Rabu, 07 November 2012

ANALISIS FRAKSI SEDIMEN PERAIRAN SELAT RUPAT

perhatian : diperbolehkan untuk meng-copy materi ini dengan syarat hanya untuk akademis dan mencantumkan Nama Penulis dan alamat web halaman ini pada daftar pustaka anda. 




Prof. Dr. Ir. Rifardi, M.Sc

LAPORAN PRAKTIKUM SEDIMENTOLOGI
ANALISIS FRAKSI SEDIMEN PERAIRAN SELAT RUPAT

                            
OLEH :
TEGUH HERIYANTO

0904121598







JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2012




KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan petunjukNya penulis dapat menyelesaikan laporan pratikum Sedimentologi yang berjudul Analisis Fraksi Sedimen Perairan Selat Rupat tepat pada waktunya.
            Penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada dosen mata kuliah Sedimentologi bapak Prof. Dr. Ir. Rifardi, M.Sc dan asisten yang telah membantu selama pelaksanaan pratikum sampai pada penulisan laporan ini.
            Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam penyusunan laporan ini sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan laporan di masa yang akan datang. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.



                                                                                      Pekanbaru,   Mei 2011


                                                                                      Penulis





DAFTAR ISI
                                                                                              Halaman
KATA PENGANTAR.............................................................................             i
DAFTAR ISI.............................................................................................              ii
DAFTAR TABEL....................................................................................             iii
DAFTAR GAMBAR...............................................................................             iv
DAFTAR LAMPIRAN...........................................................................              v
I.     PENDAHULUAN
        1.1. Latar Belakang...............................................................................             1
        1.2. Tujuan............................................................................................             3
        1.3. Manfaat..........................................................................................             3

II.    METODE PRAKTIKUM
        2.1. Waktu dan Tempat........................................................................             4
        2.2. Bahan dan Alat..............................................................................             4
        2.3. Prosedur pratikum..........................................................................             5 
              2.3.1 Penentuan Lokasi Sampling...................................................             5 
              2.3.2 Pengambilan dan Penanganan Sampel...................................             5
              2.3.3 Parameter Kualitas Perairan...................................................             6
              2.3.4 Analisis Fraksi Sedimen.........................................................            6
       2.4. Analisis Data..................................................................................             8
       2.5. Asumsi............................................................................................           10

III.  HASIL DAN PEMBAHASAN
        3.1.Hasil................................................................................................           11
        3.2.Pembahasan…………………………............................................           27

IV. KESIMPULAN DAN SARAN                               
        4.1. Kesimpulan....................................................................................          31
        4.2. Saran..............................................................................................           31

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



     iii
DAFTAR TABEL
                                                                                                                      Halaman
1. Data Kedalaman dan Posisi Titik Sampling Pengambilan Sedimen...... .           11          
2. Fraksi Sedimen pada Stasiun 1 ...............................................................           12          
3. Fraksi Sedimen pada Stasiun 2 ...............................................................            13
4. Fraksi Sedimen pada Stasiun 3 ...............................................................            14
5. Fraksi Sedimen pada Stasiun 4 ...............................................................            15
6. Fraksi Sedimen pada Stasiun 5 ...............................................................            17
7. Fraksi Sedimen pada Stasiun 6 ...............................................................            18
8. Fraksi Sedimen pada Stasiun 7 ...............................................................            19
9. Fraksi Sedimen pada Stasiun 8 ...............................................................            20
10. Fraksi Sedimen pada Stasiun 9 .............................................................            22
11. Fraksi Sedimen pada Stasiun 10 .............................................................          23
12. Fraksi Sedimen pada Stasiun 11.............................................................          24
13. Fraksi Sedimen pada Stasiun 12.............................................................          25
14. Parameter Statistika Sedimen.................................................................           26








DAFTAR GAMBAR

                                                                                                                      Halaman
1. Segitiga Separt untuk Stasiun 1..............................................................            13
2. Segitiga Separt untuk Stasiun 2 ...............................................................           14
3. Segitiga Separt untuk Stasiun 3 ..............................................................           15
4. Segitiga Separt untuk Stasiun 4...............................................................           16
5. Segitiga Separt untuk Stasiun 5 ...............................................................           17  
6. Segitiga Separt untuk Stasiun 6 ...............................................................           19     
7. Segitiga Separt untuk Stasiun 7 ...............................................................           20  
8. Segitiga Separt untuk Stasiun 8 ...............................................................           21
9. Segitiga Separt untuk Stasiun 9...............................................................           22
10. Segitiga Separt untuk Stasiun 10............................................................          23
11. Segitiga Separt untuk Stasiun 11............................................................          25
12. Segitiga Separt untuk Stasiun 12............................................................          26








