Thursday, August 18, 2016

KARAKTERISTIK LUBANG PERSEMBUNYIAN DAN VARIASI UKURAN KERANG SIPETANG

KARAKTERISTIK LUBANG PERSEMBUNYIAN DAN VARIASI UKURAN KERANG SIPETANG

 

I.                   PENDAHULUAN


1.1.            Latar belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tertinggi di dunia, sehingga mendapat julukan sebagai biodiversity country. Keanekaragaman hayati ini mencakup ekosistem, spesies yang berada di darat dan laut, padahal luas daratan Indonesiia hanya 1,5 % dari luas di dunia. Selain geologi pembentukan yang berbeda di antara pulau-pulau di Indonesia, variasi iklim dari bagian barat yang lembab sampai bagian timur yang kering sangat mempengaruhi pembentukan ekosistem dan distribusi binatang maupun tumbuhan yang ada di dalamnya (Susmianto, 2004).
Wilayah Kota Dumai terletak pada posisi koordinat 101o23’37” – 101o28’13” BT dan 01o23’00” – 01o24’23” LU. Wilayahnya terdiri dari tanah rawa bergambut  dengan kedalaman 0–0,5 m dan beberapa kilometer ke arah Selatan terdapat daratan rendah dengan kemiringan 0–5 %. Memiliki luas 1.772,38 km2 terdiri dari 5 kecamatan dan 32 kelurahan. Kelima  kecamatan tersebut yaitu Kecamatan Dumai Barat dengan luas 120 km2, Kecamatan Dumai Timur dengan luas 59 km2 dan Kecamatan Bukit Kapur dengan luas 250 km2, Kecamatan Medang Kampai 373 dan Kecamatan Sungai Sembilan 970,38 km2 (Hanif, 2011).
Perairan pesisir Kota Dumai merupakan bagian dari selat Rupat, selat ini terletak antara daratan pulau Sumatera dengan pulau Rupat. Bagian utara dan timur selat Rupat berhubungan langsung dengan selat Malaka maka pada musim-musim tersebut kondisi di selat Malaka akan merambat masuk ke perairan pesisir Kota Dumai melalui ujung utara dan timur selat Rupat, sehingga pada beberapa bagian pesisir terutama bagian timur dan utara terjadi abrasi pantai akibat aksi gelombang besar yang merambat dari selat Malaka (Hanif, 2011).
Sebagai suatu sistem yang utuh, wilayah pesisir memiliki dinamika yang khas yang semestinya menjadi pertimbangan dalam pemanfaatannya. Dalam konteks ekologi wilayah pesisir akan berakibat pada tidak mulusnya roda dinamika komponen sistem yang lain yang ada dalam wilayah pesisir, termasuk dinamika pemanfaatannya (Abrahamsz et al, 2005).  
Kampus Marine Station (Stasiun Kelautan) Universitas Riau berada di Jalan Raja Ali Haji Purnama, daerah pesisir Kota Dumai, tepatnya di Muara Sungai Masjid dan Selat Rupat. Kampus ini memiliki kawasan ekosistem mangrove yang  dapat dikatakan cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari kerapatan pohon-pohon bakau dikawasan tersebut, juga keanekaragaman hayati untuk flora dan faunanya yang cukup beragam dan saling barasosiasi dalam ekosistem tersebut, termasuk juga dalam hal ini sipetang.
Penggunaan organisme laut sebagai objek penelitian perlu dilakukan karena dapat menggambarkan kualitas lingkungan perairan. Bivalvia merupakan kelompok organisme yang cukup dominan pada perairan laut, khususnya mangrove. Sipetang (Pharus sp) merupakn salah satu organisme yang banyak terdapat pada ekosistem mangrove. Namun hingga sampai saat ini masih belum banyak orang yang meneliti sipetang jika dibandingkan dengan jenis bivalvia lainnya. Oleh karena itu praktikan tertarik untuk melakukan praktikum Metode Ekologi Muara dan Pantai yang berkaitan dengan Sipetang.

1.2.            Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan praktikum Metode Ekologi Muara dan Pantai adalah untuk mengetahui karakteristik lubang tempat bersembunyi sipetang, melihat variasi ukuran dari sepetang pada saat dilaksanakan praktikum. Selain itu praktikum ini juga merupakan ajang pelatihan bagi  mahasiswa sebelum melakukan penelitian terhadap objek yang terkait.

1.3.            Manfaat

Manfaat dari pelaksanaan praktikum Metode Ekologi Muara dan Pantai adalah diharapkan dapat mejadi salah satu sumber informasi sehingga mampu menambah wawasan bagi pembaca dan menambah pengalaman bagi praktikan khususnya.



