrove Menggunakan Data Penginderaan Jauh di Pantai Bhagia, Muara Gembong, Bekasi. Jurnal  Penginderaan Jauh. 5 (64-74).

Suwito, 2007. Penginderaan Jauh (Remote Sensing) Habitat Perkembangan Nyamuk Anopheles Kaitannya dengan Potensi Sebaran Vektor Malaria di Pulau Bangka. Jurnal Ekologi Kesehatan. 6 (631-638).

No comments:

Post a Comment