I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki luas wilayah laut 5,8 juta km2 terdiri dari 3,1 juta km2 luas laut nusantara, 2,7 juta km2 wilayah zona ekonomi eksklusif Indonesia (ZEEI) dengan jumlah pulau sebanyak 17.480 pulau dan panjang garis pantai diperkirakan 95,181 km. Secara keseluruhan wilayah laut Indonesia mencapai 75,3 % dari total wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (Rompas et al, 2008).
Laut dan sumberdaya alam yang dikandungnya dipahami secara luas sebagai suatu sistem dalam biosfer yang memiliki nilai guna bagi kehidupan ekonomis dan ekologis manusia. Adanya sumber sumberdaya hayati menyediakan peluang bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan protein yang bermanfaat dalam kehidupan manusia. 
Sedimentasi merupakan proses lanjutan dari erosi. Sedimentasi adalah pengendapan (deposisi) dari sedimen. Suspensinya berupa bahan-bahan organik dan anorganik yang tersuspensi di dalam air dan diangkutoleh air yang mengalir (Manan (1997) dalam Tamod (2003)). Sedimentasi yang terjadi di wilayah pesisir terjadi pada muara-muara sungai. Pola-pola sedimentasi tergantung pada pola pergerakan air, apabila gerakan air horizontal tinggi, sedimen akan tetap dalam bentuk larutan.
Namun bila gerakan air perlahan sehingga tidak cukup energi untuk menjaga agar sedimen tetap larut maka akan terjadi proses pengendapan bahan-bahan sedimen. Selain itu energi gerakan air juga berpengaruh terhadap ukuran bahan-bahan sedimentasi yang akan diendapkan. Tingginya proses sedimentasi ini akan berdampak kembali pada manusia itu sendiri seperti terganggunya transportasi laut karena telah terjadi pendangkalan, terjadinya pengurangan lahan/areal, dan sebagainya.
Sedimentologi adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang sedimen. Kata sedimen berasal dari bahasa Yunani, yaitu sedimentum yang berarti pengendapan, sedangkan sedimen diartikan sebagai material-material yang berasal dari pelapukan atau perombakan batuan yang lebih tua atau material yang berasal dari proses weathering batuan dan ditransportasikan oleh air, udara dan es atau material yang diendapkan oleh proses – proses yang terjadi secara alami seperti presipitasi secara kimia atau sekresi oleh organisme, kemudian membentuk suatu lapisan pada permukaan bumi.
Sedimen dapat dibagi dua (berdasarkan proses dan mekanisme pembentuka), yaitu sedimen tekstur klastik; terbentuk dari hasil litifikasi material yang lebih tua dan sedimen nonklastik; terbentuk dari hasil aktifitas kimia dan biologi. Ukuran butiran sedimen dapat menjelaskan berbagai hal seperti, daerah asal sedimen, jenis partikel sedimen, ketahanan partikel sedimen terhadap proses kerusakan, jenis proses yang yang berperan dalam transportasi dan deposisi sedimen. Distribusi frekuensi ukuran butiran sedimen dapat memberikan gambaran tentang kondisi hirologi suatu daerah tempat terjadinya pengendapan tersebut.
Perairan Selat Rupat merupakan perairan yang padat karena perairan ini adalah jalur transportasi nasional maupun internasional. Segala bentuk aktivitas di sekitar kawasan ini akan berdampak langsung pada perairan tersebut baik secara biologi, fisika maupun kimia. Semua material yang masuk ke badan perairan akan dibawa ke arah perairan Selat Rupat dan akan mengendap di dasar perairan. Hasil endapan material-material tersebut berupa material organik dan anorganik yang dikenal dengan istilah sedimen.
Dari segi keadaan geografi Selat Rupat ini, kontribusi debit air dari Sungai Mesjid, meyakinkan bahwa di dasar perairan ini banyak mengandung sedimen. Hal ini akan berpengaruh terhadap substrat sedimen yang lebih didominasi lumpur akan terjadi komposisi yang berbeda serta  sebaran yang merata di setiap perairan Selat Rupat.
1.2. Tujuan
            Praktikum ini bertujuan untuk membuat peta atau menggambarkan sebaran geografis parameter statistika sedimen pada wilayah perairan yang menjadi lokasi praktikum.
1.3. Manfaat
Praktikum ini bermanfaat agar mahasiswa mampu membuat peta atau menggambarkan sebaran geografis parameter statistika sedimen pada wilayah perairan yang menjadi lokasi praktikum.