II.                TINJAUAN PUSTAKA


2.1.            Sipetang (Pharus sp.)

Sipetang adalah kerang (bivalva) yang tergolong organisme makrofauna, bentuk tubuhnya memanjang, mempunyai cangkang yang rapuh, hidup pada lubang pada genangan air baik pada waktu pasang ataupun surut di hutan mangrove yang terlindung dari cahaya matahari dengan sedimen dasar didominasi oleh lumpur, makan dengan cara menyaring makanan (filter feeder) dan menunggu makanannya di dalam lubang. Lubang tempat tinggalnya berbentuk pipih dan lurus ke dalam sedimen serta tidak berkelok-kelok. Masyarakat memperolehnya pada saat petang hari sehingga jenis ini disebut sipetang (Tanjung, 2000 dalam Tobing, 2007).

Gambar 1. Sipetang





2.2.            Klasifikasi

Sipetang dalam tata namanya dikla`sifikasikan kedalam
Phylum            : Mollusca,
Kelas               : Pelecipoda,
Sub kelas         : Limellibrancia,
Ordo                : Venoroida,
Famili              : Solecurtidae,
Genus              : Pharus
Spesies            : Pharus sp. atau Pharella actuidens

2.3.            Morfologi

Bivalvia atau lebih dikenal dengan kerang, mempunyai dua keping atau belahan yaitu belahan sebelah kanan dan kiri yang disatukan oleh suatu engsel bersifat elastis disebut ligamen dan mempunyai satu atau dua otot adductor dalam cangkangnya yang berfungsi untuk membuka dan menutup kedua belahan cangkang tersebut. Untuk membedakan belahan kanan dan balahan kiri cangkang terkadang mengalami kesulitan, hal ini biasa terjadi pada bivalvia yang hidup menempel pada benda keras misalnya pada karang, karena pertumbuhan bivalvia ini mengikuti bentuk dari permukaan karang tersebut sehingga bentuknya tidak wajar (Barnes, 1987 dalam Adhy, 2010).
Hewan sipetang mempunyai bentuk cangkang yang memanjang tersiri dari belahan yang simetris. Bagian anterior cangkang mempunyai ujung yang agak meruncing jika dibandingkan dengan posterior cangkang yang ujungnya membundar, terletak berlawanan arah dengan anterior. Umbo terletak berdekatan dengan anterior, permukaan cangkang dipenuhi oleh guratan-guratan berbentuk garis yang melingkari umbo, biasanya disebut garis pertumbuhan (Broom, 1985).
Morfologi dari spesies ini menurut Storer et al., (1997) dalam Tobing (2007) adalah simetris bilateral dengan tubuh lunak yang memenuhi kedua cangkang lateral dan secara dorsal berhimpitan. Nontji (1993) dalam Tobing (2007) menyatakan bivalva memiliki kepala dan kaki yang berbentuk kampak. Cangkang  yang melindungi tubuh berbentuk bulatan ditandai dengan garis pertumbuhan konsentrik yang berputar ke arah yang lebih besar (umbo) dekat dengan ujung anterior bagian dorsal.
Jorgensen (1990) dalam Tobing (2007) menambahkan, sendi ligamen manahan cangkang bagian dorsal bersama – sama dan membentang untuk membuat kedua belah cangkang yang menandakan dimana beberapa otot melekat. Otot ini berperan membuka cangkang dan menggerakkan kakinya. Dan siphon merupakan tempat pemasukan dan pengeluaran air dan lumpur.

2.4.            Habitat

Menurut Suwignyo (2005) dalam Susiana (2011), Bivalvia umumnya terdapat di dasar perairan yang berlumpur atau berpasir, beberapa hidup pada substrat yang lebih keras seperti lempung, kayu, atau batu. Habitat mangrove ditandai oleh besarnya kandungan bahan organik, perubahan salinitas yang besar, kadar oksigen yang minimal dan kandungan H2S yang tinggi  sebagai hasil penguraian sisa bahan organik yang miskin oksigen.
Pharus sp sebagai hewan benthos, hidup diperairan yang dangkal pada substrat lumpur halus, hewan ini dapat dijadikan bioindikator untuk mengetahui kualitas suatu perairan, krena sifatnya yang filter feeder dan hidup menetap (Febrita et al, 2006). Cara hidup organisme estuari termasuk sipetang menurut Nybakken (1988) dalam Tobing (2007) adalah dengan cara menggali lubang pada suatu substrat berlumpur yang sesuai dengan ukuran tubuhnya.














III.             METODOLOGI


3.1.            Waktu dan tempat

Praktikum Metode Ekologi Muara dan Pantai dilaksanakan pada hari Sabtu 12 Mei 2012 pukul 13.30 – 15.30 WIB. Bertempat di kawasan hutan mangrove Kampus Marine Station (Stasiun Kelautan) di Kelurahan Purnama, Kecamatan Dumai Barat, Kota Dumai, Provinsi Riau.

