Thursday, August 18, 2016

MAKALAH OSEANOGRAFI KIMIA PRIMARY PRODUCER (PRODUSEN PRIMER)



Dosen : DR. Syahril Nedi, M.Si

MAKALAH OSEANOGRAFI KIMIA
PRIMARY PRODUCER (PRODUSEN PRIMER)

OLEH
ATIKA DINIYA (0904121564)
TEGUH HERIYANTO (0904121598)
ROMAN (0904121599)
RABIATUL ADAWIYAH (0904121355)
IRA PUTRA (0904114660)






JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2011

 

 

 

KATA PENGANTAR


Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah Oseanografi Kimia yang berjudul “Primary Producer (Produsen Primer)” dapat diselesaikan tepat pada waktu yang telah ditentukan.

Penulisan makalah ini dimaksudkan melengkapi salah satu syarat dalam menyelesaikan mata kuliah Oseanografi Kimia. Lebih lanjut penyusunan makalah ini bertujuan untuk mendapatkan informasi dan memperdalam pemahaman mengenai produktivitas primer yang terjadi pada suatu ekosistem akuatik (perairan) yang melibatkan keberadaan plankton, khususnya fitoplankton dan zooplankton. Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah banyak membantu memberikan arahan-arahan, saran, bimbingan serta petunjuk selama penyusunan makalah ini.
            Kami telah berupaya semaksimal mungkin untuk kesempurnaan penulisan laporan ini. Namun tidak tertutup kemungkinan kesalahan dan kekurangan yang tidak disengaja. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan pada masa yang akan datang.
Sebagai penutup, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Pekanbaru, November 2011   
            Penyusun        

            DAFTAR ISI


Isi                                                                                                                Halaman  
KATA PENGANTAR...................................................................................       i
DAFTAR ISI..................................................................................................       ii
I. PENDAHULUAN
1.1. . Latar Belakang............................................................................       1
1.2. . Tujuan dan Manfaat ...................................................................       3
II. ISI
2.1.   Plankton ......................................................................................       4
2.2.   Klasifikasi Plankton ....................................................................       5
2.3.   Penggolongan Fitoplankton.........................................................       9
2.4.   Parameter Pertumbuhan...............................................................     27
2.5.   Peranan Fitoplankton...................................................................     30
2.6.   Permasalahan Fitoplankton..........................................................     32
1II. PEMBAHASAN .....................................................................................     37
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan....................................................................................     38
4.2. Saran..............................................................................................     39
DAFTAR PUSTAKA


I. PENDAHULUAN


1.1.  Latar Belakang
Di laut, khususnya laut terbuka, fitoplankton merupakan organisme autotrof utama yang menentukan produktivitas primer perairan. Produktivitas primer adalah jumlah bahan organik yang dihasilkan oleh organisme autotrof, yaitu organisme yang mmapu menghasilkan bahan organic dari bahan an-organik dengan bantuan energi matahari. Produktivitas primer sering diestimasi sebagai jumlah karbon yang terdapat di dalam material hidup dan secara umum dinyatakan sebagai jumlah karbon yang dihasilkan dalam satu meter kuadrat kolom air per hari (g C/m2/hari) atau jumlah gram karbon yang dihasilkan dalam satu meter kubik per hari (g C/m3/hari) (Levinton, 1982). Selain jumlah karbon dihasilkan, tinggi rendahnya produktivitas primer perairan dapat diketahui dengan melakukan pengukuran terhadap biomassa fitoplankton dan klorofil-a, dimana kedua metode ini dapat diukur secara langsung di lapangan (Valiela, 1984).
Peranan dan kedudukan masing-masing organisme di laut digambarkan dalam piramida makanan di laut. Dasar piramida ditempati oleh organisme produsen atau organisme autotropik yang mampu mengubah bahan an-organik menjadi bahan organik dengan memanfaatkan energi matahari. Penggerak utama sistem kehidupan di bumi adalah energi matahari. Energi matahari kemudian dimanfaatkan oleh organisme autotropik untuk membentuk bahan organik yang akan dimanfaatkan oleh organisme herbivora.
Sebagai suatu ekosistem, perairan laut memiliki komponen-komponen, yaitu komponen biotik dan abiotik. Pada ekosistem perairan komponen biotik yang berperan adalah tumbuhan hijau sebagai produsen, bermacam-macam kelompok hewan sebagai konsumen, dan bakteri serta fungi sebagai dekomposer (Collier, et al. 1973). Pada prinsipnya ada tiga proses dasar yang menyusun komponen biotik pada suatu ekosistem tersebut yaitu (a) proses produksi, (b) proses konsumsi, dan (c) proses dekomposisi.
Komponen abiotik meliputi unsur dan senyawa an-organik, bahan organik, dan parameter lingkungan berupa temperatur, oksigen, nutrien, dan faktor fisik lain yang membatasi kondisi kehidupan. Keterkaitan antar komponen-komponen tersebut sangat erat, komplementer, dan bersifat siklik. Ekosistem akan selalu terjaga bila komponen baik biotik maupun abiotik tetap berada pada kondisi stabil dan dinamis. Terganggunya salah satu komponen akan menggangu kestabilan sistem ekologis di laut.
Fitoplankton sebagai organisme autotropik utama dalam kehidupan di laut melalui proses fotosisntesis mampu menjadi sumber energi bagi seluruh biota laut lewat mekanisme rantai makanan. Walaupun memiliki ukuran yang kecil, jumlah yang tinggi dari fitoplankton mampu menjadi pondasi dalam piramida makanan di laut.
Ada dua kelompok rantai makanan yang ada di ekosistem laut yaitu rantai makanan grazing (grazing food chain) dan rantai makanan detrital (detritus food chain). Kedua jenis rantai makanan tersebut saling melengkapi dan membentuk sebuah siklus yang kontinu. Rantai makanan grazing dimulai dari proses transfer makanan pertama kali oleh organisme herbivora melalui proses grazing. Makanan pertama itu berupa fitoplankton dan herbivora oleh zooplankton digunakan sebagai bahan makanan. Selanjutnya, rantai makanan ini berlanjut ke konsumen tingkat tinggi (seperti ikan dan konsumer lainnya) yang apabila mengalami kematian akan menjadi detritus pada ekosistem laut.

1.2.  Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memperdalam pemahaman mengenai produktivitas primer (primary producer) yang terjadi dalam suatu ekosistem akuatik (perairan) yang di dalamnya terdapat komponen biotik dan abiotik, khususnya golongan plankton, baik fitoplankton dan zooplankton.
Dan selain itu adalah mengetahui dan memperdalam pemahaman mengenai klasifikasi, pengaruh-pengaruh, faktor-faktor pembatas, dan permasalahan yang terjadi terjadi pada fitoplankton sebagai produsen utama dalam kehidupan di perairan (akuatik).
            Adapun manfaat yang diperoleh adalah mengetahui seluk beluk tentang produsen primer, yaitu fitoplankton secara kimia yang terjadi di ekosistem akuatik. Dan juga dapat memberikan motivasi kepada mahasiswa sendiri dalam memahami dan memperkuat pemahaman mengenai tujuan dan peran masing-masing fitoplankton pada ekosistem akuatik terkait dengan siklus hidupnya.