II. METODE PRAKTIKUM


2.1. Waktu dan Tempat
            Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 13 Mei 2012 yaitu pengambilan sampel di muara Sungai Mesjid dan beberapa titik sampel di Perairan Selat Rupat. Dilanjutkan pada tanggal 1518 Mei 2012 yaitu analisis di Laboratorium Terpadu Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.
2.2. Bahan dan Alat
       Untuk pengambilan sampel dari lapangan diperlukan Grab sampler yang berfungsi untuk mengambil sedimen permukaan yang ketebalannya tergantung dari tinggi dan kedalamannya grab masuk ke dalam lapisan sedimen. Kelebihan dalam memakai grab sampler adalah lokasi sampel dapat ditentukan dengan pasti, prakiraan kedalaman dapat diketahui, sedangkan kerugiannya adalah kapal harus berhenti sewaktu alat dioperasionalkan, sample mudah teraduk dan beberapa fraksi sedimen yang halus dapat hilang sewaktu mengangkatnya, Echosounder untuk melakukan pendugaan kedalaman suatu perairan, terutama selama perjalanan menuju stasiun satu ke stasiun yang lainnya, Kantong plastik berguna sebagai tempat atau wadah setelah sample sedimen diperoleh untuk dapat dibawa ke laboratorium dan Global Positioning System yang berfungsi untuk penentuan lokasi sampling sedimen berdasarkan input data dari satelit. GPS lebih akurat untuk penentuan lokasi sampling atau lokasi suatu daerah secara teliti dan mendetail.
      Sedangkan untuk analisis di laboratorium diperlukan stopwatch, tabung silinder 1000 ml, ayakan bertingkat yang berfungsi untuk memisahkan partikel sedimen berdasarkan kelas ukurannya mulai dari fraksi kerikil sampai pasir. Ukuran Mesh Size alat ini adalah ; 2 mm, 500 um, 250 um, 125 um, 62 um, 31 um, 16 um, 8 um, 4 um, 2 um. Ukuran ini berdasarkan pada skala dan kelas butiran sedimen seperti yang dikemukakan oleh Wenworth (1922)., cawan keramik, pipet volumetri, aluminium foil, oven dan timbangan analitik.
Bahan yang dipergunakan pada praktikum ini mencakup:
1.      Sampel sedimen yang diambil pada setiap titik sampling.
2.      Hidrogen Peroksida (H2O2) 3% untuk memisahkan fraksi yang saling lengket satu sama lain sehingga tidak terdapat kesalahan analisis
2.3. Prosedur Penelitian
            Metode yang digunakan pada praktikum ini ialah metode survei, dengan turun langsung ke lapangan dan analisis di laboratorium, yakni menggunakan metode pipet maupun ayakan bertingkat.
2.3.1. Penentuan Lokasi Sampling
      Lokasi sebelumnya telah ditentukan terlebih dahulu oleh tim panitia pelaksan. Untuk titik koordinat yang pasti maka digunakan Global Positioning System yang berfungsi untuk penentuan lokasi sampling sedimen berdasarkan input data dari satelit. GPS lebih akurat untuk penentuan lokasi sampling atau lokasi suatu daerah secara teliti dan mendetail.
2.3.2. Pengambilan dan Penanganan Sampel
            Setelah persiapan keberangkatan selesai maka pengambilan sampel dilaksanakan. Kapal akan berhenti di maisng-masing titik sampling. Kemudian grab sampler akan diturunkan. Setelah grab sampler telah sampai di dasar perairan, tali grab ditegangkan dengan cara menarik tali sampai tegak lurus dengan posisi grab sampler yang ada di dasar perairan. Jatuhkan bom sampler/ pemberat untuk membuka grab yang ada di dasar perairan. Grab kemudian ditarik ke permukaan dan sampel yang terangkat dimasukkan ke dalam kantong sampel yang berukuran 10 kg kemudian diberi label. Sampel tersebut kemudian disimpan di box atau wadah tertentu yang dianggap aman untuk kemudian dibawa ke laboratorium untuk analisa lebih lanjut. Lalu grab dibersihkan dengan air tawar dan disimpan pada tempatnya.
2.3.3. Parameter Kualitas Perairan
            Selain mengambil sampel sedimen saat turun ke lapangan dilakukan pula pengukuran kualitas perairan antara lain suhu, kedalaman dan arus. Untuk suhu dan kedalaman dapat menggunakan GPS sedangkan untuk arus menggunakan current drogue dan stopwatch.
2.3.4. Analisis Fraksi Sedimen
Analisis Fraksi  Kerikil dan Pasir
·               Sampel yang telah siap di laboratorium tempatkan pada cawan porselin kemudian ditimbang berat basahnya, minimal 25 gram untuk setiap sampel dengan menggunakan timbangan analitik.
·               Sampel basah yang telah ditimbang beratnya, dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 105 0C sampai tidak ada lagi kandungan airnya.
·               Sampel yang telah kering tempatkan dalam cawan porselin tambahkan larutan Hidrogen Peroksida 3% secukupnya lalu gerus hingga agak halus.
·               Sampel yang telah digerus, diayak dengan menggunakan ayakan bertingkat untuk mendapatkan fraksi sedimen yang berbeda sesuai dengan ukurannya masing-masing.
·               Ambil masing-masing sampel yang tertahan pada masing-masing tingkat ayakan, tempatkan ke dalam wadah yaitu aluminium foil yang telah diberi label sementara itu fraksi sedimen yang masih lolos ditempatkan dalam tabung silinder untuk analisis fraksi Lumpur.
·               Keringkan fraksi sampel pasir yang telah didapat sesuai ukuran mesh size dengan menggunakan oven. Setelah kering timbanglah berat masing-masing sampel.
·               Masukkan data berat masing-masing fraksi ke dalam tabel perhitungan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
·               Fraksi pasir dapat dianalisis dengan menggunakan Metoda Pengayakan.
·               Fraksi Lumpur dianalisis dengan menggunakan metoda Pipet.
Analisis Fraksi Lumpur
·               Sedimen yang lolos dari saringan bersama airnya ditampung dalam sebuah wadah kemudian masukkan ke dalam tabung silinder berukuran 1000 ml ditambah dengan Hidrogen Peroksida 3% sebanyak 2 ml lalu aduk.
·               Diamkan selama 24 jam
·               Esoknya sudah akan terlihat endapan di dasar tabung. Setelah itu aduk kembali tabung hingga endapan tadi kembali tersuspensi. Catat waktunya sesaat menjelang air yang bercampur sedimen mendekati batas 1000 ml pada tabung silinder. Tunggu selama 4 menit untuk mendapatkan fraksi sedimen yang pertama menggunakan pipet volumetrik dengan batas yang telah ditentukan sesuai dengan kedalaman 10 ml dan 20 ml.
·               Setelah 4 menit pertama selesai dan sampel diambil, tunggu selama 15 menit lalu dilakukan pengambilan kembali sampel sedimen tersebut.
·               Setelah stopwatch menunjukkan waktu 30 menit maka lakukan lagi pengambilan yang terakhir. Tiap-tiap air sampel yang telah diambil ditempatkan ke dalam wadah aluminium foil yang telah diberi label, lalu keringkan dengan menggunakan oven selama 24 jam.
·               Hitung berat sample yang telah kering beserta berat wadahnya.
2.4. Analisis Fraksi Sedimen
            Dari hasil yang telah dianalisa dilanjutkan dengan perhitungan menggunakan bebrapa rumus berdasarkan Folk dan Ward (1968) dalam Supryadi et al, (1996). Diantaranya adalah:

Folk dan Ward (1968) dalam Supriyadi et al (1996) :


Keterangan :
Apabila nilai SKl negatif, maka kecendrungan partikel sedimen kasar.
Apabila nilai SKl positif, maka kecendrungan partikel sedimen halus.

Kurtosis :      Kg   =

2.5 Asumsi
                  Semua sampel yang diambil untuk analisis farksi sedimen dianggap telah mewakili dari perairan Selat Rupat.












III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil.
Posisi geografis Perairan Selat Rupat ditumbuhi oleh vegetasi mangrove dengan substrat berlumpur. Perairan Selat Rupat mendapat masukan air tawar dari Sungai Mesjid dan Sungai Dumai.
Proses sedimentasi dan fenomena lainya yang akan mempengaruhi substrat dari perairan ini, dengan pola arus yang berbeda serta aktivitas pelayaran akan mempengaruhi sebaran fraksi sedimen di selat rupat. Berikut adalah data kedalaman dan posisi dari titik sampling:
Tabel 1. Data Kedalaman dan Posisi Titik Sampling Pengambilan Sedimen
Stasiun
Letak stasiun

Kedalaman


Keterangan
Letak lintang
Letak bujur
1
010 41’01,0’’
1010 24’36,0‘’
1,5 m


Terlihat tumpahan minyak
2
010 41’03,0’’
1010 24’38,1‘’
2 m
3
010 41’ 1,00’’
1010 24’40,0‘’
2 m
4
010 41’50,2‘’
1010 26’39,0‘’
2 m