3.2.            Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Alat Tulis untuk mencatat data-data yang perlu ketika di lapangan, botol sebagai wadah bagi sipetang yang diambil dari lokasi praktikum, kamera untuk mendokumentasikan kegiatan praktikum danobjek praktikum. Sedangkan bahan yang dijadikan objek praktikum adalah hewan sipetang.

3.3.            Metode Praktikum

Praktikum dilakukan dengan metode Survey yakni pengamatan langsung di lapangan. Data yang didapat kemudian dikumpulkan dan diolah untuk selanjutnya dideskripsikan.


3.4.            Prosedur Praktikum

Karakteristik lubang tempat hidup sipetang :
·         Telusuri substrat di lantai hutan mangrove yang dialiri air,
·         Periksa setiap lubang tersebut satu per satu apakah terdapat sipetang atau tidak,
·         Setelah lubang tempat hidup sipetang telah ditemukan, selanjutnya amati karakteristik atau perbedaan lubang tersebut dibandingkan lubang yang tidak terdapat sipetang.
·         Amati berdasarkan ukuran lubang, kedalamalubang, aktivitas yang terlihat dari luar lubang, jenis substrat tempat lubang itu dibuat dan lain-lain.
Analisis ukuran sipetang
            Analisis ukuran sipetang menggunakan statistik sederhana dengan menggunakan aplikasi M. Excel. Analisis ukuran berdasarkan :
·         Mean = jumlah seluruh ukuran individu / jumlah individu atau di M. Excel menggunakan formula =average( nilai batas atas : nilai batas atas), digunakan ketika data telah diurutkan.
·         Median = (jumlah individu + 1) / 2 atau di M. Excel menggunakan formula =median( nilai batas atas : nilai batas atas), digunakan ketika data telah diurutkan.
·         Modus jumlah individu yang sering muncul atau di M. Excel menggunakan formula =mode( nilai batas atas : nilai batas atas), digunakan ketika data telah diurutkan.
·         Max = nilai maksimum atau di M. Excel menggunakan formula =max( nilai batas atas : nilai batas atas), digunakan ketika data telah diurutkan.
·         Min = nilai minimum atau di M. Excel menggunakan formula =mean( nilai batas atas : nilai batas atas), digunakan ketika data telah diurutkan.














IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1.            Hasil

Ketika melakukan pencarian sipetang di lokasi praktikum terlihat banyak sekali lubang–lubang tempat hidupnya organisme kerang-kerangan di lantai  hutan mangrove yang  tergenang air.  Berdasarkan Pengamatan langsung di lapangan didapat karakteristik lubang tempat hidup sipetang. Adapun lubang bersembunyi sipetang memiliki karakteristik sebagai berikut :
·           Pada umumya bersubstrat lumpur yang halus atau lempung.
·           Bentuk lubang pipih.
·           Vertikal ke arah kedalam substrat.
·           Lubang tempat hidup sipetang tergenang air.
·           Terlihat adanya sirkulasi air yang keluar darilubang tersebut ketika air dalam keadaan tenang yang menandakan adanya organisme yang hidup di dalam lubang tersebut.
·           Mulut lubang tempat hidup berlendir.
·           Kedalaman lubang tempat hidup umumnya kira-kira sepanjang jari telunjuk orang dewasa, bahkan terkadang bisa jauh lebih dalam.
Sedangkan ukuran panjang sipetang disusun di dalam tabel dibawah ini :
Tabel 1. Ukuran panjang Sipetang
Sipetang
panjang (cm)

