Saturday, August 20, 2016

CITRA LANDSAT 7 ETM+



Menurut Lo dalam Sukristiyanti et al. (2007), Landsat merupakan suatu hasil program sumberdaya bumi yang dikembangkan oleh NASA (The Nationa Aeronautical and Space Administration) Amerika Serikat pada awal tahun 1970-an. Landsat diluncurkan pada tanggal 22 Juli 1972 sebagai ERTS-I (Earth Resources Technology Satellite-I) yang kemudian diganti namanya menjadi Landsat I. Peluncuran Landsat 1 itu diikuti dengan landsat-landsat yang lain dan yang terakhir diluncurkan yaitu landsat 7 pada tanggal 15 April 1999.
Pada dasarnya, citra digital landsat TM dan ETM+ memiliki karakteristik yang sama. Hanya saja citra digital landsat ETM+ adalah versi terbarunya, dengan memiliki tambahan saluran pankromatik dan saluran thermal yang ditajamkan resolusi spasialnya (enhanced thermal band). Saluran thermal pada citra landsat TM mempunyai resolusi spasial 120 m, sedangkan pada landsat ETM+ mengalami penajaman menjadi 60 m.
Citra landsat 7 ETM+ mempunyai 7 saluran (band) yang mempunyai kepekaan berbeda dalam memantulkan obyek di bumi. Untuk penggunaan lahan citra landsat 7 ETM+ ini dapat dimanfaatkan karena resolusi spasialnya dapat mencapai 30 meter dan lebih murah daripada survey lapangan. Interpretasi citra penginderaan jauh dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu interpretasi secara visual dan interpretasi secara digital (Purwadhi dalam Daruati, 2008).
Citra satelit, khususnya citra satelit Landsat mempunyai kemampuan dalam deteksi kerapatan vegetasi dan suhu permukaan, citra Landsat juga mampu memberikan informasi mengenai bentang dan penutup lahan secara spasial dengan daerah cakupan yang cukup luas (185km x 185km) (Sukristiyanti dan Marganingrum, 2009). Data landsat MSS dan TM untuk pemantauan mangrove memberikan hasil guna yang optimal, karena inderaja memberikan kemudahan dalam analisi spasial, berulang, kontinu, serta meliputi wilayah luas dengan biaya yang relative murah dan cepat dibandingkan dengan survey teristris (Dewanti et al, 1998) 


Referensi :



Daruati, D., 2008. Penggunaan Citra Landsat 7 ETM+ Untuk Kajian Penggunaan Lahan DAS Cimanuk. Jurnal LIMNOTEK. Vol. XV, No. 1 (40-50).

Dewanti, R., S. Utaminiangsih, T. Gantini dan C. Kusmana, 1998. Pemanfaatan Data Landsat MSS dan TM untuk Studi Pemantauan Luasan dan Zonasi Mangrove (Bakau) di Segara Anakan, Jawa Tengah tahun 1984 sampai 1994. Majalah LAPAN. No. 85 tahun XXII. 




Sukristiyanti dan D. Marganingrum, 2009. Pendeteksian Kerapatan Vegetasi dan Suhu Permukaan Menggunakan Citra Landsat Studi Kasus : Jawa Barat Bagian Selatan dan Sekitarnya. Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan. Jilid 19 No.1 (15-24).

PENGINDERAAN JARAK JAUH (REMOTE SENSING)



Penginderaan jarak jauh (remote sensing) merupakan teknik foto satelit yang digunakan untuk mengetahui dan menganalisa situasi permukaan bumi tanpa kontak langsung dengan obyek (Lillesand and Keifer, 1994 dalam Suwito, 2007). Penginderaan jauh dapat diartik sebagai teknologi untuk mengidentifikasi suatu obyek di permukaan bumi tanpa melalui kontak langsung dengan obyek tersebut. Teknnologi penginderaan jauh berbasis satelit menjadi sangat popular dan digunakan untuk berbagai tujuan kegiatan, salah satunya untuk mengidentifikasi potensi sumber daya wilayah pesisir dan lautan.
 Hal ini disebabkan teknologi ini memiliki beberapa kelebihan, seperti harganya yang relative murah dan mudah di dapat, adanya resolusi temporal (perulangan) sehingga dapat digunakan untuk keperluan monitoring, cakupannya yang luas dan mampu menjangkau daerah yang terpencil, bentuk datanya digital sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan dan ditampilkan sesuai keinginan (Suwargana, 2008).
 Terdapat keunggulan  inderaja sebagai sumber data data SIG (Johnson, 1998 dalam Radiarta, 2008) di antaranya :
1.      Data yang dihasilkan sudah dalam format digital
2.      Dapat memantau suatu daerah kajian secara berulang-ulang
3.      Dapat mencakup lokasi kajian yang luas
4.      Analisis inderaja biasa menghasilkan berbagai jenis data bermanfaat yang sulit diperoleh dengan menggunakan data lapangan




Interpretasi secara visual adalah interpretasi data penginderaan jauh yang mendasarkan pada pengenalan ciri/karakteristik objek secara keruangan. Karakteristik objek dapat dikenali berdasarkan 9 unsur interpretasi yaitu bentuk, ukuran, pola, bayangan, rona/warna, tekstur, situs, asosiasi dan konvergensi bukti. Menurut Wahyunto et al. dalam Daruati (2008), dalam identifikasi penggunaan lahan dengan citra landsat, selain unsur interpretasi sebagai dasar analisis, perlu diperhatikan juga beberapa faktor penutup lahan, misalnya jenis vegetasi, keadaan air genangan, dan tanah terbuka. Setiap faktor akan memberikan reflektansi yang berbeda dan dapat berpengaruh terhadap kenampakan objek tersebut.
 



Referensi :



Daruati, D., 2008. Penggunaan Citra Landsat 7 ETM+ Untuk Kajian Penggunaan Lahan DAS Cimanuk. Jurnal LIMNOTEK. Vol. XV, No. 1 (40-50).



Radiarta, I. N. 2008. Pemanfaatan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Manajemen Sumberdaya Perikanan Budidaya di Indonesia. Media Akuakultur. 3 (1).



Suwargana, N. 2008. Analisis Perubahan Hutan Mangrove Menggunakan Data Penginderaan Jauh di Pantai Bhagia, Muara Gembong, Bekasi. Jurnal  Penginderaan Jauh. 5 (64-74).

Suwito, 2007. Penginderaan Jauh (Remote Sensing) Habitat Perkembangan Nyamuk Anopheles Kaitannya dengan Potensi Sebaran Vektor Malaria di Pulau Bangka. Jurnal Ekologi Kesehatan. 6 (631-638).