Terlihat abrasi pantai pantai
5
010 41’50,3‘’
1010 26’14,4‘’
3 m
6
010 41’50,0‘’
1010 26’23,4‘’
4 m
7
010 41’31,3‘’
1010 29’24,4‘’
7 m


Terlihat abrasi pantai dan tumpahan minyak
8
010 41’31,1‘’
1010 25’25,1‘’
13,13 m
9
010 41’31,2‘’
1010 25’34,6‘’
18 m
10
010 40’59,2‘’
1010 28’45,7‘’
4 cm

Terlihat perairanya tercemar karena tumpahan minyak
11
010 41’22,0‘’
1010 28’47,4‘’
19 m
12
010 41’11,8‘’
1010 28’50,5‘’
34 m

Hasil analisa sampel sedimen pada setiap stasiun yang ditabulasikan ke dalam Tabel dan dapat ditentukan klasifikasinya berdasarkan segitiga Shepard  sebagi berikut :
Tabel 2. Analisa Sampel Sedimen Stasiun 1.
BK Total
Ø
BC
Fraksi
BC + Ø
gr Ø
gr fraksi
% fraksi
% Ø
% kumulatif
19,21
-1
1,12
Kerikil
1,43
0,31
0,31
5,61
5,61
5,61
0
1,14
Pasir
1,15
0,01
5,11
92,41
0,18
5,79
1
1,14
1,37
0,23
4,16
9,95
2
0,97
2,27
1,3
23,51
33,45
3
0,96
3,24
2,28
41,23
74,68
4
1,37
2,66
1,29
23,33
98,01
5
0,97
Lumpur
1
0,03
0,11
1,99
0,54
98,55
6
1,35
1,37
0,02
0,36
98,92
7
0,9
0,94
0,04
0,72
99,64
> 7
1,3
1,32
0,02
0,36
100,00




5,53
5,53
100
100


Ø5 = -1,01    Ø16 = 1,32        Ø25 = 1,7          Ø50 = 2,4          Ø75 = 3        Ø84= 3,21      Ø95 =3,7
% Fraksi    : Kerikil  =   5,61 %
                    Pasir     =    92,41 %
                    Lumpur      =                                  1,99 %



Gambar 1. Segitiga Shepard untuk Fraksi Sedimen Stasiun 1.
Jadi fraksi pada stasiun 1 adalah fraksi pasir

Tabel 3. Analisa Sampel Sedimen Stasiun 2.
BK Total
Ø
BC
Fraksi
BC + Ø
gr Ø
gr fraksi
% fraksi
% Ø
% kumulatif
24,31
-1
0,87
Kerikil
0,98
0,11
0,11
2,66
2,66
2,66
0
0,73
Pasir
0,85
0,12
3,66
88,62
2,91
5,57
1
0,75
0,82
0,07
1,69
7,26
2
0,81
1,22
0,41
9,93
17,19
3
0,86
2,22
1,36
32,93
50,12
4
0,83
2,53
1,7
41,16
91,28
5
0,88
Lumpur
0,93
0,05
0,36
8,72
1,21
92,49
6
0,79
0,96
0,17
4,12
96,61
7
0,79
0,83
0,04
0,97
97,58
> 7
0,76
0,86
0,1
2,42
100,00




4,13
4,13
100
100


Ø5 = -0,15      Ø16 = 1,9        Ø25 = 2,25        Ø50 = 3        Ø75 = 3,35        Ø84= 3,7        Ø95 = 5,7
% Fraksi    :  Kerikil :     2,66%
                     Pasir     :    88,62 %
                     Lumpur :   8,72 %




Gambar 2. Segitiga Shepard untuk Fraksi Sedimen Stasiun 2
Jadi fraksi pada stasiun 2 adalah fraksi pasir.

       Tabel 4. Analisa Sampel Sedimen Stasiun 3.
BK Total
Ø
BC
Fraksi
BC + Ø
gr Ø
gr fraksi
% fraksi
% Ø
% kumulatif
15,41
-1
2,33
Kerikil
2,35
0,02
0,02
0,75
0,75
0,75
0
1,92
Pasir
2,04
0,12
2,48
93,23
4,51
5,26
1
1,8
2
0,2
7,52
12,78
2
2,55
3,19
0,64
24,06
36,84
3
2,01
3,41
1,4
52,63
89,47
4
2,17
2,29
0,12
4,51
93,98
5
1,36
Lumpur
1,42
0,06
0,16
6,02
2,26
96,24
6
2,36
2,42
0,06
2,26
98,50
7
0,99
1,02
0,03
1,13
99,62
> 7
1,99
2
0,01
0,38
100,00




2,66
2,66
100
100

Ø5 = -0,05      Ø16 = 1,2        Ø25 = 1,6       Ø50 = 2,2        Ø75 = 2,65        Ø84= 2,85      Ø95 = 4,4
% Fraksi    : Kerikil  =    0,75 %
                    Pasir     =    93,23%
                    Lumpur      =                                  6,02 %




Gambar 3. Segitiga Shepard untuk Fraksi Sedimen Stasiun 3.
Jadi fraksi pada stasiun 3 adalah fraksi pasir.

