Sunday, May 8, 2011

BIOLOGI ORGANISME LAUT Pteria penguin

PERHATIAN : diperbolehkan untuk meng-copy materi ini dengan syarat hanya untuk akademis dan mencantumkan Nama Penulis dan alamat web halaman ini pada Daftar Pustaka Anda. 


-->
BIOLOGI ORGANISME LAUT
 Pteria penguin



Oleh


Teguh Heriyanto
0904121598
Ilmu Kelautan



Logo UNRI Hitam Putih.JPG











FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2011
-->
KATA PENGANTAR
Berkat rahmat Allah SWT, akhirnya makalah Bilologi Organisme Laut Pteria penguin dapat penulis selesaikan. Makalah ini dibuat sebagai upaya pembelajaran serta pelatihan bagi Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.
Sebagai manusia penyandang relativitas kebenaran, penulis sangat menyadari adanya kekurangan didalam pembuatan makalah ini. Atas segala kekurangan tersebut penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
Penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada Dosen mata kuliah Biologi Laut yang telah memberikan pembelajaran dalam pembuatan makalah ini. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.


Pekanbaru, 26 April 2011


Teguh Heriyanto





DAFTAR ISI

                       Halaman
KATA PENGANTAR.............................................................................               i
DAFTAR ISI.............................................................................................              ii
DAFTAR GAMBAR...............................................................................             iii
I.       PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang.......................................................................              1
1.2              Tujuan Praktikum ..................................................................              1
II.     TINJAUAN PUSTAKA                                                                               
III.    ISI
3.1              Klasifikasi..............................................................................              3
3.2              Morfologi dan Anatomi.........................................................              3
3.3              Distribusi................................................................................              5
3.4              Reproduksi.............................................................................              5
3.5              Pemanfaatan ...........................................................................            6
IV.    PEMBAHASAN
V.     KESIMPULAN DAN SARAN
5.1              Kesimpulan............................................................................              8
5.2              Saran......................................................................................              8
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................              9














DAFTAR GAMBAR
Gambar                                                                                               Halaman
1. Cangkang bagian luar tiram mutiara.….………………………….            8
2. Anatomi tiram mutiara …………………..………………………..           10


 
-->
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Tiram mutiara merupakan salah satu organisme laut yang tergolong dalam phylum mollusca dan dapat menghasilkan mutiara yang memiliki harga tinggi dan peminat yang banyak. Pada saat ini mutiara dijadikan sebagai komuditi ekspor andalan Indonesia. Akan tetapi dalam kenyataannya, Indonesia memiliki sumberdaya manusia yang kurang untuk dapat memanajemen atau mengelola sumberdaya hayati laut tersebut, sehingga banyak perusahaan asing yang memiliki modal besar berdiri di Indonesia untuk mengelola sumberdaya hayati ini dan orang Indonesia hanya menjadi karyawan bahkan pembantu di negerinya sendiri. Tiram Mutiara khususnya Pteria penguin sangat banyak terdapat di Indonesia, sehingga dengan mempelajari spesies ini dalam mata kuliah Biologi Laut dapat menimbulkan kesadaran dan motivasi bagi kaum intelektual dan pengusaha untuuk dapat memanfaatkan organisme ini.

1.2.  Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memperluas ilmu pengetahuan mengenai phylum Mollusca khusunya spesies yang dibahas pada makalah ini yakni Pteria penguin.




BAB 2. TINJAUAN PUSTAKTA

Kerang mutiara adalah hewan yang bertubuh lunak atau moluska yang hidup dilaut, tubuhnya dilindungi oleh sepasang cangkang yang tipis dan keras, termasuk dalam lokasi Bivalva dan Famili Pteridae. (Egong, 2011)
Tiram mutiara termasuk dalam kelas Bivalvia dan Famili Pteridae. Mollusca berasal dari moluscus yang berarti lunak yang merupakan persamaan dari mollusces menjadi mollusca. Famili tiram mutiara dikenal menghasilkan mutiara dengan kualitas tinggi dengan harga yang selangit di pasaran internasional. Genus penghasil mutiara ini adalah Pinctada dan Pteria. (Syazili, 2011)
Hanya beberapa jenis tiram dapat menghasilkan mutiara nacreous, walaupun semuanya merupakan anggota keluarga Pteriidae, yang terdiri dari kerang laut sedang hingga besar. Jenis ini merupakan keluarga yang berbeda dari jenis tiram yang orang biasa makan, yang merupakan keluarga Ostreidae, atau tiram sejati.
Genus Pinctada, juga dikenal sebagai tiram mutiara, adalah anggota keluarga Pteriidae yang dapat menghasilkan kualitas mutiara batu permata. Di antara anggota genus Pinctada ini, hanya spesies tertentu menghasilkan mutiara secara komersial layak. Setiap spesies memproduksi berbagai ukuran dan warna mutiara.
(Dhilah, 2011)