Sipetang
panjang (cm)
1
2

15
5,2
2
4,2

16
5,2
3
4,2

17
5,3
4
4,4

18
5,6
5
4,5

19
5,7
6
4,5

20
5,8
7
4,5

21
5,9
8
4,6

22
6,2
9
4,8

23
6,3
10
4,9

24
6,3
11
4,9

25
6,5
12
5

26
6,5
13
5

27
6,7
14
5





4.2.            Pembahasan

Lubang tempat hidup sipetang yang ditemukan digenangi air dan juga terlihat aktivitas air keluar masuk dari atau ke lubang tempat hidup sipetang. Hal ini disebabkan karena sipetang merupakan hewan akuatik yang merupakan filter feeder yakni hewan yang mendapatkan makanan dengan cara menyaring bahan makanan yang terlarut dengan air. Oleh sebab itu, ketika air di sekitar lubang dalam keadaan tenang, maka akan terlihat aktivitas sirkulasi air keluar masuk dari lubang tersebut.
Sipetang ditemukan pada substrat lumpur halus. Hal ini sesuai dengan Febrita et al (2006) yang menyatakan bahwa Sipetang merupakan jenis organisme yang senang hidup di perairan bersedimen lumpur dan daerahnya terlindung dari gerakan langsung ombak laut. Bentuk lubang tempat hidup sipetang pipih dan vertikal ke arah dalam substrat. Hal ini sesuai dengan Nusrawati (2000) dalam Tobing (2007) yang menyatakan bahwa Lubang yang dibentuk oleh sipetang memiliki bentuk pipih memanjang lurus ke bawah. Hal ini disebabkan oleh bentuk tubuh sipetang yang pipih lateral dan memanjang.
Adapun hasil analisis dari ukuran panjang sipetang adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Analisis statistik
Mean :
5,17
Median :
5
Modus :
4,5
Max :
6,7
Min :
2

Berdasarkan hasil analisis statistik sederhana, dari ukuran sipetang ditemukan bahwa ukuran panjang rata-rata dari sipetang adalah 5,17 atau rata-rata ukuran panjang sipetang pada saat dilakukannya praktikum adalah 5 cm. Median atau nilai tengah dari populasi sipetang tersebut adalah 5 cm. Modus atau nilai yang sering muncul dari populasi tersebut adalah 4,5 cm, namun nilai ini tidak dapat menggambarkan bahwa kebanyakan sipetang yang ditemukan berukuran demikian, karena jika dilihat dari ukuran masing-masing individu sipetang yang tertangkap kebanyakan berukuran < 4,5 cm dan > 4,5cm. Ukuran sipetang paling panjang yang didapat adalah 6,7 cm dan ukuran sipetang paling pendek adalah 2 cm dengan jumlah 1 individu.


V.                KESIMPULAN DAN SARAN


5.1.            Kesimpulan

Lubang tempat tempat hidup sipetang memiliki perbedaan darilubang tempat hidup kerang-kerangan lain. Lubang tempat hidup sipetang memiliki saluran tempatkeluarnya air, mulut lubang berlendir dan umunya berada pada substrat luumpur halus dan lempung.
Berdasarkan dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa ukuran panjang rata-rata dari sepetang yang ditemukan adalah 5 cm. Ukuran sipetang yang paling panajang adalahh 6,7 cm dan hampir panjang keseluruhan sipetang berkisar antara 4 – 6 cm. Sipetang yang terkecil berukuran 2 cm dengan jumlah 1 individu.

5.2.            Saran

Penulis berharap kepada peneliti agar lebih banyak meneliti tentang sipetang dan hasil penelitian tersebut dapat dipublikasikan. Karena penulis cukup sulit menemukan literatur-literatur terbaru yang berkaitan dengan sipetang. Selain itu, masih banyak kesempatan bagipeneliti muda uuntuk meneliti hal-hal yang berkaitan dengan sipetang.




DAFTAR PUSTAKA

Abrahamsz, A., Tuapattinaja, M. A. 2005. Evaluasi kawasan konservasi hutan mangrove di Desa Passo. Ichthyos : jurnal penelitian ilmu-ilmu perikanan dan kelautan. Universitas Pattimura. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. 4 (93-98).
Adhy. 2010. Pelecypoda Hutan Mangrove. http://pelecypoda.blogspot.com/. (diakses pada tanggal 20 Juni 2012 pukul 23.00).
Febrita, E., Suswono, Umairah, D. 2006. Kandungan Logam Berat (Pb Dan Cu) Pada Sipetang (Pharus Sp) Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan Di Selat Bengkalis. Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau. Jurnal Biogenesis. Vol. 2(2):41-46, 2006.
Hanif, A. 2011. Kota Dumai dan Kawasan Konservasi Mangrove. Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional. http://www.kp3k.kkp.go.id/lkkpn/index.php?option=com_content&view=article&id=123:kota-dumai-dan-kawasan-konservasi-mangrove&catid=31:beranda&Itemid=28.
Susiana. 2011. Skripsi : Diversitas Dan Kerapatan Mangrove, Gastropoda Dan Bivalvia Di Estuari Perancak, Bali. Program Studi Manajemen Suberdaya Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan Universitas Hasanuddin (tidak diterbitkan).
Susmianto, A. 2004. Aspek pengumpulan data dan informasi sumberdaya perairan darat dalam rangka konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Limnotek : perairan darat tropis di Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pusat Penelitian Limnologi. 9 (25-30).
Tobing, L. M. 2007. Skripsi : Kandungan Logam Timbal (Pb) pada Sipetang (Pharella actuidens) di Perairan Dumai. Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau (tidak diterbitkan).

No comments:

Post a Comment