Tabel 5. Analisa Sampel Sedimen Stasiun 4.
BK Total
Ø
BC
Fraksi
BC + Ø
gr Ø
gr fraksi
% fraksi
% Ø
% kumulatif
19,4
-1
1,01
Kerikil
1,04
0,03
0,03
0,73
0,73
0,73
0
0,95
Pasir
1,17
0,22
3,91
95,37
5,37
6,10
1
0,99
1,45
0,46
11,22
17,32
2
0,92
2,74
1,82
44,39
61,71
3
0,94
2,05
1,11
27,07
88,78
4
0,94
1,24
0,3
7,32
96,10
5
0,98

Lumpur
1,03
0,05
0,16
3,90
1,22
97,32
6
0,93
0,97
0,04
0,98
98,29
7
0,91
0,94
0,03
0,73
99,02
> 7
1,04
1,08
0,04
0,98
100,00




4,1
4,1
100
100


Ø5 = -0,11      Ø16 = 0,91      Ø25 = 1,21        Ø50 = 1,77     Ø75 = 2,41      Ø84= 2,75      Ø95 = 3,75
% Fraksi    : Kerikil  =    0,73%
                    Pasir     =    95,37%
                    Lumpur =   3,90%                           



Gambar 4. Segitiga Shepard untuk Fraksi Sedimen Stasiun 4.
Jadi fraksi pada stasiun 4 adalah fraksi pasir.
Tabel 6. Analisa Sampel Sedimen Stasiun 5.
BK Total
Ø
BC
Fraksi
BC + Ø
gr Ø
gr fraksi
% fraksi
% Ø
% kumulatif
12,08
-1
0,9
Kerikil
0,99
0,09
0,09
2,17
2,17
2,17
0
0,74
Pasir
0,78
0,04
3,96
95,65
0,97
3,14
1
0,9
0,9
0
0,00
3,14
2
0,94
3,1
2,16
52,17
55,31
3
0,76
2,51
1,75
42,27
97,58
4
0,81
0,82
0,01
0,24
97,83
5
0,95
Lumpur
1,01
0,06
0,09
2,17
1,45
99,28
6
0,55
0,58
0,03
0,72
100,00
7
1,68
1,68
0
0,00
100,00
> 7
1,64
1,64
0
0,00
100,00




4,14
4,14
100
100


Ø5 = 1,09       Ø16 = 1,41        Ø25 = 1,6        Ø50 = 1,91     Ø75 = 2,29      Ø84= 2,45      Ø95 = 2,8
% Fraksi    : Kerikil  =    0,09%
                    Pasir     =    95,65%
                    Lumpur      =                                  2,17%








Gambar 5. Segitiga Shepard untuk Fraksi Sedimen Stasiun 5.
Jadi fraksi pada stasiun 5 adalah fraksi pasir.

Tabel 7. Analisa sampel sedimen pada stasiun 6.
BK Total
Ø
BC
Fraksi
BC + Ø
gr Ø
gr fraksi
% fraksi
% Ø
% kumulatif
13,61
-1
0,66
Kerikil
2,36
1,7
1,7
28,86
28,86
28,86
0
0,86
Pasir
0,89
0,03
4,11
69,78
0,51
29,37
1
0,91
1,02
0,11
1,87
31,24
2
0,86
0,94
0,08
1,36
32,60
3
0,94
3,33
2,39
40,58
73,17
4
0,83
2,33
1,5
25,47
98,64
5
0,83
Lumpur
0,88
0,05
0,08
1,36
0,85
99,49
6
0,87
0,87
0
0,00
99,49
7
1,06
1,06
0
0,00
99,49
> 7
0,99
1,02
0,03
0,51
100,00




5,89
5,89
100
100


   Ø5 Ø5= -1,31      Ø16 = -1,11    Ø25 = -1,01    Ø50 = 2,41      Ø75 = 3,02        Ø84= 3,22      Ø95 = 3,52
% Fraksi    : Kerikil  =    28,86%
                    Pasir     =    69,78%
                    Lumpur      =                                  1,36 %





Gambar 6. Segitiga Shepard untuk Fraksi Sedimen Stasiun 6.
Jadi fraksi pada stasiun 6 adalah fraksi lumpur berpasir.

Tabel 8. Analisa Sampel Sedimen Stasiun 7.
BK Total
Ø
BC
Fraksi
BC + Ø
gr Ø
gr fraksi
% fraksi
% Ø
% kumulatif
8,83
-1
0,68
Kerikil
1,09
0,41
0,41
8,04
8,04
8,04
0
0,82
Pasir
1,29
0,47
1,61
31,42
9,22
17,26
1
0,69
1,2
0,51
10,00
27,27
2
0,69
1,13
0,44
8,63
35,90
3
0,84
0,95
0,11
2,17
38,07
4
1,07
1,14
0,07
1,39
39,46
5
0,75
Lumpur
1,14
0,39
3,09
60,54
7,65
47,11
6
1,39
1,39
0,00
0,02
47,13
7
0,82
1,57
0,75
14,70
61,83
> 7
0,00
1,95
1,95
38,17
100,00




5,11
5,11
100
100


Ø5 = -1,1        Ø16 = -0,11    Ø25 = 0,79        Ø50 = 6,2     Ø75 = 7,1          Ø84= 7,2        Ø95 = 7,4
% Fraksi    : Kerikil  =    8,04%
                    Pasir     =    31,42 %

                    Lumpur      =                                  60,54 %

 


Gambar 7. Segitiga Shepard untuk Fraksi Sedimen Stasiun 7.
Jadi fraksi pada stasiun 7 adalah fraksi lumpur berpasir.

Tabel 9. Analisa Sampel Sedimen Stasiun 8.
BK Total
Ø
BC
Fraksi
BC + Ø
gr Ø
gr fraksi
% fraksi
% Ø
% kumulatif
1,62
-1
1,3
Kerikil
1,3
0
0
0,00
0,00
0,00
0
0,86
Pasir
0,96
0,1
3,32
95,13
2,87
2,87
1
0,82
1,17
0,35
10,03
12,89
2
0,88
2,14
1,26
36,10
49,00
3
0,53
0,56
0,03
0,86
49,86
4
0,66
2,24
1,58
45,27
95,13
5
1,01
Lumpur
1,06
0,05
0,17
4,87
1,43
96,56
6
0,92
1,01
0,09
2,58
99,14
7
1,14
1,17
0,03
0,86
100,00
> 7
0,82
0,82
0
0,00
100,00




3,49
3,49
100
100


Ø5 = 0,35       Ø16 = 1,12      Ø25 = 1,4          Ø50 = 3        Ø75 = 3,4          Ø84= 3,59      Ø95 = 3,99
% Fraksi    : Kerikil  = 0%
                    Pasir      = 95,13%
                    Lumpur = 4,87%




Gambar 8. Segitiga Shepard untuk Fraksi Sedimen Stasiun 8.
Jadi fraksi pada stasiun 8 adalah fraksi pasir.