BAB 3. ISI
 

3.1. Klasifikasi
Kingdom         : Invertebrata
Phyllum           : Mollusca
Klass               : Pellecypoda atau Lamellibranchiata
Orda                : Anysomyaria
Famili              : Pteridae
Genus              : Pteria
Spesies            : Pteria penguin

3.2. Morfologi dan Anatomi
Bentuk luar tiram mutiara tampak seperti batu karang yang tidak ada tanda – tanda kehidupan . tetapi di balik kekokohan tersebut terdapat organ yang dapat mengatur segala aktivitas kehidupan dari tiram itu sendiri. Dalam kelunakan tubuh tiram tersebut terdapat cangkang yang keras untuk melindungi bagian tubuh agar terhindar dari benturan maupun serangan hewan lain. Disamping itu, dalam cangkang yang jumlahnya satu pasang dan mempunyai bentuk yang berlainan itu terdapat mother of pearl atau lapisan induk mutiara serta nacre yang dapat membentuk lapisan mutiara.
Memiliki sepasang cangkang, bentuknya pipih berwarna kuning kecoklatan. Kedua cangkang tersebut tidak memiliki cangkang sama bentuknya (ineguivalven), cangkang agak pipih sedangkan cangkang kiri cembung. Dibagian tengah dorsal sepasang cangkang dihubungkan oleh ligmen yang elastis serta adanya gigi engsel. Kedua cangkang memiliki otot yang liat dan kuat yang berfungsi untuk membuka dan menutup. Cangkang bagian dalam berwarna putih mengkilat atau disebut lapisan nacre (mother of pearly) pada bagian sentral. Lapisan nacrenya berwarna kuning emas (gold up). Di luar batas garis nacre (non nacreusbordes) berwarna coklat kehitaman.
Menurut Wada (1991) dalam Muzakkir, cangkang tiram mutiara terdiri dari tiga lapisan yaitu Periostrocum (lapisan luar) tipis, biasanya rapuh setelah tua, lapisan prismatic merupakan bagian utama cangkang dan lapisan nacreous yang merupakan lapisan induk mutiara yang berada dibagian dalam cangkang.
Gambar 1. Cangkang bagian luar tiram mutiara
 
Gambar 2. Anatomi tiram mutiara
 


3.3. Distribusi
Indonesia & Australia Utara. Kawasan ini merupakan areal tempat hidup kerang mutiara. Sepanjang pantai utara Australia, ke utara di perairan Arafura, Indonesia (Dobo) dan ke arah timur melewati Selat Torres, selat yang memisahkan Australia dan pulau Papua. Titik-titik kumpulan kerang mutiara di daerah ini ditemukan sekitar pertengahan abad ke 19 sampai awal abad ke 20.

3.4. Reproduksi
Kelenjar genital terletak di antara kaki dan otot pengikat dan menutupi bagian – bagian dari kelenjar pencernaan. Perkembangannya sekurang – kurangnya tergantung pada fase dari daur kelamin saat itu. Kematangan kelamin tercapai pada umur tiga tahun. Kelenjar genital mula – mula berkembang menjadi gonad jantan yang berwarna susu. Gonad betina berwarna oranye dan mulai berkembang ketika cangkangnya mencapai sekitar 14 cm. Untuk ukuran 20 cm rasio kelaminnya adalah 1, yang berarti jumlah hewan jantan sama dengan hewan betina sama dengan hewan betina. Pembuahan terjadi di dalam perairan terbuka dimana telur dan spermatozoa dikeluarkan bersamaan.