II. ISI

2.1.      Plankton
Plankton adalah organisme yang sangat kecil memiliki ukuran 0,45 μm yang tak nampak oleh mata telanjang dan tersebar luas diperairan tawar dan laut. Plankton ini terdiri dari plankton hewani (zooplankton) dan plankton nabati (fitoplankton). Dalam struktur piramida makanan, fitoplankton sangatlah penting karena menempati posisi sebagai produksi primer.
Plankton adalah makhluk (tumbuhan atau hewan) yang hidupnya, mengapung, mengambang, atau melayang di dalam air yang kemampuan renangnya terbatas sehingga mudah terbawa arus.
Plankton berbeda dengan nekton yang berupa hewan yang memiliki kemampuan aktif berenang bebas, tidak bergantung pada arus air, contohnya : ikan, cumi – cumi, paus, dan lain-lain. Sedangkan, bentos adalah biota yang hidupnya melekat pada, menancap, merayap, atau membuat liang di dasar laut, contohnya: kerang, teripang, bintang laut, karang, dan lain-lain.
Distribusi plankton tergantung pada distribusi makronutrien. Hal ini karena pengadukan di pesisir dan arus dari daratan, tingkat nutrien paling tinggi terjadi di dekat pertemuan dua arus tersebut. Plankton paling melimpah di daerah tersebut dan produktivitasnya juga tinggi. Air yang berada di atas beberapa daerah kontinental menahan produktivitas melebihi 1 g C/m2/hari.
Sirkulasi air di daerah tropis memperoleh kelimpahan cahaya matahari dan CO2 tapi pada umumnya kurang pada nutrien di permukaan dikarenakan perubahan suhu yang kuat sehingga terjadi pengadukan secara vertikal yang membawa nutrien dari kedalaman. Laut tropis jauh dari daratan, oleh karena itu meninggalkan oceanik dengan dekat tanpa adanya plankton
Pada luasnya yang sangat tinggi selama bulan musim dingin memiliki sudut terhadap matahari yang rendah sehingga mengurangi penetrasi cahaya pada permukaan es dan pada minggu – minggu dan bulan – bulan gelap produktivitas menjadi terbatas. Pada puncak musim panas, suplay sinar matahari berlangsung selama 24 jam, luas es di permukaan berkurang dan membuat terjadinya pengadukan nutrien – nutrien dan membawa sekumpulan plankton dalam jumlah yang sangat banyak. Walau begitu keadaannya hal tersebut tidaklah mencukupi karena bagaimanapun nutrein – nutrien mendukung pertumbuhan, plankton – plankton tidak berkembang dengan cepat dan posisi matahari  di atas sudut kritikal terbaiknya  hanya terjadi beberapa minggu saja. Puncak musim panas yang berlangsung sebentar saja tidak mengimbangi untuk waktu yang lama akan tiba bulan musim dingin yang tidak produktif.

2.2.      Klasifikasi Plankton
a.         Zooplankton
Zooplankton merupakan plankton hewani yang terhanyut secara pasif karena terbatasnya kempuan bergerak. Berbeda dengan fitoplankton, zooplankton hampir meliputi seluruh filum hewan mulai dari protozoa (hewan bersel tunggal) sampai filum Chordata (hewan bertulang belakang). Para ahli kelautan juga mengklasifikasikan zooplankton sesuai ukuran dan lamanya hidup sebagai plankton.
Ada tiga kategori ukuran zooplankton yang dikenal dengan mikrozooplankton, mesozooplankton, dan makrozooplankton. Mikrozooplankton meliputi zooplankton yang dapat melewati plankton net dengan mata 202 μm dan mesozooplankton adalah yang tersangkut sedangkan makrozooplankton dapat ditangkap dengan plankto net dengan lebar mata 505μm.
Berdasarkan siklus hidupnya zooplankton ada yang selamanya sebagai plankton (holoplankton) dan ada yang sebagian hidupnya (pada awal hidupnya) saja sebagai plankton (meroplankton). Organisme meroplankton terutama terdiri dari larva planktonik dan bentik invertebrata, bentik chordata dan nekton (ichtyoplankton). Kelompok holoplankton yang dominan antara lain copepoda, cladosera dan rotifera. Beberapa genera dari copepoda menempati perairan pantai seperti Acartia, Eurytemora, Pseudodiaptomus ,dan Tortanus. Spesies Copepoda umumnya mendominasi fauna holoplanktonik. Copepoda calanoid melebihi jumlah cyclopoid dan harpacticoid pada ekosistem estuaria. Cyclopoid umumnya litoral dan bentik tetapi beberapa merupakan spesies planktonik.

b.         Fitoplankton
Fitoplankton adalah tumbuhan mikroskopik (bersel tunggal, berbentuk filamen atau berbentuk rantai) yang menempati bagian atas perairan (zona fotik) laut terbuka dan lingkungan pantai. Nama fitoplankton diambil dari istilah Yunani, yaitu phyton atau "tanaman" dan planktos atau "pengembara" atau "penghanyut”. Walaupun bentuk uniseluler/bersel tunggal meliputi hampir sebagian besar fitoplankton, beberapa alga hijau dan alga biru-hijau ada yang berbentuk filamen (yaitu sel-sel yang berkembang seperti benang).
Menurut Arinardi, dkk (1997) merupakan nama untuk plankton tumbuhan atau plankton nabati. Menurut Boney (1989) biota fitoplankton adalah tanaman yang diklasifikasikan ke dalam kelas alga. Ukurannya sangat kecil, tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Ukuran yang paling umum berkisar antara 2 – 200 mikro meter (1 mikro meter = 0,001 mm). Fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi ada juga yang membentuk rantai.
Siagian (2001) menjelaskan bahwa phytoplankton merupakan tumbuhan air yang sangat kecil yang terdiri dari beberapa kelas yang sangat tergantung pada cahaya matahari terdapat pada permukaan air sampai kedalaman penetrasi cahaya matahari. Dan, phytoplankton ini merupakan produsen utama (primary producer) zat-zat organik yang komplek dari bahan-bahan organik dan dari bahan an-organik yang sederhana melalui proses fotosintesis.
Meskipun fitoplankton membentuk sejumlah besar biomassa di laut, kelompok ini hanya diwakili oleh beberapa filum saja. Sebagian besar bersel satu dan mikroskopik, dan mereka termasuk filum Chrysophyta, yakni alga kuning-hijau yang meliputi diatom dan kokolifotor. Selain ini terdapat beberapa jenis alga hijau-biru (Cyanophyta), alga coklat (Phaeophyta), dan satu kelompok besar dari Dinoflagellata (Pyrophyta).
Fitoplankton memperoleh energi melalui proses yang dinamakan fotosintesis sehingga mereka harus berada pada bagian permukaa permukaan (disebut sebagai zona euphotic) lautan, danau atau kumpulan air yang lain. Melalui fotosintesis, fitoplankton menghasilkan banyak oksigen yang memenuhi atmosfer bumi. Mereka akan lebih banyak dijumpai pada tempat yang terletak di daerah continental shelf dan di sepanjang pantai dimana terdapat proses upwelling. Daerah ini biasanya merupakan suatu daerah yang cukup kaya akan bahan-bahan organik (Hutabarat dan Evans, 1985).
Fitoplankton ada yang berukuran besar dan kecil dan biasanya yang besar tertangkap oleh jaringan plankton yang terdiri dari dua kelompok besar, yaitu diatom dan dinoflagellata. Diatom mudah dibedakan dari dinoflagellata karena bentuknya seperti kotak gelas yang unik dan tidak memiliki alat gerak. Pada proses reproduksi tiap diatom akan membelah dirinya menjadi dua. Satu belahan dari bagian hidup diatom akan menempati katup atas (epiteka) dan belahan yang kedua akan menempati katup bawah (hipoteka). Sedangkan, kelompok utama kedua yaitu dinoflagellata yang dicirikan dengan sepasang flagella yang digunakan untuk bergerak dalam air. Beberapa dinoflagellata seperti Nocticula yang mampu menghasilkan cahaya melalui proses bioluminesens (Nybakken, 1992).
Disamping cahaya, fitoplankton juga sangat tergantung dengan ketersediaan nutrisi untuk pertumbuhannya. Nutrisi-nutrisi ini terutama makronutrisi seperti nitrat, fosfat atau asam silikat, yang ketersediaannya diatur oleh kesetimbangan antara mekanisme yang disebut pompa biologis dan upwelling pada air bernutrisi tinggi dan dalam. Akan tetapi, pada beberapa tempat di Samudra Dunia seperti di Samudra bagian Selatan, fitoplankton juga dipengaruhi oleh ketersediaan mikronutrisi besi. Hal ini menyebabkan beberapa ilmuwan menyarankan penggunaan pupuk besi untuk membantu mengatasi karbondioksida akibat aktivitas manusia di atmosfer.
Keberadaan fitoplankton perlu didukung oleh adanya unsur hara dan zat organik lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk proses fotosintesis. Walaupun demikian berbagai faktor lingkungan lainnya juga berperan penting dalam kehidupan plankton. Faktor tersebut antara lain suhu, pH, kadar O2, CO2 bebas, kecerahan, alkalinitas, arus, dan hubungan antara spesies. (Elita, 1997).