Tabel 10 . Analisa Sampel Sedimen Stasiun 9.
BK Total
Ø
BC
Fraksi
BC + Ø
gr Ø
gr fraksi
% fraksi
% Ø
% kumulatif
14,27
-1
0,92
Kerikil
0,94
0,02
0,02
0,75
0,75
0,75
0
1,29
Pasir
1,3
0,01
2,4
89,55
0,37
1,12
1
1,18
1,4
0,22
8,21
9,33
2
1,05
2,86
1,81
67,54
76,87
3
1,25
1,26
0,01
0,37
77,24
4
1,22
1,57
0,35
13,06
90,30
5
0,87
Lumpur
0,95
0,08
0,26
9,70
2,99
93,28
6
0,82
0,89
0,07
2,61
95,90
7
0,93
0,99
0,06
2,24
98,13
> 7
0,75
0,8
0,05
1,87
100,00




2,68
2,68
100
100


Ø5 = 0,58       Ø16 = 1,19      Ø25 = 1,31     Ø50 = 1,65        Ø75 = 1,99      Ø84= 3,42      Ø95 = 3,56
% Fraksi    : Kerikil  =    75 %
                    Pasir     =    89,55 %

                    Lumpur      =                                  9,70 %




Gambar 9. Segitiga Shepard untuk Fraksi Sedimen Stasiun 9.
Jadi fraksi pada stasiun 9 adalah fraksi pasir.

Tabel 11 . Analisa Sampel Sedimen Stasiun 10.
BK Total
Ø
BC
Fraksi
BC + Ø
gr Ø
gr fraksi
% fraksi
% Ø
% kumulatif
1,9
-1
0,47
Kerikil
0,88
0,41
0,41
7,00
7,00
7,00
0
0,48
Pasir
0,49
0,01
5,4
92,15
0,17
7,17
1
0,63
0,88
0,25
4,27
11,43
2
0,61
1,73
1,12
19,11
30,55
3
0,51
2,85
2,34
39,93
70,48
4
0,71
2,39
1,68
28,67
99,15
5
0,69
Lumpur
0,71
0,02
0,05
0,85
0,34
99,49
6
0,57
0,59
0,02
0,34
99,83
7
0,57
0,57
0
0,00
99,83
> 7
0,49
0,5
0,01
0,17
100,00




5,86
5,86
100
100


Ø5 = -1,09      Ø16 = 1,25      Ø25 = 1,61     Ø50 = 2,25        Ø75 = 2,78      Ø84= 3           Ø95 = 3,45

% Fraksi    : Kerikil  =    7,00%
                    Pasir     =    92,15 %
                    Lumpur      =                                  0,85 %



Gambar 10. Segitiga Shepard untuk Fraksi Sedimen Stasiun 10.
Jadi fraksi pada stasiun 10  adalah fraksi pasir.

Tabel 12 . Analisa Sampel Sedimen Stasiun 11.
BK Total
Ø
BC
Fraksi
BC + Ø
gr Ø
gr fraksi
% fraksi
% Ø
% kumulatif
13,32
-1
0,64
Kerikil
0,64
0
0
0,00
0,00
0,00
0
0,59
Pasir
0,59
0
0,19
41,30
0,00
0,00
1
0,61
0,65
0,04
8,70
8,70
2
0,61
0,62
0,01
2,17
10,87
3
1,56
1,56
0
0,00
10,87
4
0,66
0,8
0,14
30,43
41,30
5
0,57
Lumpur
0,64
0,07
0,27
58,70
15,22
56,52
6
0,59
0,67
0,08
17,39
73,91
7
0,61
0,66
0,05
10,87
84,78
> 7
0,69
0,76
0,07
15,22
100,00




0,46
0,46
100
100


Ø5 = 0,89       Ø16 = 3,22      Ø25 = 3,52        Ø50 = 4,59   Ø75 = 6,10        Ø84= 6,95      Ø95 = 7,20
% Fraksi    : Kerikil  =    0 %
                    Pasir     =    41,30%
                    Lumpur      =                                  58,70 %



Gambar 11. Segitiga Shepard untuk Fraksi Sedimen Stasiun 11.
Jadi fraksi pada stasiun 11 adalah fraksi pasir berlumpur.

Tabel 13 . Analisa Sampel Sedimen Stasiun 12.
BK Total
Ø
BC
Fraksi
BC + Ø
gr Ø
gr fraksi
% fraksi
% Ø
% kumulatif
22,91
-1
0,6
Kerikil
0,6
0
0
0,00
0,00
0,00
0
0,39
Pasir
1,85
1,46
10,98
99,46
13,22
13,22
1
0,65
3,44
2,79
25,27
38,50
2
0,63
6,64
6,01
54,44
92,93
3
0,55
1,26
0,71
6,43
99,37
4
0,63
0,64
0,01
0,09
99,46
5
0,62
Lumpur
0,63
0,01
0,06
0,54
0,09
99,55
6
0,35
0,35
0
0,00
99,55
7
0,7
0,73
0,03
0,27
99,82
> 7
0,61
0,63
0,02
0,18
100,00




11,04
11,04
100
100


Ø5 = -0,20      Ø16 = 0,15      Ø25 = 0,51        Ø50 = 1,15   Ø75 = 1,52        Ø84= 1,71      Ø95 = 2,20
% Fraksi    : Kerikil  =    0 %
                    Pasir     =    99,46%
                    Lumpur      =                                  0,54 %




Gambar 12. Segitiga Shepard untuk Fraksi Sedimen Stasiun 12.
Jadi fraksi pada stasiun 12 adalah fraksi pasir.