3.5. Pemanfaatan
Mutiara laut ada tiga macam. Pertama, akoya pearl berasal dari Jepang dan Cina. Kedua, black pearl (mutiara hitam) yang diproduksi Tahiti atau French Polynesia. Ketiga, south sea pearl (mutiara putih) produksi Indonesia, Australia, Filipina, dan Myanmar.
Dari ketiga jenis tersebut, yang terbanyak produksinya adalah jenis akoya pearl. Pada tahun 2005, produksi akoya, black, dan south sea pearl berturut-turut adalah 34 ton, 10 ton, dan 8,5 ton. Namun mutiara termahal adalah mutiara putih, yakni rata-rata US$ 23,6 per gram. Sedangkan harga mutiara hitam US$ 14,70 per gram. Malah jenis akoya hanya US$ 3,76 per gram. Dengan tingginya harga mutiara di pasaran, orang – orang banyak memanfaatkannya untuk memperoleh mutiara sebagai komuditi ekspor dibandingkan dijadikan sebagai makanan konsumsi.


BAB 4. PEMBAHASAN

            Kondisi hidup dari tiram mutiara salah satunya Pteria penguin masih banyak terdapat di Indonesia khusunya wilayah utara di perairan Arafura, Indonesia (Dobo) dan arah timur melewati Selat Torres. Namun budidaya Pteria penguin masih kurang jika dibandingkan jenis tiram mutiara lainnya seperti Pinctada maxima, Pinctada margaritifera. Hal ini disebabkan karena Pteria penguin sejauh ini hasilnya diperuntukkan hanya pada kalangan tertentu mengingat bentuk mutiara yang dihasilkannya umumnya tidak bundar. Namun dengan sentuhan seni, mutiara yang dihasilkan oleh Pteria penguin dapat menjadi asesoris lain seperti kancing baju atau bross, tetapi harganya masih tetap tinggi. Contoh mutiara yang dihasilkan  oleh Pteria penguin adalah Mabe biasanya memang diternakkan pada tiram-tiram yg tidak bisa menghasilkan mutiara yang utuh.
.







BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
            Pteria penguin merupakan salah satu organisme laut yang tergolong dalam phylum Mollusca. Organisme laut ini juga dikenal sebagai tiram penghasil mutiara. Karena bentuknya tidak begitu bundar maka penggemarnya hanya pada kalangan terbatas saja. Namun hal itu dapat dibuat lebih menarik dengan membuat karya yang lain dengan bahan dasar mutiara tersebut. Kurangnya sumberdaya manusia mengakibatkan kurang optimalnya pemanfaatan sumberdaya alam Indonesia.

5.2. Saran
            Saran bagi diri penulis sendiri dalam penulisan makalah berikutnya lebih diperbanyak literature agar pembaca mendapatkan wawasan yang lebih luas terhadap isi makalah. 









DAFTAR PUSTAKA

Egong. 2011. Moluska (Tiram Mutiara) http://egongcool.blogspot.com/2008/10/moluska-tiram-mutiara.html (diakses pada 28-02-2011 pukul 21.45)
Kriya Indonesian Craft. 2011. Mutiara South Sea (The Big Girl Pearls).http://kalungmanik.wordpress.com/2011/03/11/mengenal-aneka-jenis-mutiara/. (diakses pada 26-04-2011 pukul 17.31)
Romimoharto, Kasijan, S. Juwana. 2007. Biologi Laut : Ilmu Pengetahuan Tentang Biologi Laut. Djambatan. Jakarta. 540 hal
Sukiman. 1993. Tiram Mutiara : Teknik Budidaya dan Proses Pembuatan Mutiara. Kanisus. Yogyakarta. 93 hal































PENGAMATAN PERGERAKAN SIRIP – SIRIP IKAN DAN MEKANISME IKAN MENGAMBIL MAKANAN DAN LAJU MENGHANCURKAN DI DALAM LAMBUNG

PERHATIAN : diperbolehkan untuk meng-copy materi ini dengan syarat hanya untuk akademis dan mencantumkan Nama Penulis dan alamat web halaman ini pada Daftar Pustaka Anda.   