2.3.      Penggolongan Fitoplankton
Selain digolongkan berdasarkan taksonominya, fitoplankton digolongkan berdasarkan ukurannya. Lebih dari setengah fitoplankton termasuk dalam ultraplankton dan nanoplankton.
Fitoplankton dapat dibagi menjadi beberapa filum, antara lain:
1.       Bacillarophyceae (Diatom)
Diatom adalah tumbuhan sel tunggal yang tergolong dalam kelas Bacilariophyceae dari phylum Bacilariophyta.  Diatom bisa terdiri dari sel tunggal atau gabungan dari beberapa sel yang membentuk rantai.  Biasanya terapung bebas di dalam badan air dan juga kebanyakan dari mereka melekat (attach) pada substrat yang lebih keras. Diatom ini mempunyai ukuran kurang lebih 2 mikron sampai beberapa millimeter, namun kita juga kadang menemukan beberapa yang ukurannya sampai 200 mikron.  Sampai saat ini para ahli memperkirakan jumlah species dari diatom ini sekitar 50.000 spesies.
Diatom kebanyakan tersebar pada seluruh perairan dunia, dari perairan air tawar hingga lautan dalam.  Bahkan ada beberapa yang di temukan pada genangan air bekas gunung berapi.  Diatom umumnya di temukan pada laut, sungai, estuaria, kolam, aliran air pada irigasi-irigasi, bahkan kolam-kolam kecil sekalipun.
Penggolongan diatom menurut pola hidupnya juga dibedakan atas 8 kelompok, yakni:
1.   Epiphytic; dikenal dengan kelompok diatom yang melekat pada tumbuhan lain yang lebih besar.
2.   Epipsamic; dikenal dengan kelompok diatom yang hidup dan tumbuh pada pasir.
3.   Epipelic; dikenal dengan kelompok diatom yang hidup dan tumbuh pada permukaan tanah yang berpasir.
4.   Endopelic; dikenal dengan kelompok diatom yang tumbuh dalam rongga tanah liat (mud) atau sedimen.
5.   Epilithic; dikenal dengan kelompok diatom yang tumbuh dan melakat pada permukaan batuan.
6.   Endolithic; dikenal dengan kelompok diatom yang tumbuh didalam rongga batuan pada dasar perairan.
7.   Epizoic; dikenal dengan kelompok diatom yang melakat pada hewan umunya invertebrate dasar perairan.
8.   Fouling; dikenal dengan kelompok diatom yang melekat pada benda-benda yang keras yang biasannya ditanam atau diletakkan pada dasar perairan.
2.  Dinophyceae
Dinophyceae merupakan kelas dari Divisi Chromophyta (Tomas, 1997), namun menurut Bold and Wayne (1985) tergolong kedalam Divisi Pyrrhophyta. Dinophyceae dimasukkan kedalam Divisi Chromophyta karena sel memiliki inti sel sejati. Namun demikian Dodge (1966) mengatakan bahwa nukleus dari dinoflagellata tergolong dalam mesokaryotic. Hal ini karena sebagian inti selnya menggambarkan kumparan wilayah DNA merupakan bakteria prokaryotic dan sebagian merupakan inti sel eukaryotic sejati.
Dinoflagellata memiliki kemampuan untuk berfotosintesis. Karakteristik dari organisme ini dari organisme lainnya adalah tetap memadatnya kromosom pada semua stadia sehingga dikenal dengan sifat mesokariotik
Alga yang termasuk alga api ini disebut juga dengan Dinoflagellata, dengan tubuh yang tersusun atas satu sel memiliki dinding sel dan dapat bergerak aktif dengan menggunakan dua flagel yang bersifat uniseluler. Ciri yang utama adalah adanya celah dan alur disebelah luar yang masing-masing mengandung satu flagel, dinding selnya terdiri atas dua belahan, ada yang homogen dan kontinu dan ada juga yang dinding selnya terdiri atas keping-keping. Mayoritas dari dinofagellata berasal dari lautan, tetapi ada beberapa ratus spesies yang lain yang berada di air segar. Dinoflagellata adalah komponen yang penting dari plankton, khusunya pada kondisi hangat. Ganggang api umumnya merupakan organisme uniseluler yang bersifat fotosintetik dan ada ganggang api tertentu pada tahap tertentu dalam siklus hidupnya bersifat parasit. Ganggang api memiliki dinding sel dengan lempengan-lempengan selulosa. Ganggang api pada umumnya memiliki dua flagellum yang terletak di samping (lateral) atau di ujung (apikal) selnya. Kebanyakan hidup di laut dan sebagian kecil di air tawar, misalnya Peridinium dan Ceratium. Spesies yang hidup di laut memiliki sifat fosforesensi yaitu memiliki fosfor yang memancarkan cahaya.
Tubuh dinoflagellata primitif pada umunya berbentuk oval tapi asimetri, mempunyai dua flagella, satu terletak dilekukan longitudinal dekat tubuh bagian tengah yang disebut sulcus dan memanjang ke bagian posterior. Sedangkan, flagella yang lain ke arah transversal dan ditempatkan dalam suatu lekukan (cingulum) yang melingkari tubuh atau bentuk spiral pada beberapa belokan. Lekukan transversal disebut girdle, merupakan cincin yang simpel dan jika berbentuk spiral disebut annulus. Fragellum transversal menyebabkan pergerakan rotasi dan pergerakan ke depan, sedangkan flagellum longitudinal mengendalikan air ke arah posterior.
Kelas Dinophceae mempunyai beberapa ordo, antara lain:
1.      Ordo Blastodindiales; teka piringnya tipis, hidup di laut.
2.      Ordo Dinamoebales; sel amoeboid yang hidup bebas, menyendiri, melepaskan zoospore gymnodinioid pada perkecambahan.
3.      Ordo Dinophysiales; sel yang dapat mengubah tempat, menyendiri, hidup bebas, yang (autotrof atau heterotrof) dengan sebuah teka dari 18 (jarang 19) piring, termasuk dua yang leih besar daripada yang lain, epiteka kurang.
4.      Ordo Dinocloniales; dapat bergerak, berbentuk serabut, bercabang, dengan dinding sel.
5.      Ordo Gloeodiniales;
6.      Ordo Gymnodiniales; selnya dapat mengubah tempat, soliter, hidup bebas, tidak memiliki teka (tapi dengan berbagai perangkat vesikula yang sama/homolog pada teka piring)
7.      Ordo Noctiluscales; sel soliter, hidup bebas, holozoik dengan suatu sitostom, tidak ada teka, proses meiosis pada gametogenesis (dalam Noctiluca) beberapa spesies telah kehilangan salah satu atau kedua flagellanya.
Dinoflagellata dalam jumlah yang kecil sebagai penyusun komunitas plankton laut, tetapi lebih melimpah di perairan tawar. Fenomena yang menarik yang dihasilkan oleh Pyrrophyta adalah kemampuan bioluminescen (emisi cahaya oleh organisme), seperti yang dihasilkan oleh Noctiluna, Gonyaulax, Pyrrocystis, Pyrodinium, dan Peridinium sehingga menyebabkan laut tampak bersinar pada malam hari. Fenomena lainnya adalah pasang merah (red tide) yaitu blooming Pyrrophyta dengan 1-20 juta sel per liter, terutama di daerah pantai New England, Florida, California, dan Eropa yang menyebabkan paralytic shellfish poishoning (PSP). Di bawah kondisi yang ideal dan didukung adanya substansi pertumbuhan menyebabkan populasi spesies tertentu bertambah jumlahnya
Red tide biasanya terjadi pada air pesisir pantai dan muara. Red tide tidak menyebabkan:
a) Kematian ikan dan invertebrate, jika yang blooming adalah Ptychodiscus brevis, Prorocentrum, dan Gymnodinium breve.
b) Kematian invertebrate jika yang blooming adalah Gonyaulax, Ceratium, dan Cochlodinium
c) Kematian organisme laut, yang lebih dikenal sebagai paralytic shellfish poisoning, jika yang blooming adalah Gonyaulax.
Gymnodium merupakan contoh dinoflagellata yang tubuhnya tidak tersusun oleh pelat-pelat. Banyak dijumpai hidup di air tawar dan air laut, merupakan dinoflagellata yang cingulumnya terletak di tengah-tengah dan melingkari sel sempurna dan berakhir pada permukaan ventral.
Ceratium hidup di air laut maupun di air tawar, mempunyai tiga proses dinding sehingga berbentuk seperti terompet, yang satu pada akhir tubuh, sedangkan yang dua di tempat tubuh lain yang tidak digunakan untuk berlabuh.
3.  Cyanophyceae
Cyanophyta adalah nama ilmiah untuk ganggang hijau-biru. Dinamakan demikian karena jenis yang pertama kali ditemukan berwarna biru kehijauan. Cyanophyta juga dikenal dengan nama Cyanobacteria, Myxophyta, dan blue green alga (BGA). Cyanophyta dimasukkan ke dalam kingdom Monera bersama bakteri karena selnya prokariot.
Cyanophyta mempunyai ciri-ciri:
1.      Bentuk organisme ini bisa uniseluler (Chroocococcus, Anacystis); koloni (Merismopedia, Nostoc, Microcystis) atau filamen (Oscillatoria, Microcoleus, Abaena). Sel yang membentuk koloni adalah serupa, sedangkan bentuk filamen tersusun dari sekumpulan sel yang membentuk rantai trikoma (seperti tabung) dan selubung.
2.      Memiliki klorofil, karotenoid serta pigmen fikobilin yang terdiri dari fikosianin (berwarna biru) dan fikoeritin (berwarna merah).
3.      Dinding sel mengandung peptida, hemiselulosa, dan selulosa yang kadang-kadang berlendir.
4.      Inti sel tidak memiliki membran (prokariot).
Jenis-Jenis Cyanophyta, adalah:
1.      Ganggang hijau biru bersel satu
2.      Chroococcus; ganggang ini biasanya hidup di dasar kolam yang tenang, tembok yang basah atau cadas. Biasanya sel-sel yang muda tetap bersatu karena ada selubung yang mengikatnya. Pembiakan berlangsung secara vegetatif, dengan membelah diri. Setelah pembelahan, sel-sel tetap bergandengan sehingga membentuk koloni.
3.      Gloeocapsa; ganggang ini hidup pada batu-batuan dan kadang-kadang dijumpai endofit (di dalam tubuh makhluk hidup), atau epifit pada tumbuhan lain. Koloni berbentuk benang yang dapat putus menjadi hormogonium. Hormogonium dapat tumbuh menjadi koloni baru.
4.      Ganggang hijau biru berkoloni (berkelompok); contoh ganggang biru berkoloni adalah Polycitis dan Spirullina. Polycitis berbentuk seperti bola dan hidup di kolam yang tenang dan jernih. Pembiakan dengan cara fragmentasi dari koloni.
5.      Ganggang hijau biru berupa benang (filamen); contoh ganggang hijau biru berupa benang adalah Oscillatoria, Nostoc comune, Anabaena, dan Rivularia.
Peranan Cyanophyta antara lain:
1.      Peran yang Menguntungkan
1.      Sebagai vegetasi perintis
2.      Sebagai sumber bahan makanan bagi ikan dan manusia.
3.      Penyedia nitrogen yang digunakan untuk pertumbuhan padi.
2.       Peran yang Merugikan
1.      Apabila blooming akan menghasilkan toksin yang dapat meracuni hewan dan manusia yang meminum air yang terkontaminasi ganggang tersebut. Contoh: Microcystis.
2.      Jenis Lyngbia majuscula, Schizothrix calciola, dan Oscillatoria nigroviridis dapat menyebabkan iritasi kulit yang dikenal sebagai ‘gatal perenang’ (swimmer’s itch).
4.   Chlorophyceae
Ganggang hijau / Chlorohyta adalah salah satu kelas dari ganggang berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Ganggang hijau ada yang bersel tunggal dan ada pula yang bersel banyak berupa benang, lembaran atau membentuk koloni spesies ganggang hijau yang bersel tunggal ada yang dapat berpindah tempat, tetapi ada pula yang menetap.
Alga hijau merupakan kelompok terbesar dari vegetasi algae. Alga hijau berbeda dengan divisi lainnya karena memiliki warna hijau yang jelas seperti tumbuhan tingkat tinggi karena mengandung pigmen klorofil a dan klorofil b lebih dominan dibandingkan karoten dan xantofil.
Alga berperan sebagai produsen dalam ekosistem. Berbagai jenis alga yang hidup bebas di air terutama tubuhnya yang bersel satu dan dapat berperan aktif merupakan penyusun fitoplankton. Sebagaian besar fitoplankton adalah anggota alga hijau, pigmen klorofil yang dimilikinya efektif melakukan fotosintesis sehingga alga hijau merupakan produsen utama dalam ekosistem perairan.
Ganggang hijau merupakan golongan terbessar diantara ganggang dan sebagian besar hidup di air tawar, beberapa diantaranya hidup di air laut dan air payau. Pada umumnya melekat pada batuan dan seringkali muncul apabila air menjadi surut. Jenis yang hidup di air tawar, bersifat kosmopolit, terutama hidup di tempat yang cahayanya cukup seperti kolam, danau, genangan air, alga hijau ditemukan pula pada lingkungan semi akuatik yaitu pada batu-batuan, tanah lembab, dan kulit batang pohon yang lembab. Beberapa anggotanya hidup di air mengapung atau melayang dan sebagian hidup sebagai plankton. Beberapa jenis ada yang hidup melekat pada tumbuhan atau hewan.