Tabel 14. Parameter Statistika Sedimen
stasiun
MZ
klasifikasi
MD
SO
Klasifikasi
KG
klasifikasi
SKL
klasifikasi
1
2
medium sand
2,40
1,19
poorly sorted
1,48
leptokurtic
-5,22
kecendrungan partikel sedimen kasar
2
3
fine sand
3,00
1,31
poorly sorted
1,85
very leptokurtic
-2,20
kecendrungan partikel sedimen kasar
3
3
fine sand
2,20
1,09
poorly sorted
1,74
very leptokurtic
-0,40
kecendrungan partikel sedimen kasar
4
2
medium sand
1,77
1,04
poorly sorted
1,32
leptokurtic
0,30
kecendrungan partikel sedimen halus
5
2
medium sand
1,91
0,52
moderately well sorted
1,02
mesokurtic
0,08
kecendrungan partikel sedimen halus
6
2
medium sand
2,41
1,81
poorly sorted
0,49
very platykurtic
-12,17
kecendrungan partikel sedimen kasar
7
4
very fine sand
6,20
3,12
very poorly sorted
0,55
very platykurtic
-45,33
kecendrungan partikel sedimen kasar
8
3
fine sand
3,00
1,17
poorly sorted
0,75
platykurtic
-4,61
kecendrungan partikel sedimen kasar
9
3
fine sand
1,65
1,31
poorly sorted
3,00
very leptokurtic
8,53
kecendrungan partikel sedimen halus
10
2
medium sand
2,25
1,13
moderately sorted
1,59
leptokurtic
-5,08
kecendrungan partikel sedimen kasar
11
5
coarse silt
4,59
1,89
poorly sorted
1,00
mesokurtic
-1,59
kecendrungan partikel sedimen kasar
12
1
coarse sand
1,15
0,75
moderately sorted
0,97
mesokurtic
-0,70
kecendrungan partikel sedimen kasar

3.2. Pembahasan
Setelah melakukan analisa terhadap fraksi sedimen maka diperoleh data means size, median, sorting, kurtosis dan skewness. Dari data  pada tabel 14 dilihat bahwa mean size (diameter rata - rata) sedimen berkisar  1 – 5. Pada stsiun 12 merupakan coarse sand yakni pasir kasar. Pada stasiun 1, 4, 5, 6 dan 10 merupakan medium sand yakni pasir menengah. Pada stasiun 2, 3, 8 dan 9  merupakan fine sand yakni pasir halus. Pada stasiun 7  merupakan very fine sand yakni pasir sangat halus. Pada stasiun 11 merupakan coarse silt yakni lumpur kasar.
Dari hasil analisis diameter sedimen rata – rata sediment dapat disimpulkan bahwa sedimen yang terdapat di daerah pratikum hampir semua merupakan fraksi pasir kecuali pada stasiun 6 dan 7 adalah fraksi lumpur berpasir.  Stasiun 11 adalah fraksi pasir berlumpur. Besar butir rata-rata merupakan fungsi ukuran butir dari suatu populasi sedimen (missal pasir kasar, pasir sedang, dan pasir halus). Besar butir rata-rata dapat juga menunjukkan kecepatan turbulen/ sedimentasi dari suatu populasi sedimen.
Perbedaan karakteristik dan sebaran sedimen dasar perairan, diantaranya disebabkan oleh perbedaan ukuran dalam material induk. Ukuran butir partikel sedimen adalah salah satu faktor yang mengontrol proses pengendapan sedimen di perairan, semakin kecil ukuran butir semakin lama partikel tersebut dalam kolam air dan semakin jauh diendapkan dari sumbernya, begitu juga sebaliknya.
Sebagian bentuk partikel-partikel mempengaruhi mode transportasi dalam air. Bentuk ikut menentukan apakah partikel-partikel tersebut ditransportasi recara rolling atau dibawa dalam tersuspensi. Bentuk merupakan bagian yang mengontrol tingkah laku partikel yang jatuh dalam cairan. Salah satu faktor yang termasuk dalam proses pembentukan partikel-partikel berukuran besar adalah jarak perjalanan partikel tersebut dari asalnya. Ada dua konsep penting yang berhubungan dengan bentuk yaitu: Sphericity.dan Roundness
Sortasi dapat menunjukkan batas ukuran butir atau keanekaragaman ukuran butir, tipe dan karakteristik serta lamanya waktu sedimentasi dari suatu populasi sedimen. Menurut Friedman dan Sanders (1978), sortasi atau pemilahan adalah penyebaran ukuran butir terhadap ukuran butir rata-rata. Sortasi dikatakan baik jika batuan sedimen mempunyai penyebaran ukuran butir terhadap ukuran butir rata-rata pendek. Sebaliknya apabila sedimen mempunyai penyebaran ukuran butir terhadap rata-rata ukuran butir panjang disebut sortasi jelek.
Ada hubungan antara ukuran butir dan sortasi dalam batuan sedimen. Hubungan ini terutama terjadi pada batuan sedimen berupa pasir kasar sampai pasir sangat halus. Pasir dari berbagai macam lingkungan air menunjuk bahwa pasir halus mempunyai sortasi yang lebih baik daripada pasir sangat halus. Sedangkan pasir yang diendapkan oleh angin sortasi terbaik terjadi pada ukuran pasir sangat halus (Kusumadinata, 1980).
Nilai sorting pada daerah pratikum berkisar antara 0,523,12 dengan klasifikasi poorly sorted pada stasiun 1, 2, 3, 4, 6, 8, 9 dan 11 ( hal ini menandakan bahwa partikel terpilah buruk dimana terdapat perbedaan besar butir cukup mencolok). Pada stasiun 5 merupakan moderatey well sorted (partikel terpisah sedang-baik dimana partikelbesar butir hampir sama) dan stasiun 7 merupakan very poorly sorted  (hal ini menandakan bahwa partikel terpilah sangat buruk dimana besar butir partikel berbeda). Pada stasiun 10 dan12 merupakan moderately sorted (hal ini menandakan bahwa partikel terpilah sedang dimana besar butir tidak begitu sama).
Kepencengan (Skewness) adalah penyimpangan distribusi ukuran butir terhadap distribusi normal. Distribusi normal adalah suatu distribusi ukuran butir dimana pada bagian tengah dari sampel mempunyai jumlah butiran paling banyak. Butiran yang lebih kasar serta lebih halus tersebar di sisi kanan dan kiri dalam jumlah yang sama. Apabila kecendrungan partikel sedimen kasar, maka kepencengannya bernilai negative. Sedangkan apabila kecendrungan partikel sedimen halus, maka kepencengannya bernilai positif.
Nilai skewness daerah pratikum berkisar antara (-45,33) – 8,53. Untuk skewness pada daerah praktikum hanya pada stasiun 4, 5 dan 9 berniai positif, artinya pada daerah tersebut kecendrungan partikkel sedimen halus. Sedangkan untuk stasiun lainnya skewness bernilai negatif  yang menandakan kecendrungan partikel sedimen kasar. Negative skewness disebabkan oleh kelebihan material – material kasar dari distribusi normal dan diduga dihasilkan oleh lingkungan yang menjadi sasaran aktifitas gelombang dan arus, sedangkan positively skewness dihasilkan oleh lingkungan dimana aktivitas gelombang.
Untuk nilai kurtosis didapatkan bahwa pada stasiun 5, 11 dan 12  merupakan mesokurtic yang menandakan kurvanya memiliki puncak yang tidak begitu tajam atau atau tidak terlalu datar. Sedangkan pada stasiun1, 4 dan 10 merupakan leptokurtic yang menggambarkan kurva yang memiliki puncak yang tajam. Pada stasiun 8 adalah platykurtic yang menggambarkan kurva yang tumpul. Pada stasiun 2, 3 dan 9 adalah very leptokurtic yang menggambarkan puncak yang sangat tajam. Pada stasiun 6 dan 7 merupakan very platykurtic yang menggambarkan puncak sangat tumpul.
Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh media air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan. Sedangkan batuan sedimen adalah suatu batuan yang terbentuk dari hasil proses sedimentasi, baik secara mekanik maupun secara kimia dan organik. Arus dan gelombang merupakan faktor kekuatan utama yang menentukan arah dan sebaran sedimen. Kekuatan ini pula yang menyebabkan karakteristik sedimen berbeda sehingga pada dasar perairan disusun oleh berbagai kelompok populasi sedimen. Sebaran sedimen pantai atau transport sedimen pantai adalah gerakan sedimen di daerah pantai yang disebabkan oleh gelombang dan arus.
Turbulensi dari gelombang pecah mengubah sedimen dasar (bed load) menjadi suspensi (suspended load). Gelombang pecah menimbulkan arus dan turbulensi yang sangat besar yang dapat menggerakkan sedimen dasar. Pembentukan sedimen dikontrol oleh pH dan Eh, dan berbagai proses kimia terjadi pada larutan dalam sedimen khususnya proses yang mempengaruhi pH dan Eh. Proses-proses kimia mempengaruhi proses pengendapan (sedimentasi) di perairan. Perubahan pH perairan mempengaruhi proses pelarutan dan presipitasi partikel-partikel sedimen. Reaksi kimia terjadi diantara partikel-partikel tersebut dengan air.
Dalam lingkungan sedimen, Eh dan pH saling tergantung satu sama lainnya. Perbedaan proses sedimentasi antara satu tempat dengan lainnya di perairan disebabkan oleh karakteristik fisika. Suhu, salinitas dan densitas perairan mempengaruhi kecepatan tenggelam partikel sedimen. Partikel dengan ukuran yang sama dideposisi lebih cepat pada suhu rendah dibandingkan dengan suhu tinggi. Salinitas yang lebih tinggi dapat menyebabkan densitas lebih tinggi ketika suhu perairan lebih dingin.