PENGAMATAN PERGERAKAN SIRIP – SIRIP IKAN DAN MEKANISME IKAN MENGAMBIL MAKANAN DAN LAJU MENGHANCURKAN DI DALAM LAMBUNG



Oleh


Teguh Heriyanto
0904121598
Ilmu Kelautan



Logo UNRI Hitam Putih.JPG









FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS RIAU

PEKANBARU
  2011 


          
-->
KATA PENGANTAR
Berkat rahmat Allah SWT, akhirnya laporan Praktikum Fisiologi Hewan Air ini dapat penulis selesaikan. Dalam laporan ini penulis membahas mengenai pengamatan pergerakan sirip – sirip ikan dan mekanisme ikan mengambil makanan dan laju menghancurkan makanan di dalam lambung. Praktikum ini dilaksanakan sebagai upaya pembelajaran serta pelatihan bagi Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.
Sebagai manusia penyandang relativitas kebenaran, penulis sangat menyadari adanya kekurangan didalam pembuatan laporan ini. Atas segala kekurangan tersebut penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
Penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada asisten yang telah memberikan bimbingan didalam praktikum dan pembuatan laporan ini. Akhirnya penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.


Pekanbaru, 20 April 2011


Teguh Heriyanto



DAFTAR ISI

                       Halaman
KATA PENGANTAR.............................................................................               i
DAFTAR ISI.............................................................................................              ii
DAFTAR GAMBAR...............................................................................             iii
DAFTAR TABEL......................................................................................           iv
DAFTAR LAMPIRAN...........................................................................              v
I.       PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang.......................................................................              1
1.2              Tujuan Praktikum ..................................................................              2
1.3              Manfaat Praktikum ...............................................................              2
II.     TINJAUAN PUSTAKA                                                                                
III.    METODE PRAKTIKUM
3.1              Waktu dan Tempat................................................................              5
3.2              Bahan dan Alat......................................................................              5
3.3              Metode Praktikum .................................................................                           5
3.4              Prosedur Praktikum...............................................................              6
IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1              Hasil.......................................................................................              8
4.2              Pembahasan...........................................................................              9
V.     KESIMPULAN DAN SARAN
5.1              Kesimpulan............................................................................            11
5.2              Saran......................................................................................            11
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................            12
LAMPIRAN...............................................................................................                           13






DAFTAR GAMBAR
Gambar                                                                                               Halaman
1. Ikan mas (Cyprinus carpio)..…………….………………………….        8









































DAFTAR  TABEL

Tabel                                                                                                   Halaman
1. Pergerakan Sirip Ikan ………………………………………….                8
2. Mekanisme ikan mengambil makanan dan laju menghancurkan makan di dalam lambung………………………………………                                           9






































DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran                                                                                             Halaman
Alat………………………………………………………………….                        14
















 
-->

1.1. Latar belakang

Fisiologi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari fungsi, mekanisme, dan cara kerja dari organ, jaringan, dan sel – sel organisma. Fisiologi mencoba menerangkan faktor – faktor fisika dan kimia yang mempengaruhi seluruh proses kehidupan. (Fujaya, 2004)
Fisiologi mempelajari fungsi organ – organ tubuh atau fungsi keseluruhan organisme. Organ artinya alat – alat tubuh seperti hati, paru – paru, insang, jantung, ginjal yang merupakan bagian tubuh hewan sedangkan pada tumbuhan oragn antara lain meliputi akar, batang, daun, bunga. Organ – organ tersebut menyusun suatu organisme yaitu makhluk hidup baik yang makroskopik (berukuran besar, dapat dilihat dengan mata manusia tanpa bantuan alat) maupun yang mikroskopis (berukuran kecil, tidak dapat dilihat dengan mata manusia tanpa bantuan alat). Fisiologi mencakup pembahasan tentang apa yang dilakukan oleh makhluk hidup dan bagaimana mereka melakukan agar mereka lulus hidup dan dapat mengatasi berbagai tantangan dari lingkungan hidupnya sehingga mereka dapat beradaptasi dan memppertahankan eksistensinya. (Yuwono, 2001)  
Ikan adalah hewan yang bertulang belakang (vertebrata) yang berdarah dingin (poikilothermal) dimana hidupnya dilingkungan air, pergerakan dan keseimbangan dengan menggunakan sirip serta pada umumnya bernafas dengan insang. (Raharjo, 1980).

1.2.Tujuan praktikum

Tujuan dari praktikum pengamatan pergerakan sirip – sirip ikan dan mekanisme ikan mengambil makanan dan laju menghancurkan makanan di dalam lambung adalah agar kita mengetahui sirip – sirip ikan apa saja yang bergerak pada arah pergerakan yang berbeda. Selain itu, untuk mengetahui bagaimana cara ikan mengambil makanan dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk menghancurkan makanan setelah makanan ditelan.

1.3.   Manfaat praktikum

Manfaat dari praktikum pengamatan pergerakan sirip – sirip ikan dan mekanisme ikan mengambil makanan dan laju menghancurkan makanan di dalam lambung adalah menambah pengetahuan tentang factor apa saja yang mempengaruhi pergerakan ikan dan mekanisme ikan mengambil makanan dan menghancurkan makanan.






II.                TINJAUAN PUSTAKA


Fisiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari segala proses yang berlangsung dalam tubuh makhluk hidup, baik organisme ber-sel tunggal maupun ber-sel banyak, termasuk interaksi antar sel, jaringan, organ serta semua komunikasi intercellular, baik energenik maupun metabolik. (Windarti et al, 2011).
Hewan air adalah makhluk hidup yang habitatnya di perairan dan tidak dapat memanfaatkan secara langsung zat – zat anorganik (organisme heterotrof) tetapi mereka dapat mendapatkan makanannya dari mikroba, tumbuhan atau hewan lainnya. Pada umumnya hewan air melakukan pergerakan untuk mencari makananan. (Yuwono, 2001)
Menurut Khairuman (2008), di Indonesia, ikan mas mulai dikenal pertama kali di daerah Galuh, Ciamis, Jawa Barat sekitar tahun 1860. Setelah itu, berkembang ke daerah lain di Jawa Barat. Sejak permulaan abad ke – 23, budi daya ikan mas yang dilakukan di kolam dan di sawah, mulai berkembang di beberapa daerah di luar Jawa. Pada tahun 1892, ikan mas mulai didatangkan ke Bukittinggi, Sumatera Barat dan Sumatera Utara, ikan mas didatangkan pada tahun 1903. Di Medan, ikan mas didatngkan pada tahun 1905. Sementara itu, ikan mas mulai dikenal di Sulawesi pada tahun 1895 yang diawali dari daerah Tondano, Sulawesi Utara. Di Manado, ikan mas didatangkan pada tahun 1905. Pada tahun 1936, di Sulawesi Selatan, ikan mas mulai dipelihara di sawah. Di Pulau Bali, ikan mas pertama kali didatangkan pada tahun1903 dan mulai dbudidayakan di sawah pada tahun 1931. Di Pulau Flores, ikan mas didatangkan pertama kali pada tahun 1932.
Spesies ikan mas (Cyprinus carpio) masuk dalam genus Cyprinus dari famili Cyprinidae. Di berbagai tempat ikan mas disebut sebagai ikan tambra, raya atau ameh. Ikan memiliki bentuk badan memanjang, sedikit pipih ke samping (compressed). Mulut dapat disembulkan terletak di ujung tengah (terminal). Mempunyai sungut dua pasang. Menurut beberapa ahli ikan, sungut inilah sebagai ciri pokok untuk membedakan ikan mas koki (Carasius auratus) yang strainnya sudah banyak itu dengan ikan mas karper (Cyprinus carpio), yang mempunyai strain banyak juga. Sirip punggung panjang dengan bagian belakang berjari – jari keras. Letak permulaan sirip punggung ini berseberangan dengan permulaan sirip perut. Ikan mas mempunyai sisik relatif tipe Cycloid, mempunyai garis rusuk yang lengkap berada pada pertengahan sirip ekor. Gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) terdiri dari tiga baris yang berbentuk graham. (Susanto, 2004)





III. METODE PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan tempat
Praktikum fisiologi hewan air tentang pengamatan pergerakan sirip – sirip ikan dan mekanisme ikan mengambil makanan dan laju menghancurkan makanan di dalam lambung ini dilaksanakan pada hari Kamis, 24 Maret 2011 pukul 10.30 – 12.30 WIB. Bertempat di Laboratorium Biologi Perikanan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.

3.2. Bahan dan alat
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah ikan mas (Cyprinus carpio), daphnia, pellet, tubifex, dan udang
Alat yang digunakan pada praktikum adalah pena, pensil, penghapus, penggaris, serbet, buku gambar, nampan, gunting bedah, wadah dan buku penuntun praktikum.

3.3. Metode praktikum
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode pengamatan langsung terhadap objek yang akan diamati.



3.4. Prosedur praktikum
3.4.1 Pengamatan pergerakan sirip – sirip ikan
• Wadah disiapkan dan diisi dengan air secukupnya.
• Panjang SL dan TL diukur dan berat ikan uji ditimbang.
• Ikan uji dimasukkan ke dalam wadah tersebut.
• Pergerakan sirip – sirip ikan diperhatikan pada saat ikan diberi makan yang mengapung di lapisan permukaan air. Bentuk dan arah pergerakan sirip – sirip ikan tersebut diamati dan dicatat.
• Pergerakan sirip – sirip ikan diperhatikan pada saat ikan diberi makanan yang berada si dasar wadah. Bentuk dan arah pergerakan sirip – sirip ikan diamati dan dicatat.
• Pergerakan sirip – sirip ikan diperhatikan pada saat ikan diberi makanan yang dapat bergerak ke atas dan ke bawah. Bentuk dan arah pergerakan sirip – sirip ikan diamati dan dicatat.

3.4.2 Mekanisme ikan mengambil makanan dan laju menghancurkan makanan di dalam lambung.
• Wadah disiapkan dan diisi dengan air secukupnya.
• Panjang SL dan TL diukur dan berat ikan uji ditimbang. Panjang dan jenis ikan yang diberikan makanan juga diukur
• 4 – 5 ekor ikan uji juga dimasukkan pada wadah, tetapi ikan ini juga dipuasakan sebelum digunakan untuk percobaan.
• Jenis makanan tertentu dimasukkan pada wadah yang berisi ikan uji.
• Cara ikan tersebut memakan jenis makanan yang diberi makanan diaamati dan dicatat.
• Setelah 10 menit menyantap makanan, 2 ekor ikan diambil lalu dibunuh. Perutnya dibedah, jenis makanan yang terdapat dalam saluran pencernaan diamati dan dicatat. Amati berapa banyak jumlah makanan yang dimakan, bentuk masih utuh atau sudah hancur makanan diperhatikanukuran lebar bukaan mulut ikan diuji.














IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum pengamatan pergerakan sirip – sirip ikan dan mekanisme ikan mengambil makanan dan laju menghancurkan makanan di dalam lambung ini dapat diketahui hasilnya adalah sebagai berikut:
Ikan mas (Cyprinus carpio) diklasifikasikan kedalam ordo : Cypriniformes, family : Cyprinidae, genus : Cyprinus, species : Cyprinus carpio.




Gambar 1. Ikan mas (Cyprinus carpio)
no. Arah Pergerakan sirip yang bergerak
D P V A C
1 maju v v v v v
2 mundur v v v
3 keatas v v v v v
4 kebawah v v v v v
5 ke kiri v v v v
6 kekanan v v v v
Table 1. Pergerakan Sirip Ikan


No. jenis makanan sirip yang bergerak bentuk makanan setelah 5 menit bentuk makanan setelah 10 menit
D P V A C utuh setengah utuh hancur utuh setengah utuh hancur
1 Daphnia v v v v v v v
2 Tubiffex v v v v v v v
3 Pellet v v v v v v v
4 Udang v v v v v v



4.2. Pembahasan
Dalam melakukan gerakannya ikan menggunakan otot lurik atau otot rangka dan untuk mangarahkan gerakannya baik maju, mundur, ke atas, ke bawah, belok kiri, dan belok kanan, ikan menggunakan sirip. Pada saat bergerak tidak semua sirip pada ikan yang bergerak tetapi ada beberapa sirip ikan yang diam. Contohnya pada saat melakukan gerakan mundur, gerakan sirip dada pada ikan yang terlihat aktif, sedangkan pada sirip ainnya terlihat pasif atau bergerak karena adanya gaya dorongan yang dihasilkan oleh ikan tersebut.
Mekanisme ikan mengambil makanan dipengaruhi oleh jenis makanannya. Jika makanannya berupa daphnia, maka posisi ikan berada di tengah – tengah wadah karena sifat daphnia yang melayang – laying sehingga mekanisme ikan mengambil makanan cenderung maju. Jika makanan ikan berupa tubiffex, maka posisi ikan berada di dasar wadah karena tubiffex berada di dasar wadah sehingga mekanisme ikan mengambil makanan mengarah ke bawah. Jika makanan ikan berupa pellet, maka ikan berada di daerah permukaan wadah karena sifat pellet yang mengapung di permukaan perairan sehingga mekanisme ikan mengambil makanan ke atas. Jika makanan ikan berupa udang, maka posisi ikan berada di dasar wadah karena udang cenderung berada di dasar wadah sehingga mekanisme ikan mengambil makanan ke bawah.
Daphnia dan pellet yang dimakan ikan pada menit kelima terlihat setengah utuh dan pada menit kesepuluh telah hancur. Hal ini dapat terjadi karena 2 jenis makanan tadi tergolong cukup lunak dan ukurannya kecil sehingga enzim pada lambung ikan lebih cepat mencerna makanan tersebut. Sedangkan tubiffex pada menit kelima masih utuh dan pada menit ke sepuluh setengah utuh tetapi telah mengarah menjadihancur. Hal ini terjadimkarena ukuran tubiffex yang cukup besar dibandingkan daphnia, walaupun tubuh tubiffex lunak tetapi ukurannya yang panjang membuat proses pencernaan terjadi secara bertahap pada setiap bagian tubuh tubifex. Udang yang dimakan ikan pada menit kelima masih utuh dan pada menit kelima masih setengah utuh tetapi bentuk ikan masih terlihat jelas. Hal ini terjadi karena udang berukuran cukup besar dibandingkan jenis – jenis makanan yang lain dan udang memiliki pleura- pleura yang terbuat dari zat kitin sehingga proses pencernaan terjadi cukup lama.





V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Pergerakan pada ikan dipengaruhi oleh otot lurik atau otot rangka dan arah pergerakan dipengaruh oleh sirip – siripnya. Ikan yang menjadi objek praktikum adalah ikan kecil, ikan kecil langsung menelan makanannya dan untuk melihat laju menghancurkan makanan harus dilihat langsung dari lambungnya dengan cara dibedah. Hal ini dilakukan karenaikan kecil belum memiliki gigi geraham untuk menggerus makanan.

5.2. Saran
Didalam melakukan praktikum pengamatan pergerakan sirip – sirip ikan dan mekanisme ikan mengambil makanan dan laju menghancurkan makanan di dalam lambung penulis menyarankan agar untuk praktikum kedepannya semua praktikan dapat melakukan praktikum dengan serius terlebih dalam memperhatikan sirip ikan apa saja yang bergerak dan juga para praktikan harus memperhatikan asisten ketika menjelaskan cara kerja dalam menjalankan praktikum agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan praktikum dan akhirnya dapat memperoleh informasi yang akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Fujaya, Yusinta. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan. PT Rineka Cipta, Jakarta. 179 hal.
Khairuman, dkk. 2008. Budidaya Ikan Mas Secara Intensif. PT Agromedia Pustaka, Jakarta. 100 hal.
Rahardjo, S. 1980. Oseanografi Perikanan I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. 141 hal.
Susanto, Heru. 2004. Budidaya Ikan di Perkarangan. Penebar Swadaya, Jakarta. 150 hal.
Windarti, dkk. 2011. Buku Ajar Fisiologi Hewan Air. Universitas Riau, Pekanbaru. 70 hal.
Yuwono, E. dan P. Sukardi. 2001. Fisiologi Hewan Air. CV Sagung Seto, Jakarta. 64 hal.










L A M P I R A N








Lampiran 1. Alat – alat yang digunakan




Nampan serbet




Pena pensil


Penghapus penggaris