Beberapa contoh alga hijau yang sering ditemukan antara lain:
a. Chlorophyta bersel tunggal tidak bergerak.
Contoh:
1.      Chlorella
Organisme ini banyak ditemukan sebagai plankton air tawar. Ukuran tubuh mikroskopis, bentuk bulat, dan berkembang biak dengan pembelahan sel.
Peranannya bagi kehidupan manusia antara lain digunakan dalam penyelidikan metabolisme di laboratorium dan dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan dimasukkan dalam kapsul dan dijual sebagai suplemen makanan dikenal dengan “Sun Chlorella”. Pengembangannya saat ini di kolam-kolam (contohnya di Pasuruan).
2. Chlorococcum
Tubuh bersel satu, tempat hidup air tawar, bentuk bulat telur, dan setiap sel memiliki satu kloroplas bentuk mangkuk. Reproduksi dengan membentuk zoospora (secara aseksual).
b. Chlorophyta bersel tunggal dapat bergerak.
Contoh:
Chlamidomonas
Bentuk sel bulat telur, memiliki 2 flagel sebagai alat gerak, terdapat 1 vakuola, satu nucleus, dan kloropas. Pada kloropas yang bentuknya seperti mangkuk terdapat stigma (bintik mata), dan pirenoid sebagai tempat pembentukan zat tepung. Reproduksi aseksual dengan membentuk zoospora dan reproduksi seksual dengan konjugasi.
c. Chlorophyta berbentuk koloni tidak bergerak
Contoh:
Hydrodictyon
Hydrodictyon banyak ditemukan didalam air tawar dan koloninya berbentuk seperti jala. Ukuran cukup besar sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang. Reproduksi vegetatif dengan zoospora dan fragmentasi. Fragmentasi dilakukan dengan cara melepas sebagian koloninya dan membentuk koloni baru sedangkan reproduksi generatif dengan konjugasi.
d. Chlorophyta berbentuk koloni dapat bergerak
Contoh:
Volvox
Volvox ditemukan di air tawar, koloni berbentuk bola jumlah antara 500 -5000 buah. Tiap sel memiliki 2 flagel dan sebuah bintik mata. Reproduksi aseksual dengan fragmentasi dan seksual dengan konjugasi sel-sel gamet.
e. Chlorophyta berbentuk benang
Contoh:
1. Spyrogyra
Ganggang ini didapatkan di sekitar kita yaitu diperairan. Bentuk tubuh seperti benang dan dalam tiap sel terdapat kloroplas berbentuk spiral dan sebuah inti. Reproduksi vegetatif dengan fragmentasi, sedangkan reproduksi seksual dengan konjugasi.
2. Oedogonium
Ganggang ini berbentuk benang, ditemukan di air tawar dan melekat di dasar perairan. Reproduksi vegetatif dilakukan oleh setiap sel menghasilkan sebuah zoospora yang flagela banyak.
Reproduksi generatif adalah salah satu benang membentuk alat kelamin jantan (anteridium) dan menghasilkan gamet jantan (spermatozoid). Pada benang yang lain membentuk alat kelamin betina yang disebut oogonium. Oogonium akan menghasilkan gamet betina (ovum). Sperma tozoid membuahi ovum dan terbentuk zigot. Zigot akan tumbuh membentuk individu.
f. Chlorophyta berbentuk lembaran
Contoh:
1. Ulva
Ganggang ini ditemukan di dasar perairan laut dan menempel di dasar, bentuk seperti lembaran daun. Berkembang biak secara vegetatif dengan menghasilkan spora dan spora tumbuh menjadi Ulva yang haploid (n), dan Ulva haploid disebut gametofit haploid.
2. Chara
Chara hidup di air tawar terutama melekat pada batu-batuan. Bentuk talus seperti tumbuhan tinggi, menyerupai batang, yang beruas-ruas dan bercabang-cabang, berukuran kecil. Pada ruasnya terdapat nukula dan globula. Di dalam nukula terdapat arkegonium dan menghasilkan ovum. Di dalam globula terdapat anterodium yang memproduksi spermatozoid. Spermatozoid akan membuahi ovum dan menghasilkan zigospora yang berdinding sel. Pada reproduksi secara vegetatif dilakukan dengan cara fragmentasi.
Pigmen kloroplast yang dimiliki golongan Chlorophyta yaitu klorofil a dan klorofil b, beta karoten serta berbagai macam xantofil (lutein, violaxantin, zeaxanthin). Karoten muncul sebagai karakter warna kuning kemerah-merahan. Sedangkan, xantotil muncul sebagai warna kuning dengan nuansa warna yang unik. Menurut Levavascur (1989) bahwa pigmen-pigmen fotosintesis dan pada alga hijau berklorofil a dan b mengandung shiphoxanthim atau lutein.
Cadangan makanan pada ganggang hijau berupa amilum, tersusun sebagai rantai glukosa tidak bercabang yaitu amilose dan rantai yang bercabang yaitu amilopektin seringkali amilum terbentuk dalam granula bersama dengan bahan protein dalam plastida disebut pirenoid.
Dalam filum Chlorophyta terdiri dari beberapa ordo (bangsa) antara lain:
1.      Bangsa Chlorococcales
Sel-sel vegetatif tidak mempunyai bulu cambuk jadi tidak bergerak. Mempunyai satu inti dan satu kloroplas. Mereka merupakan satu koloni yang bentuknya bermacam-macam, dan tidak lagi melakukan pembelahan sel yang vegetatif.
Chlorococcales hidup sebagai plankton dalam air tawar, kadang-kadang juga pada kulit pohon-pohon dan tembok-tembok yang basah. Ada yang hidup bersimbiosis dengan fungsi sebagai lichenes bahkan ada yang hidup dalam plasma binatang rendah, misalnya Chlorella Vulgaris, infusoria dan Hydra.
Dalam bangsa ini termasuk antara lain:
a.       Suku Hydrodictyceae, contoh Pediastrum bonganum
b.      Suku Chlorococcaceae, contoh Chlorococcum humicale
2.      Bangsa Ulotrichales
Sel-selnya selalu mempunyai satu inti dan satu kloroplas yang masih sederhana membentuk koloni berupa benang yang bercabang atau tidak. Benang-benang itu selalu bertambah panjang karena sel-selnya membelah melintang. Yang lebih tinggi tingkatannya mempunyai talus yang lebar dan melekat pada suatu substrat / alas. Dan, talus ini sudah mempunyai susunan seperti jaringan parenkim. Ada pula yang talusnya berbentuk pipa atau pita.
Dalam bangsa ini termasuk antara lain:
a.          Suku Ulotrichaceae, contoh : Ulothrix zonata
Sel selnya membentuk koloni yang berupa benang dan tumbuh interkalar. Sel-selnya pendek, kloroplas bentuk pipa. Pangkal melekat pada substrat
b.         Suku Ulvaceae, contoh: Ulva lactuca
Ulva lactuca, talus menyerupai daun sladah, terdiri atas 2 lapis sel yang membentuk struktur seperti parenkim. Zoospora dengan 4 bulu cambuk, gamet sama besar, masing-masing dengan dua bulu cambuk.
3.      Bangsa Cladophora
Sel-selnya berinti banyak, kloroplas berbentuk jala dengan pirenoid-pirenoid membentuk koloni berupa benang-benang yang bercabang, menjadi suatu berkas, hidup dalam air tawar yang mengalir atau dalam air laut, dan biasanya berkas benang-benang itu melekat pada suatu substrat. Berkembangbiak secara vegetatif dengan zoospora dan generatif dengan isogami. Contohnya Cladophora glomerata dan Cladophora dichotoma.
4.      Bangsa Chaetophorales
Sel-selnya mempunyai satu inti dan kebanyakan juga satu kloroplas. Organisme ini talusnya heterotrik, artinya mempunyai pangkal dan ujung yang berbeda, terdiri atas benang-benang yang merayap, bercabang dan bersifat pseudoparenkimatik. Tumbuh mendatar pada substratnya, dan bagian atasnya yang bercabang-cabang dan berguna sebagai alat reproduksi.
Yang tergolong dalam bangsa ini antara lain:
a.    Suku Chaetophoraceae, contohnya Stigeoclonium lubricum dan Stigeoclonium tenue, hidup dalam air tawar, zoospora 4 dengan 4 bulu cambuk dan isogamet dengan 2 bulu cambuk.
b.      Suku Coleochaetaceae, contohnya Coleochaeta scutata. Zoospora dengan 2 bulu cambuk. Pangkalnya berbentuk cakram dan perkembangbiakan generatif dengan oogami. Coleochaeta kebanyakan hidup sebagai epifit pada ganggang lain atau tumbuhan air yang tinggi tingkat perkembangannya.
c.       Suku Trentepohliaceae, contohnya Trentepohlia aurea. Zoospora dengan isogamet mempunyai 2 bulu cambuk, telah menyesuaikan diri dengan hidup didaratan, pada cadas, batang-batang pohon atau diatas daun sebagai epifit. Zoosporangia berwarna merah karena hematokrom. Spora tersebar oleh angin.
5.      Bangsa Oedogoniales
Hidup dalam air tawar, sel-selnya mempunyai satu inti dan kloroplas berbentuk jala. Koloni berbentuk benang. Perkembangbiakan vegetatif dengan pembentukan zoospora, ujungnya yang bebas dan klorofil mempunyai banyak bulu cambuk yang tersusun dalam suatu karangan. Dari satu sel vegetatif hanya keluar satu zoospora saja. Perkembangbiakan generatif dengan oogami.
Bangsa Oedogoniales hanya dapat meliputi satu suku saja yaitu Oedogoniaceae contohnya Oedogonium concatenatum dan oedogonium ciliatum.
6.      Bangsa Siphonales
Bentuknya bernmacam-macam, kebanyakan hidup dalam air laut, talusnya tidak mempunyai dinding pemisah yang melintang. Sehingga dinding selnya menyelubungi massa plasma yang mengandung banyak inti dan kloroplas. Hanya alat-alat berkembangbiak saja yang terpisah oleh suatu dinding (sekat).
Dari Siphonales dapat disebut beberapa jenis, antara lain:
1.      Protosiphon botryoides (suku Protosiphonaceae)
Ganggang ini masih sangat sederhana, hidup diatas tanah yang basah talus hanya teridiri atas suatu sel. Bagian yang diatas tanah bentuknya seperti gelembung, berwarna hijau dan mengandung banyak inti. Melekat pada tanah dengan rizoid yang panjang, tidak bercabang dan tidak berwarna.
2.      Halicystis ovalis (suku Uhalicystidaceae)
Ganggang ini menyerupai profosiphora, tetapi hidup dalam laut
3.      Caulerpa prolifera (suku Caulerpaceae)
Ganggang hijau yang hidup di laut tengah. Talus bagian atas menyerupai daun dan besarnya sampai beberapa desimeter, berguna untuk asimilasi dan dinamakan asimilator. Bagian bawah terdiri atas suatu sumbu yang menyerap, tidak berwarna dan tidak mengandung leukoamitoplas dan rizoid pada perkembangbiakanseksual yaitu anisogami, seluruh tumbuh-tumbuhan baik jantan maupun betina masing-masing mengeluarkan gamet yang berwarna hijau dalam jumlah yang amat besar dan setelah mengeluarkan gamet itu lalu mati.
4.      Vaucheria sessilis (suku Vaucheriaceae)
Talus berbentuk benang dan bercabang-cabang tidak beraturan, melekat pada substrat dengan rizoid-rizoid yang merupakan suatu berkas. Karena talus tidak mempunyai dinding pemisah melintang, maka talus kelihatan seperti pipa bercabang-cabang. Perkembangbiakan aseksual dengan zoospora. Sedangkan perkembangbiakan generatif (seksual) dengan oogami.
5.      Acentabularia wettsternii (suku Dasylandaceae)
Talusnya menyerupai jamur payung pada pangkal tangkainya terdapat suatu inti yang besar. Ganggang ini ditemukan di laut tengah dan talusnya diperkuat dengan kapur. Perkembangbiakan seksual dengan anisogami.
Dampak positif dan negatif Chlorophyta dalam kehidupan
a. Dampak positif
1. Sebagai sumber protein sel tunggal contoh chlorela,
2. Sebagai bahan makan contoh volvox sebagai sayuran,
3. Sebagai plankton, merupakan salah satu komponen yang penting dalam rantai makanan di perairan tawar,
4. Menghasilkan O2 (oksigen) dan hasil fotositensis yang diperlukan oleh hewan lain untuk bernafas.
b. Dampak negatif
1. Dapat mengganggu jika perairan terlalu subur,
2. Membuat air berubah warna dan menjadi bau,
3. Menjadi masalah dalam proses penjernihan air,
4. Menyebabkan penyumbatan pada saringan pengolahan air.
Jenis ganggang hijau yang hidup di air tawar tidak mengahasilkan racun. Dari sifat-sifat yang tampak pada Chlorophyceae, dapat diambil kesimpulan bahwa Chlorophyceae berasal dari flagellata yang setingkat mengalami kemajuan-kemajuan dan perkembangan

2.4.      Parameter Pertumbuhan
Parameter pertumbuhan fitoplankton yaitu:
1.      Suhu
Suhu optimal kultur fitoplankton secara umum antara 20-24°C. Hampir semua fitoplankton toleran terhadap suhu antara 16-36 °C. Suhu di bawah 16 °C dapat menyebabkan kecepatan pertumbuhan turun, sedangkan suhu di atas 36 °C dapat menyebabkan kematian pada jenis tertentu (Cotteau, 1996; Taw, 1990).
            Suhu tindakan bersama dengan faktor-faktor lainnya dalam mempengaruhi variasi produksi fotosintetik. Secara umum, laju fotosintesis meningkat dengan meningkatnya suhu, tetapi menurun tajam setelah titik tercapai. Setiap spesies fitoplankton disesuaikan dengan suhu tertentu. Suhu dan kecerahan mempengaruhi variasi musiman produksi fitoplankton.
2.   Cahaya
Cahaya merupakan sumber energi dalam proses fotosintetis yang berguna untuk pembentukan senyawa karbon organik. Kebutuhan akan cahaya bervariasi tergantung kedalaman kultur dan kepadatannya. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi dapat menyebabkan fotoinbihisi dan pemanasan. Intensitas cahaya 1000 lux cocok untuk kultur dalam Erlenmeyer, sedangkan intensitas 5000-10000 lux untuk volume yang lebih besar (Cotteau, 1996; Taw, 1990).
Fitoplankton dipengaruhi oleh cahaya, cahaya yang cukup digunakan untuk fotosintesis. Intensitas cahaya berbeda-beda tergantung pada sejumlah faktor, seperti penyerapan cahaya oleh air, panjang gelombang cahaya, transparansi air, refleksi dari permukaan air, lintang, dan musim tahun.
Ketika cahaya menyentuh permukaan air, sejumlah cahaya tercermin jumlah tergantung pada sudut di mana cahaya menyentuh permukaan air. Spesies yang berbeda kurva berbeda tingkat fotosintetik ketika diplot terhadap intensitas cahaya, memberikan cahaya yang optimal yang berbeda diintensifkan untuk fotosintesis maksimum.
3.   Nutrien
Nutrien dibagi menjadi menjadi makronutrien dan mikronutrien. Nitrat dan fosfat tergolong makronutrien yang merupakan pupuk dasar yang mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Nitrat adalah sumber nitrogen yang penting bagi fitoplankton baik di air laut maupun air tawar. Bentuk kombinasi lain dari nitrogen seperti ammonia, nitrit, dan senyawa organik dapat digunakan apabila kekurangan nitrat (Cotteau, 1996; Taw, 1990).
Bahan organik merupakan nutrien utama yang dibutuhkan oleh fitoplankton untuk pertumbuhan dan reproduksi seperti nitrogen (seperti nitrat, NO3, nitrit NO2, atau amonium NH4) dan fosfor (sebagai fosfat PO4). Diatom dan Silicoflagellates juga memerlukan silikat (SiO2) dalam jumlah yang banyak. Nutrient an-organik dan organik yang lain mungkin diperlukan zat gizi adalah jumlah kecil. Semua nutrisi adalah faktor-faktor pembatas bagi produktivitas fitoplankton dalam sebagian besar kondisi.
d.      pH
Variasi pH dapat mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan fitoplankton dalam beberapa hal, antara lain mengubah keseimbangan dari karbon organik, mengubah ketersediaan nutrien, dan dapat mempengaruhi fisiologis sel (Dorling er. Al.,1997). Kisaran pH untuk kultur alga biasanya antara 7-9, kisaran optimum untuk alga laut antara 7.5-8.5 sedangkan untuk Tetraselmis chuii optimal pada 7-8 (Cotteau, 1996; Taw, 1990).
e.       Salinitas
Hampir semua jenis fitoplankton yang berasal dari air laut dapat tumbuh optimal pada salinitas sedikit di bawah habitat asalnya. Tetraselmis chuii memiliki kisaran salinitas yang cukup lebar, yaitu 15-36 ppt sedangkan salinitas optimal untuk pertumbuhannya adalah 27-30 ppt (Cotteau, 1996; Taw, 1990).
f.       Karbondioksida
Karbondioksida diperlukan fitoplankton untuk membantu proses fotosintesis. Karbondioksida dengan kadar 1-2 % biasanya sudah cukup untuk kultur fitoplankton dengan intensitas cahaya yang rendah. Kadar karbondioksida yang berlebih dapat menyebabkan pH kurang dari batas optimum (Cotteau, 1996; Taw, 1990).

2.5.      Peranan Fitoplankton
Fitoplankton mempunyai peranan yang sangat penting di dalam suatu perairan, selain sebagai dasar dari rantai pakan (primary producer), fitoplankton juga berperan sebagai salah satu parameter ekologi yang menggambarkan tingkat kesuburan suatu perairan. Salah satu ciri khas organisme fitoplankton yaitu merupakan dasar dari mata rantai pakan di perairan (Dawes, 1981). Oleh karena itu, kehadirannya di suatu perairan dapat menggambarkan karakteristik suatu perairan apakah berada dalam keadaan subur atau tidak. Namun fitoplankton tertentu mempunyai peran menurunkan kualitas perairan laut apabila jumlahnya berlebihan. Contoh kelas dinoflgellata tubuhnya memiliki kromatopora yang menghasilkan toksin (racun), dalam keadaan blooming dapat mematikan ikan. 
Fitoplankton memiliki zat hijau daun (klorofil) yang berperan dalam fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik dan oksigen dalam air. Sebagai dasar mata rantai pada siklus makanan di laut, fitoplankton menjadi makanan alami bagi zooplankton baik masih kecil maupun yang dewasa.
Potensi fitoplankton untuk menyerap emisi karbondioksida di atmosfer dalam upaya mengurangi isu global. Isu lingkungan yang menjadi permasalahan internasional saat ini adalah pemanasan global (global warming). Pemanasan global disebabkan oleh peningkatan gas rumah kaca di atmosfer. Gas rumah kaca tersebut akan menyebabkan terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect). Gas rumah kaca terbesar adalah karbondioksida (CO2). Umumnya peningkatan CO2 berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, pemakaian bensin, dan solar pada kendaraan, pembuangan limbah pabrik, dan penggundulan hutan. Dampak dari meningkatnya CO2 di atmosfer antara lain: meningkatnya suhu permukaan bumi, naiknya permukaan air laut, anomali iklim, dan timbulnya berbagai penyakit pada manusia, dan hewan (Astin, 2008). Berbagai upaya dilakukan untuk menekan laju peningkatan emisi CO2 di atmosfer. Upaya terbesar untuk mengatasi peningkatan emisi CO2 di tingkat internasional adalah dengan meratifikasi Protokol Kyoto (persetujuan internasional mengenai pemanasan global). Semua negara di dunia diwajibkan untuk mendukung terwujudnya Protokol Kyoto dengan memanfaatkan seluruh potensi sumber daya yang ada. Salah satu sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi emisi CO2 adalah lautan. Di dalam lautan terdapat berbagai organisme laut yang dapat menyerap CO2. Organisme laut yang dapat menyerap emisi CO2 diantaranya adalah fitoplankton. Fitoplankton merupakan organisme autotrof yang mempunyai klorofil sehingga dapat melakukan proses fotosintesis. Bacillariophyceae merupakan kelas fitoplankton yang mendominasi di suatu perairan. Indonesia mempunyai lautan yang luasnya mencapai 5,8 juta km2 sehingga keberadaan Bacillariophyceae di perairan Indonesia melimpah dan berpotensi besar untuk menyerap emisi CO2. (Astin, 2008)
Dewasa ini fitoplankton laut telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia antara lain:
1.   Bidang perikanan
Sebagai makanan larva ikan, dilakukan melalui isolasi untuk mendapatkan satu spesies tertentu, misalnya Skeletonema. Kemudian dibudidayakan pada bak-bak terkontrol pada usaha pembibitan ikan untuk keperluan makanan larva ikan.
2.   Industri farmasi dan makanan suplemen
Fitoplankton yang mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi digunakan sebagai makanan suplemen bagi penderita gangguan pencernaan dan yang membutuhkan energi tinggi. Contoh produk yang beredar dari jenis Chlorella.
3.   Pengolahan limbah logam berat
Dalam pengolahan limbah logam berat fitoplankton dapat digunakan untuk mengikat logam dari badan air dan mengendapkannya pada dasar kolam. Sehingga logam dalam air menjadi berkurang.

2.6.      Permasalahan Fitoplankton
1.      Red tide
Ride Tide adalah suatu keadaan di mana air, terutama air laut mengalami perubahan warna akibat dari ledakan populasi (blooming) dari fitoplankton. Perubahan warna yang terjadi dapat berupa warna merah, coklat, ungu, kuning, hijau dan lain-lainnya. Istilah red tide saat ini populer dikenal dengan istilah Harmfull m-Alga Blooms (HAB), karena tidak semua alga yang blooming menyebabkan kematian dan tidak semunya berwarna merah. Saat ini jumlah fitopalnkton yang dapat menyebabkan HAB ada sekitar 50 jenis dan hampi semuanya dari kelompok dinoflagelata. Kelompok lain hanya terdiri atas marga diatom sebanyak tiga jenis dari marga Pseudonistzchia (Praseno, 1993).
Pada sisi lain, HAB merupakan fenomena yang terjadi akibat ledakan perkembangan (blooming) yang begitu cepat dari sejenis fitoplankton, misalnya Ptychodiscus brevis, Prorocentrum, Gymnodinium breve, Alexandrium catenella dan Noctiluca Scintillans dari kelompok Dinoflagellata (Pyrrophyta) yang dapat menyebabkan perubahan warna dan konsentrasi air secara drastis, kematian massal biota laut, perubahan struktur komunitas ekosistem perairan, bahkan keracunan dan kematian pada manusia. Hal ini disebabkan oleh setidaknya empat faktor, yaitu pengayaan unsur hara dalam dasar laut atau eutrofikasi, perubahan hidro-meteorologi dalam sekala besar, adanya gejala upwelling yaitu pengangkatan massa air yang kaya akan unsur hara ke permukaan, dan akibat hujan dan masuknya air tawar ke laut dalam jumlah besar.
Keempat faktor itu merupakan faktor penyebab terjadinya red tide spesies fitoplankton Pyrrophyta berwarna merah. Spesies ini akan hilang dengan sendirinya, bila ekosistem dalam air kembali seimbang, yaitu kembali pada kondisi normalnya. HAB biasanya terjadi pada air pesisir pantai dan muara, jumlah fitoplankton berlebih di sebuah perairan berpotensi membunuh berbagai jenis biota laut secara massal. Pasalnya, keberadaan fitoplankton mengurangi jumlah oksigen terlarut. Kemungkinan lain, insang- insang ikan penuh dengan fitoplankton. Akibatnya, lendir pembersihnya menggumpal karena fitoplanktonnya berlebih dan ikan pun sulit bernapas.
Fenomena pasang merah ini merupakan peristiwa alam yang umumnya terjadi. Namun demikian red tide tidak selalu berwarna merah, ada kemungkinan berwarna kuning atau coklat tergantung jenis fitoplankton yang menyebabkan terjadinya red tide tersebut.
Dinoflagellata dalam jumlah yang kecil sebagai penyusun komunitas plankton laut, tetapi lebih melimpah di perairan tawar. Fenonema menarik yang dihasilkan oleh Pyrrophyta adalah kemampuan bioluminescence (emisi cahaya oleh organisme), seperti yang dihasilkan oleh Noctiluca, Gonyaulax, Pyrrocystis, Pyrodinium, dan Peridinium sehingga menyebabkan laut tampak bercahaya pada malam hari.
Di beberapa Negara, seperti Jepang, Australia, Selandia Baru, Fiji, Papua Nugini, Hongkong, India, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, dan beberapa Negara lainnya melaporkan bahwa masalah yang ditimbulkan HAB merupakan masalah serius. Beberapa pusat budidaya ikan, udang, dan kerang hacur akibat HAB, bahkan kasus keracunan dan kematian manusia akibat memakan ikan atau kerang yang terkonatminasi HAB sudah sering dilaporkan.
Di Indonesia pernah terjadi peristiwa kematian massal ikan beserta kasus keracunan dan kematian manusia akibat HAB pertama kali dilaporkan terjadi di Flores pada tahun 1983. Selain itu juga pernah terjad di Ujung Pandang pada bulan Agustus 1987 dan di Kalimantan Timur pada bulan Januari 1988. Kasus keracunan ini diduga kuat disebabkan oleh fitoplankton jenis Pyrodinium bahamense. Jenis ini dapat menghasilkan racun saxitosin yang dapat menyebabkan penyakit Paralytic Shellfish Poisoning (PSP) pada manusia dan hewan (Adnan 1990).
Di Jakarta pertama kali dilaporkan terjadi peristiwa HAB pada tanggal 31 Juli 1986. Kejadian ini tampak pada beberapa ikan yang mati mengapung di atas air laut yang pada mulanya banyak beranggapan hal ini disebabkan oleh pembuangan bahan kimia dan limbah ke laut. Kemungkinan perairan di teluk Jakarta sudah mengalami eutrofikasi yang menjadi factor utama terjadinya HAB (Sutomo, 1993).
2.      Penurunan jumlah populasi fitoplankton
Penurunan populasi fitoplankton yang utama adalah aktifitas pemangsaan yang intensive oleh zooplankton dan hewan air mikro lainnya yang herbivora, penyebab kedua adalah melalui kematian dan dekomposisi. Fros disitasi oleh Purbani (1999), menyatakan bahwa pemangsaan tidak hanya penyebab mortalitas fitoplankton tetapi juga merubah komposisi fitoplankton.
            Kelompok zooplankton yang bersifat herbivora adalah protozoa, rotifera, kopepoda dan lain sebagainya. Kopepoda merupakan zooplankton pemakan tumbuhan yang mendominasi disemua lautan. Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa kopepodalah yang bertanggung jawab dalam mengatur populasi fitoplankton (Nybakken, 1988).
            Tiga teori penting yang dapat menerangkan hubungan terbalik antara fitoplankton dengan zooplankton dijelaskan oleh Dapis disitasi oleh Samosir (1995) sebagai berikut:
a.       Teori dimakannya fitoplankton oleh zooplankton atau the theory of grazzing (Harvey et al. Disitasi oleh Samosir 1995). Teori ini menyatakan bahwa bila populasi fitoplankton meningkat, maka grzzing oleh zooplankton akan sampai pada kecepatan tertentu sehingga fitoplankton tidak sempat membelah diri. Populasi zooplankton menurun, maka fitoplankton akan berkembang sehingga fitoplankton akan melimpah.
b. Teori penyingkiran hewan atau the theory of animal exclussion (Hardy dan Gunther disitasi oleh Samosir 1995). Teori ini mengatakan bahwa selama zooplankton melakukan migrasi vertikal harian akan menemukan hambatan untuk mencapai permukaan bila berjumpa dengan kelimpahan fitoplankton yang sangat padat. Hal ini diduga karena fitoplankton menghasilkan suatu zat kimia tertentu sehingga zooplankton tidak mendekatinya.  
c. Teori perbedaan laju pertumbuhan atau the theory of differenrate (Nielsen  disitasi oleh Samosir, 1995). Mengemukakan bahwa meskipun zooplankton memakan fitoplankton tetapi untuk mencapai populasi yang melimpah akan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan fitoplankton. Hal ini disebabkan zooplankton mempunyai siklus reproduksi yang lebih panjang dibandingkan fitoplankton.





III. PEMBAHASAN
 

Peranan dan kedudukan masing-masing organisme di laut digambarkan dalam piramida makanan di laut. Dasar piramida ditempati oleh organisme produsen atau organisme autotropik yang mampu mengubah bahan an-organik menjadi bahan organik dengan memanfaatkan energi matahari. Penggerak utama sistem kehidupan di bumi adalah energi matahari.
Ada dua kelompok rantai makanan yang ada di ekosistem laut yaitu rantai makanan grazing (grazing food chain) dan rantai makanan detrital (detritus food chain). Kedua jenis rantai makanan tersebut saling melengkapi dan membentuk sebuah siklus yang kontinu. Rantai makanan grazing dimulai dari proses transfer makanan pertama kali oleh organisme herbivora melalui proses grazing. Makanan pertama itu berupa fitoplankton dan herbivora oleh zooplankton digunakan sebagai bahan makanan. Selanjutnya, rantai makanan ini berlanjut ke konsumen tingkat tinggi (seperti ikan dan konsumer lainnya) yang apabila mengalami kematian akan menjadi detritus pada ekosistem laut.
Plankton adalah organisme yang sangat kecil memiliki ukuran 0,45 μm yang tak nampak oleh mata telanjang dan tersebar luas diperairan tawar dan laut. Plankton ini terdiri dari plankton hewani (zooplankton) dan plankton nabati (fitoplankton). Distribusi plankton tergantung pada distribusi makronutrien. Hal ini karena pengadukan di pesisir dan arus dari daratan, tingkat nutrien paling tinggi terjadi di dekat pertemuan dua arus tersebut. Plankton paling melimpah di daerah tersebut dan produktivitasnya juga tinggi.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


4.1. Kesimpulan
Phytoplankton merupakan tumbuhan air yang sangat kecil yang terdiri dari beberapa kelas yang sangat tergantung pada cahaya matahari terdapat pada permukaan air sampai kedalaman penetrasi cahaya matahari. Dan, phytoplankton ini merupakan produsen utama (primary producer) zat-zat organik yang komplek dari bahan-bahan organik dan dari bahan an-organik yang sederhana melalui proses fotosintesis.
Fitoplankton memperoleh energi melalui proses yang dinamakan fotosintesis sehingga mereka harus berada pada bagian permukaa permukaan (disebut sebagai zona euphotic) lautan, danau atau kumpulan air yang lain. Melalui fotosintesis, fitoplankton menghasilkan banyak oksigen yang memenuhi atmosfer bumi. Mereka akan lebih banyak dijumpai pada tempat yang terletak di daerah continental shelf dan di sepanjang pantai dimana terdapat proses upwelling.
Keberadaan fitoplankton perlu didukung oleh adanya unsur hara dan zat organik lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk proses fotosintesis. Walaupun demikian berbagai faktor lingkungan lainnya juga berperan penting dalam kehidupan plankton. Faktor tersebut antara lain suhu, pH, kadar O2, CO2 bebas, kecerahan, alkalinitas, arus, dan hubungan antara spesies

4.2. Saran
Saat ini, hendaknya ahli yang berkecimpung dalam usaha budidaya fitoplankton ini lebih ditingkatkan lagi didukung juga meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat Indonesia. Sehingga dengan banyaknya ahli yang menguasai tentang pembudidayaan fitoplankton ini dan teknologi yang maju maka bukan hanya dari perusaahaan besar saja yang dapat melakukan budidaya namun sudah dapat mengarah kepada industri skala rumah tangga yang dapat dilakukan oleh anggota keluarga yang saat ini telah dilakukan oleh negara-negara maju lainnya. 
            Disamping itu, dihimbaukan agar masyarakat lebih memperhatikan keadaan lingkungan laut, karena laut merupakan tempat berkumpulnya semua aktivitas daratan. Misalnya limbah pabrik, limbah rumah tangga, akibat dari penebangan hutan secara besar-besaran, dan sebagainya. Oleha karena itu, banyak sekali organisme laut yang dapat terancam kehidupannya jika kita sebagai manusia tidak dapat mengontrol dan memanajemen aktivitas daratan tersebut. Kita boleh saja memanfaatkan dengan mengolah sumber daya perairan laut, namun kita juga harus tetap mempertahankan kelestariannya agar dapat terus dimanfaatkan.




DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 1990. Eutrofikasi dan Akibatnya Bagi Kehidupan di Perairan Indonesia Alternatif Dampak Berbagai Kegiatan Pembangunan Metropollitan. Pusat Penelitian Oceanologi-LIPI
Anonymous. 1985. Budidaya Fitoplankton. Seri Ke Sembilan. Sebuah kerja sama antara Badan Peneltian dan Pengembangan Pertanian Sub Balai Penelitian Budidaya Pantai Bojonegoro dengan Japan Internasional Coorporation Agency (JICA). Serang Banten
O.H. Arinardi, M.S. Baars, S.S. Oosterhuis, Neth. J. Sea Res. 1990. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. Puslitbang Oseanologi-LIPI. Jakarta
Elita. 1997. Kultur Plankton-BBAP. Ditjen Perikanan. Jepara
Boney, A.D. 1989. Phytoplankton. Edward Arnold (Pub.) Ltd., London
Dawes. 1981. The Plankton of Australian Coastal Waters off The New South Wales. Part 1. Monograph No. 1. Dept. Zool. Univ. Sydney. Sydney
Dodge, C.C. 1966. The Marine and Fresh Water Plankton. Michigan State University Press. Chicago
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut-Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Praseno, D.P dan Sugestiningsih. 2000. Red tide di Perairan Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro. Semarang.
Sediadi, Sutomo, Perairan Maluku dan Sekitarnya: Biologi, Geologi, Lingkungan & Oseanografi, BPPSL-P3 LIPI, Jakarta, 1989.
Siagian, R. 2001. Keanekaragaman Hayati Laut. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 412 hal
















Daftar Pertanyaan:
1.                  Apa perbedaan klorofil a dan klorofil b? Jelaskan!
Jawaban:
            Pada tanaman tingkat tinggi ada 2 macam klorofil yaitu klorofil-a (C55H72O5N4Mg) yang berwarna hijau tua dan klorofil-b (C55H70O6N4Mg) yang berwarna hijau muda. Klorofil-a dan b paling kuat menyerap cahaya di bagian merah (600-700 nm), sedangkan yang paling sedikit cahaya hijau (500-600 nm) (Gobel dkk., 2006).

No comments:

Post a Comment