                                            IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4. 1. Kesimpulan
            Melihat keadaan perairan Selat Rupat dapat disimpulkan bahwa berdasarkan ukuran rata-rata dari ukuran partikel sedimen yang mendominasi adalah fraksi pasir. Berdasarkan nilai Sorting, terlihat bahwa partikel sedimen pada umumnya terpisah dengan buruk. Dilihat dari nilai kurtosisnya sangat beragam yakni mulai dari mesokurtic, leptokurtic, very leptokurtic, platykurtic dan very platykurtic. Selanjutnya dari nilai Skewness dominan bernilai negatif, hal ini dapat menggambarkan bahwa kecendrungan partikel kasar.
            Perbedaan ukuran dan jenis sedimen yang terjadi di perairan Selat Rupat dapat disebabkan banyak faktor antara lain pasang surut, arus, gelombang serta faktor fisika dan kimia yang terjadi di perairan Selat Rupat.
             
4. 2. Saran
            Dari praktikum yang telah dilaksanakan maka untuk kedepannya diharapkan mematangkan persiapannya sehingga saat turun ke lapangan praktikan mengerti dalam pemakaian alat dan ada pembagian tugas dalam setiap kelompok. Selain itu ukuran kapal yang digunakan untuk berlayar hendaknya mampu menampung praktikan yang akan turun ke lapangan sehingga seluruh praktikan mendapatkan pengalaman di lapangan.
             


DAFTAR PUSTAKA


Friedman, G.M. and Sanders. 1978. Principle of Sedimentology. John Willey & Son. New York, Chichister, Brisbane,Toronto,Singapore.
Kusumadinata.K.R.P.1980. Prinsip Prinsip Sedimentasi. Dept Teknik ITB. Bandung.
Rompas.RM, Sahala Hutabarat, Julia Robert Rompas. 2008. Pengantar Ilmu Kelautan. Jakarta: Dewan Kelautan Indonesia.
Supryadi, I. H., Wouthuyzen, S., Sunarto. 1996. Sebaran dan Komposisi Sedimen di Beberapa Teluk di Seram Barat. PerairanMaluku dan Sekitarnya. (11) : 99 – 115.
Tamod, Z.E dan Kawung, E.J.R. 2003. Estimasi sedimentasi (beban suspensi) sungai utama hulu DAS Tondano. : Universitas Sam Ratulangi. Fakultas Pertanian. Eugenia : media publikasi ilmu pertanian. (9) : 142-149.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar